Friday, 25 September 2020


Rumah Cinta (5)

14 Jul 2020, 15:55 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Kelahiran Andre seakan membawa berkah buatnya.  Sejak Andre lahir rezekinya mengalir secara beruntun. 

Dia ingat sekali waktu mengantar istrinya ke rumah sakit untuk melahirkan Andre dengan motor Vespa yang belum lunas dicicilnya.  Dua tahun sesudah Andre lahir, dia sudah bisa membeli sebuah mobil Kijang bekas yang berumur lebih dari 10 tahun, sehingga dia mengantarkan istrinya melahirkan anaknya yang kedua dengan sedikit kemewahan.  Kini kariernya juga mulai menanjak.  Atasannya pensiun dan dia ditunjuk oleh Menteri untuk menduduki jabatan Eslon III yang ditinggalkan atasannya.  

Kantor yang tadinya harus berbagi dengan pejabat Eselon IV lainnya kini ditinggalkan.  Dia pindah ke ruangan tersendiri dengan luas yang memadai, 5 x 4 meter persegi.  Ruangan yang sudah lebih dari cukup untuk bekerja membawahi empat orang pejabat Eselon IV dan 16 orang stafnya. 

Sebuah meja tulis berukuran sedang, rak buku yang dipenuhi map dan meja komputer dengan komputer desktop IBM serta printer Epson dot matrix terletak dekat meja kerjanya.  Sebuah inter-com dan telepon yang bisa akses langsung ke luar juga jadi previllage-nya sebagai Eselon III.  Pokoknya fasilitas di kantornya lebih dari memadai.  Selain itu sebuah mobil kijang plat merah pun sudah berhak dia pakai untuk pergi dan pulang ke kantor. Mobil kijang pribadinya dipakai istrinya untuk bekerja di sebuah apotek di Cimanggis.   

BACA JUGA: Rumah Cinta (4)

                     Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Seakan-akan malaikat sedang sibuk menebar kebahagiaan buat Johan. Tiga tahun setelah menjabat Eselon III, sebuah rumah di Perumahan Karyawan yang dibangun di kawasan Depok juga diperolehnya setelah dia dinyatakan memenuhi syarat untuk mendapatkan cicilan rumah murah dari pemerintah.  Panitia Pengadaan Perumahan menentukan dia berhak untuk memperoleh fasilitas itu karena sudah bekerja di departemen itu lebih dari 10 tahun dan sampai sekarang belum memiliki rumah sendiri.  Waktu itu Andre masih berumur tujuh tahun dan adiknya Santi lima tahun.

Rumah mungil berukuran 45 meter persegi itu terletak di sudut. Ada kelebihan tanah yang agak lumayan yang akhirnya dia pakai untuk membuat toko kecil yang menjual keperluan sehari-hari.  Dia beruntung mendapat kepercayaan dari para pemasok barang yang menyimpan barangnya di sana dengan sistem konsinyasi, sehingga Johan tidak memerlukan modal besar.  Dengan modal kejujuran, toko kecilnya berkembang cukup pesat, apalagi karena tidak ada warung lain yang menjadi saingannya di kompleks perumahan yang cukup besar itu. Dalam syukuran yang dibuat pada saat pertama menempati rumah itu, Johan berdoa khusyuk.

“Ya Allah aku bersyukur atas rezeki yang telah Kau berikan kepada kami.  Jadikanlah rumah ini tempat kami untuk beribadah dan berbakti kepada-Mu, jadikanlah tempat ini untuk  membesarkan anak-anak kami agar mereka selalu sehat, dan menjadi anak yang berguna serta selalu ada di jalan-Mu.  Jadikanlah mereka sebaik-baiknya umat-Mu, jauhkan dari jalan yang tidak Engkau ridhoi dan selalu tunjukkan jalan yang lurus sesuai petunjuk-Mu.”

Walaupun dia seorang yang tidak mudah terbawa emosi, apalagi karena dia orang Batak yang terkenal tegar, kali ini Johan menitikkan air mata dan akhirnya berpelukan dengan istri dan anak-anaknya.  Inilah syukur yang tak terhingga karena tidak pernah dia membayangkan akan memiliki rumah, jika melihat harga rumah yang terus membumbung jauh dari jangkauan gajinya.

 ***

Jam 10 malam Johan belum tidur dan masih mengobrol dengan Tantri di halaman depan rumahnya.  Sebagai orang yang dipercaya menjadi Ketua RW, Johan sering ikut mengawasi kompleks walaupun tidak jauh-jauh ke luar dari rumahnya. Duduk malam-malam di luar adalah kebiasaannya. Meja kecil terbuat dari rotan sengaja dia geser ke luar untuk meletakkan dua buah cangkir berisi kopi panas.  Udara sejuk membuat badan mereka segar. Mereka ingin berlama-lama duduk di luar.  Kopi Medan kiriman adiknya itu menebar wangi yang menyegarkan. 

