Friday, 25 September 2020


Rumah Cinta (4)

13 Jul 2020, 05:57 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Sejak lulus jadi sarjana, Johan tidak pernah membayangkan untuk bekerja di bidang yang aneh-aneh. 

Jurusan Hubungan  Internasional (HI) di Universitas Pajajaran yang ditekuninya adalah jurusan yang termasuk banyak peminat.  Mahasiswanya banyak. Pada umumnya mereka lebih bergaya, seolah-olah sudah menjadi diplomat dibandingkan rata-rata mahasiswa lainnya. Style-nya beda. Gaya mereka mirip mahasiswa Fakultas Sastra atau Psikologi.  

Johan agak berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa itu. Dia hidup serba sederhana dan hanya punya modal semangat untuk kuliah tanpa berpikir nantinya akan menjadi apa. Kultur masyarakat Batak memang sangat menghargai pendidikan. Orang pulang kampung setamat perguruan tinggi selalu jadi kebanggan seisi kampung. Mereka berkumpul dan bertanya tentang di mana, apa dan bagaimana sampai berhasil sekolahnya. Kultur itulah yang membawa dia bersemangat mengejar pendidikan walaupun harus diselang seling dengan bekerja serabutan, membanting tulang, mencari uang. 

BACA JUGA: Anak Idaman (3)

                    Biodata Memed Gunawan dan 12 Karya Buku Novel dan Puisinya

Sebagian besar mahasiswa HI mengharapkan kelak mereka jadi diplomat dan bekerja di Departemen Luar Negeri atau perusahaan multinasional.  Sayangnya Johan mempunyai kendala bahasa Inggris yang sangat besar.  Bahasa Inggrisnya selalu terpuruk di angka 5,6 dan 6,5 sejak dia di SMP sampai dengan Perguruan Tinggi.  Kendala inilah yang membuatnya tahu diri.  Dia tidak mau bekerja di Departemen Luar Negeri dan jadi diplomat walaupun dari segi kemampuan komunikasi dia boleh dikatakan tidak ada tandingannya.  

Johan tidak bisa dianggap main-main.  Selain jadi juara berdebat, dia juga juara pidato dalam kompetisi yang diadakan universitas dalam memperingati dies natalisnya.  Ini seperti bukan hanya talenta individual. Ini talenta dan keistimewaan sebuah kelompok dan kultur. Satu kultur yang menghargai keterbukaan untuk mengemukakan pendapat dan berdebat tanpa terlalu dibatasi oleh aturan hormat-menghormat yang mengikat. 

Dalam adat Batak tidak dikenal tuan yang mulia dan hamba sahaya. Istilah kau dan aku menjadi awal sebuah keterbukaan untuk mengemukakan pendapat secara jujur dari dalam hatinya. Itu barangkali yang membuat mereka melahirkan banyak pengacara terkenal. Johan pun mempunyai talenta serupa.  Hanya saja kalau berbicara dalam bahasa Inggris, dia minta ampun, ungkapan dan tatabahasa  yang sederhana saja selalu tidak karuan.  Oleh karena itu dia menempatkan dirinya di tempat yang menurutnya lebih sesuai.

Hanya dua bulan menganggur. Sesudah lulus menjadi sarjana, dia mendapat pekerjaan di satu departemen besar dan ditempatkan di Bagian Humas.  Ini tempat yang paling cocok menurut pemikirannya karena bakatnya masih bisa tersalurkan dengan baik tanpa dikendalai oleh bahasa Inggrisnya yang sampai sekarang masih belum juga berkembang. 

Di tempat itulah kariernya dipertaruhkan.  Dengan kemampuan berkomunikasi dan menjalin hubungan baik dengan semua orang, dia menjadi kepercayaan atasannya untuk melakukan hubungan kerja dan melakukan lobi dengan instansi lain.  Hubungan baik dengan DPR dan Departemen Keuangan, misalnya, adalah satu keharusan sehingga program yang diusulkan oleh departemen dapat didikusikan dengan baik tanpa ada pertanyaan yang aneh-aneh. 

Demikian juga hubungan dengan mass media.  Johan berkewajiban untuk mempromosikan berbagai program dan kegiatan agar diketahui masyarakat dan bersamaan dengan itu harus memberikan penjelasan apabila ada persepsi yang salah tentang program dan kegiatan itu dari masyarakat.  Johan juga diharuskan meredakan berita-berita yang miring tentang bidangnya dan kinerja departemen.  Ini lumrah.  Semua instansi memerlukan komunikasi yang saling mendukung dan bukan saling menjatuhkan.