Sebulan sekali adiknya, kadang-kadang juga bapaknya, mengirim kopi kesukaannya. Hubungan Johan dengan bapak dan adik-adiknya itu sangat akrab sejak kecil.  Apalagi sesudah ditinggal ibunya pada umur yang sangat muda.  Dia baru lulus SMA waktu ibunya meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Ibunya menderita kanker rahim selama dua tahun sampai akhirnya dia meninggal sesudah lama hidup dalam penderitaan.  Perusahaan Perkebunan tempat bapaknya bekerja membantunya selama dalam pengobatan, bahkan sampai operasi dan diopname di rumah sakit berbulan-bulan.  Tetapi akhirnya Tuhan mengambilnya pada umur yang masih sangat muda.  Empat puluh delapan tahun.   

Daun-daun pohon kalimusada bergoyang.  Daun yang membentuk jari-jari tangan bercabang delapan itu menghiasi ujung halamannya.  Tiga pohon palem tupai masing-masing setinggi sekitar dua meter yang berdaun keriting berjejer di samping bangunan toko kecilnya itu tumbuh dengan suburnya.  Pelepahnya melengkung simetris membuat kombinasi tanaman di kebun kecil itu serasi. Sekeliling rumahnya bertebaran tanaman perdu yang mengandung repellent.  Tanaman hias Zodiak dan Lavender, dan tanaman untuk bumbu seperti selasih dan akar wangi berkelompok yang menurut Johan cukup efektif untuk mengusir nyamuk, mencegah nyamuk penebar demam berdarah bersembunyi di rumahnya.  Buktinya tak ada nyamuk yang mengganggu mereka selama duduk santai di halaman pada malam hari.

Johan selalu beranggapan semua yang ada di alam ini selalu ada pasangannya sehingga memberikan keseimbangan.  Dalam alam selalu ada musuh alami melalui proses memangsa atau membatasi. Tidak ada satu pun makhluk yang dominan menguasai alam.  Selalu ada positif dan selalu ada negatif. Ada dua sisi yang berlawanan atau saling melengkapi,  walaupun sering juga ada batas abu-abu di antara keduanya. Yang positif dan negatif itu berdampingan dan pasti ada maksudnya Tuhan mengaturnya demikian.  Kalau kedua sifat itu berinteraksi dan jika kerjasamanya diatur dengan baik, sehingga saling mendukung dan menguntungkan, maka manusia akan memperoleh manfaat. 

Kalau ada yang beracun pasti ada yang meredakannya.  Dan tempatnya pastilah tidak akan berjauhan.  Itu yang dipelajarinya dalam latihan Survival waktu Johan dan Tantri latihan Walawa dan Mahasiswa Pencinta Alam.   Konsep itulah yang mendasari Johan dan Tantri dalam menata rumah dan halamannya. Tanaman yang menghiasi halaman rumah mereka ditata sehingga tidak hanya indah untuk dipandang tetapi juga bermanfaat untuk kehidupan mereka.  Di bagian halaman yang agak teduh, di bawah pohon jeruk nipis dan jeruk purut ditanam lengkuas, kunyit putih dan lempuyang,  Sedangkan di tempat yang terang dan tersinari matahari langsung berjejer tanaman jahe, cabai rawit, mahkota dewa dan sereh wangi. Rumah kecil itu rimbun dan hijau.   

Halaman asri itu diterangi bulan hampir penuh yang menyembul di antara awan tipis yang pelan bergerak.  Bintang-bintang masih terlihat berkelip walaupun cahayanya tidak seterang seperti kemarin yang udaranya bersih, jernih dan tidak ada awan sama sekali. Rumah di atas tanah 300 meter itu terlihat apik dan bersih.  Dinding batako sederhana itu dilapis semen dan dicat krem, sedangkan di bagian depan dipercantik bata hias dari Tulungagung yang dibelinya di pinggir Jalan Ciputat Raya.  Rumah itu kelihatan cantik, apalagi jendelanya sudah dia tukar dengan jendela kayu yang kokoh dan dicat putih.  Inginnya dia pakai kayu jati, tetapi harganya tidak terjangkau.  Kayu kualitas baik semacam jati dan damarlaut atau meranti sudah jarang terlihat di toko bangunan, kalaupun ada harganya sangat mahal.  Johan juga telah memperluas bangunan rumahnya, dan kini rumah sederhana itu sudah mempunyai tiga kamar tidur.  

Dia ingin agar anak-anaknya mempunyai kamar tidur sendiri sejak kecil dan membiasakan untuk bertanggung jawab terhadap kebersihan dan kerapian kamarnya.  Ini pendidikan sejak dini, pikirnya.