Dengan kepiawaiannya itu, hanya dalam waktu empat tahun, Johan sudah dipercaya untuk menduduki Jabatan Eselon IV, Kepala Sub Bagian Hubungan Antar Instansi-Dalam-Negeri. Pekerjaannya tidak gampang karena setiap ada permasalahan yang timbul, dialah yang akan dipanggil dan yang akan menjadi tulang punggung untuk mengatasinya. 

Menteri memanggil Sekretaris Jenderal, Sekretaris Jenderal memanggil Kepala Biro Humas, Kepala Biro Humas memanggil Kepala Bagian Hubungan Antar Instansi, dan akhirnya Kepala Bagian itu akan memanggil dia.  Jadi bawahan itu memang tidak enak.  Kalau soal pekerjaan, arah disposisinya akan terus meluncur dari pejabat paling tinggi ke pejabat paling rendah dengan cepat, tetapi kalau usulan yang naik dari bawah akan berjalan seret. Sangat lambat.  

Pantaslah untuk disimpulkan bahwa kinerja departemen itu sebenarnya hasil kerja pejabat Eselon IV.  Pejabat yang paling rendah.  Hanya keputusan diambil oleh pejabat paling atas.  Tetapi kalau ada sanksi, tanggung jawab ditelusuri sampai ke pejabat yang membuat rumusan itu.  Itu menurut Johan.

Johan selalu bicara lugas dan terus terang. Caranya menyampaikan gagasan atau memberi saran, disukai banyak orang.  Mungkin dia punya talenta khusus yang diberikan Tuhan.  Keahliannya dalam membangun jaringan dan hubungan kerja itu sudah diperlihatkan sejak dia mahasiswa. 

Cara kerjanya begitu efisien, sehingga hampir semua persoalan di kantor atau di dalam kehidupan rumah tangganya dapat diselesaikan dengan baik, tanpa harus meninggalkan konflik.  Dia sendiri tidak terlalu banyak mempersoalkan urusan duniawi.  Hanya bekerja dan bekerja.  Rezekinya mengalir begitu saja tanpa dia kejar setengah mati. 

Yang menjadi hartanya setelah lima tahun bekerja sampai saat dia mau kawin itu hanyalah sebuah motor Vespa 125 cc yang dia kredit melalui koperasi karyawan.  Harga tunainya waktu itu 725 ribu rupiah, tetapi dia mencicil selama tiga tahun dengan cicilan sebesar hampir 30 ribu rupiah sebulan.  Rumahnya masih mengontrak di pinggiran kota Depok, sehingga setiap hari dia harus naik motor dari rumahnya lebih dari satu jam untuk sampai ke kantornya.

Perkawinannya dengan Tantri berdasarkan pikiran yang rasional.  Mulai dari logika dulu, dengan memasukkan pertimbangan umur, pekerjaan, masa pensiun dan anak yang akan mereka besarkan.  Lalu cinta datang menyusul. Bukan diawali hubungan cinta yang bergelora yang dibangun seperti remaja pada umumnya.

Mereka berkenalan sejak keduanya aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa, khususnya di Wajib Latih Mahasiswa atau Walawa.  Keduanya hanya teman biasa.  Karena keduanya merasa sudah semakin berumur dan masing-masing tahu, bahwa mereka mempunyai pandangan hidup yang sama, akhirnya tanpa melalui kisah yang romantis, mereka berjanji untuk sehidup semati.  Tantri adalah mahasiswa Jurusan Farmasi, Fakultas MIPA yang hanya terpaut satu tahun lebih muda darinya.  

Perkawinan mereka pun dilakukan dengan sangat sederhana dengan mengambil tempat di masjid kemudian jamuan makan siang di rumah.  Tidak banyak kawan-kawannya yang diundang, terbatas hanya pada keluarga dekat saja.  Orang tuanya dari Medan datang naik pesawat ke Surabaya dilanjutkan dengan perjalanan darat ke Malang dan saudaranya yang lain naik kapal laut, sehingga memerlukan waktu tiga hari perjalanan.  Tulangnya dan si Monang datang pada hari perkawinannya dan pulang pada hari yang sama sesudah selesai acara makan siang.

Johan dan Tantri ingin mereka menikah di Bandung supaya gampang, tetapi orangtua Tantri keukeuh ingin pernikahan mereka dilakukan di Malang.  Tantri adalah anak perempuan satu-satunya sehingga orangtuanya merasa punya kewajiban untuk menikahkan di rumahnya.  Setelah lima tahun bekerja, Johan belum mempunyai banyak uang, kalaupun ada tabungan, dia persiapkan untuk bekal selepas perkawinannya. Mereka bertekad untuk membiayai perkawinannya sendiri tanpa membebani keluarga kedua belah pihak.

***

(Bersambung)

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018