Lampu hias berbola lampu tungsram  di kebun kecilnya menerangi halaman rumahnya yang bersih.  Lampu hias antik itu kacanya bening putih, berangka besi cor bersegi empat yang dicat hitam.  Cahayanya berwarna kuning membuat malam itu temaram dan menyejukkan.  Rumput yang ditanam berbatasan dengan tembok rumahnya tumbuh subur, hijau dan dipotong pendek. Johan sengaja menanam pagar hidup sekeliling rumahnya, sehingga pagar tanaman bambu piring yang tumbuh lebat dan dipangkas pendek itu menambah suasana menjadi lebih segar dan hijau. 

Sebagai pegawai negeri, hidup dengan kualitas seperti itu sudah dianggapnya sangat memadai. Andre dan Santi pun tumbuh dengan sehat dan kuat.  Tantri sangat telaten mengurus kedua anaknya.  Jam kerja di apotek tempatnya bekerja cukup longgar.  Biasanya  dia berangkat jam 9 dan sekitar jam 3 sore, dia sudah ada lagi di rumah.  Tantri tidak ingin bekerja di banyak apotek, seperti yang dilakukan kawan-kawannya yang lain. Menurutnya, hal itu tidak etis sama sekali.  Kawan-kawannya hanya datang sebentar di tiap apotek.  Dia pindah dari satu apotek  ke apotek lain dan pulang sebelum jam 2 siang. Itu perilaku yang tidak bertanggung jawab karena seharusnya mereka mengawasi secara keseluruhan kerja apotek  di tempat mereka bekerja. 

Johan dan Tantri sangat mengutamakan privasi. Waktu di rumah adalah waktu keluarga.  Oleh karena itu, membawa pekerjaan ke rumah sedapat mungkin mereka hindarkan karena akan mengganggu waktu mereka dengan keluarga.  Juga  pembantunya tidak tinggal di rumah. Selain tempatnya tidak memungkinkan, dia pun ingin waktu keluarganya di rumah tidak terganggu oleh orang lain.  Begitu dia datang ke rumah biasanya pembantunya diizinkan segera pulang.  Hari Sabtu dan Minggu adalah hari keluarga dan mereka selalu mengusahakan untuk melewati hari liburnya bersama-sama.

“Fungsi rumah bukanlah untuk tidur, tetapi untuk membangun keluarga bersama-sama, membina anak-anaknya dan membangun komunikasi di antara mereka,” pikir Johan.

Apa pun yang dia lakukan terhadap rumahnya selalu ditujukan untuk mendidik anak-anaknya dan membangun keutuhan keluarganya.  Andre dan Santi disediakan kamar yang leluasa sehingga bisa memuat tempat tidur dan meja belajar yang cukup besar.  Di sanalah kedua anaknya belajar mulai dari aturan keluarga sampai pelajaran sekolah.  Johan menghargai anaknya seperti menghargai orang dewasa.  Dia harus mengetuk pintu untuk masuk ke kamar anaknya.  Demikian pula sebaliknya.  Semua mempunyai privasi dalam aturan yang sama-sama mereka sepakati.  Kamar masing-masing seolah-olah wilayah kekuasaan penghuninya.  Ibarat Kedutaan Besar. Kendati pun demikian, Johan dan Tantri pasti datang ke tempat mereka setiap malam untuk menyampaikan rasa cinta dan mengucapkan selamat tidur.

Sejak kecil, Andre mendapat keistimewaan dari keluarga besarnya.  Demikian juga sejak masuk SD, dia menunjukkan kelebihannya dalam belajar.  Hobinya dalam bermain musik merupakan kekuatan genetik keluarga Johan yang menurun kepada anaknya.  Sejak kelas tiga SD, Andre sudah mulai belajar bermain gitar.  Dia main begitu saja tanpa sekolah atau les, hanya diajari beberapa kunci nada dasar, lalu dia mencari sendiri dan akhirnya mampu mengiringi orang menyanyi. 

Ini adalah bakat alami seperti juga yang melekat pada bapaknya.  Melihat begitu besar bakatnya, Johan memasukkannya ke kursus musik dan menyanyi. Sementara bakat bermain musik pada Tantri, seperti sama sekali tidak tampak.  Dia pintar menikmati musik yang sederhana dan gembira.  Malah dia suka dengan lagu-lagu dangdut dan seriosa.  Santi juga kelihatannya mendapatkan turunan bakat dari ibunya.  Dia cekatan, pintar dan teliti.  Tetapi kalau soal bermain musik dia termasuk bukan ahlinya, walaupun suka menyanyi, pintar mendengarkan dan menikmati.  

Rumah yang asri itu sering dihangatkan oleh keluarganya yang menyanyi bersama dan diiringi oleh gitar yang dimainkan oleh Johan dan Andre.  Tetangga juga merasa kehadiran keluarga ini sebagai bagian dari mereka karena tidak pernah ada masalah sama sekali dalam hal bertetangga.

 

(Bersambung ke: Charles Ingallas di Keluarga Johan)

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018