Friday, 25 September 2020


Anak Idaman (3)

12 Jul 2020, 10:40 WIB

Novel Memed Gunawan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Agak lama mereka menunggu Tantri hamil.  Selama dua tahun mereka menunggu dengan harap-harap cemas. 

Tantri agak murung dan Johan mulai berhati-hati kalau berbicara dengan bapaknya agar dia tidak menanyakan lagi mengapa istrinya belum juga hamil.  Kekhawatiran Johan juga disebabkan oleh cerita banyak orang bahwa perempuan yang mengambil bidang farmasi suka mandul karena selalu bekerja di lingkungan bahan kimia.  

“Tetapi buktinya teman-temannya yang jadi apoteker pada punya anak,” pikirnya.  

Berbagai cara sudah dilakukan oleh sepasang suami istri itu untuk segera punya anak.  Konsultasi ke dokter kandungan sudah dilakukan beberapa kali, tetapi dokter tetap mengatakan keduanya sehat-sehat saja.  Hasil laboratorium menunjukkan, bahwa sperma Johan bagus, sehat dan konsentrasinya tinggi. Tantri juga subur tidak ada kelainan dalam rahim maupun saluran rahimnya. 

BACA JUGA: Anak Idaman (2)

                    Biodata Memed Gunawan dan 12 Karya Buku Novel dan Puisinya

“Jangan terlalu dipikirkan sehingga kalian jadi stres, karena stres berpengaruh besar bagi kesehatan si ibu dan kejiwaan si bayi.  Insya Alah nanti akan datang juga waktunya,” kata dokter ahli kandungan membesarkan hati mereka. 

Kehamilan Tantri yang pertama sesudah dua tahun menunggu disambut dengan sukacita.  Berita baik ini disampaikan kepada kedua orang tua dari pihak Johan maupun Tantri.  

“Tantri, kita akan punya anak.  Anak kita yang kita tunggu-tunggu,” katanya.

Orangtua kedua belah pihak semuanya bergembira menyambut berita akan kehadiran cucu pertama mereka.  Walaupun masih dalam kandungan. 

“Kalian tahu juga rupanya yang sedang kami tunggu-tunggu. Bilang selamat dari kami buat istrimu, Johan,” kata bapaknya di telepon.

Hanya saja peristiwa yang sangat disyukuri oleh kedua pasangan muda itu berujung kesedihan. Tantri mengalami keguguran pada saat kehamilannya baru menginjak tiga bulan. Tiba-tiba darah membasahi bagian bawah pahanya ketika Tantri diantar Johan ke tempat kerjanya di sebuah apotek di Cimanggis.  Johan langsung membawa istrinya ke rumah sakit terdekat dan akhirnya mereka berdua menangis di rumah sakit ketika dokter kandungan mengatakan kehamilannya tidak bisa diselamatkan.  Tantri akhirnya dikuret sehingga perlu tinggal di rumah sakit selama dua hari.  

Tantri dan Johan harus menunggu satu tahun sampai Tantri hamil lagi.  Dalam kurun waktu menunggu itu mereka terus dilanda kekhawatiran, takut sesudah dikuret akan susah hamil lagi.  Katanya kesuburan perempuan menurun lewat umur 30 tahun. Oleh karena itu ketika Tantri terlambat menstruasi, mual dan muntah-muntah, Johan bersukacita bukan main, padahal waktu itu masih belum diketahui jika isterinya hamil.  Tes kehamilan yang dilakukannya sendiri di rumah dengan kit sederhana menunjukkan bahwa Tantri betul-betul hamil.  Mereka kagum pada alat sederhana itu.  Hanya dalam waktu 10 menit hasilnya langsung bisa dilihat.  Positif.  Dan Johan berteriak saking gembiranya.  Dipeluknya Tantri dengan sukacita. 

Kegembiraan Johan yang berlebihan ini membuat Tantri agak khawatir, bahkan takut seandainya harapan suaminya tidak jadi kenyataan.  

“Sabar, Bang.  Kita pastikan dulu.  Aku lebih baik ke dokter untuk diperiksa ulang,” katanya.

Siang itu Johan membawa istrinya naik taksi ke dokter dan ternyata, juga hanya dalam hitungan menit, perawat di sana memberitahukan, hasilnya positif hamil.

“Selamat Bapak dan Ibu, anak pertama, ya,” kata perawatnya ramah.

“Ya, anak kami yang pertama.  Doakan kami, ya,” kata Johan dan perawatnya mengangguk sambil tersenyum.

Sejak itu Tantri diperlakukan dengan sangat hati-hati.  Mungkin kandungannya lemah sehingga mudah terjadi keguguran.  Selama empat bulan, Tantri sementara harus tinggal di rumah.  Johan melarang Tantri bekerja dan banyak beraktivitas.  Johan sangat keras dalam menjaga istrinya kali ini.  Dia tidak ingin kejadian yang lalu berulang kembali.

***

Johan tergopoh-gopoh masuk ruangan bersalin ketika istrinya berteriak memanggilnya.  Dia mendapatkan kain sarung istrinya sudah basah.  Ketuban pecah.  Johan lari seperti kesetanan, mencari perawat.  Kebetulan sekali dokter ada di ruangan sebelah dan dia segera datang.  

“Tenang Pak, jangan panik.  Hal seperti ini sering terjadi dan tidak menjadi masalah.  Ibu juga tenang, ya.  Kita akan infus saja untuk merangsang  kelahiran,” kata dokter dengan kalem.

Johan tak hendak beranjak dari samping istrinya ketika dokter dan perawat memasang infus.  Jarum ukuran sedang itu dimasukkan ke nadinya di lipatan sikutnya.  Tantri sedikit menyeringai ketika jarumnya belum menemukan nadinya.  Dia agak kurus, sehingga perlu dua kali perawat itu menemukan nadinya.  

“Nah sudah, Bu.  Kita tunggu beberapa saat dan ibu harap bersabar, ya,”  sambung perawat itu lagi.

“Bagus, bapak tunggu di  sini sambil membantu kalau ada yang diperlukan oleh Ibu.  Laki-laki tahu enaknya saja ya, Bu,” kata perawatnya bergurau.

Tantri memerlukan beberapa kantung infus dalam waktu beberapa jam sampai dia mulai merasakan mulas. Akhirnya waktu melahirkan pun tiba.  Jam 2 siang Tantri mulai merasakan perutnya mulas. Proses kelahiran itu demikian panjang. Mendebarkan. Dan itu selalu diingat Johan.  Tantri mulai kesakitan ketika kontraksi otot perutnya semakin sering.  Keringat membasahi dahinya.  Akhirnya saat yang paling menegangkan itu tiba. Tantri mengerang. Tangan kirinya memegang besi tempat tidur. Tangan kanannya memegang tangan Johan kuat-kuat. Ketika dokter minta istrinya mengedan, Johan ikut mengedan seakan dia sedang membantunya.  

“Lagi, bu.  Ambil nafas panjang. Mengedan lagi,” kata perawat yang membantunya.

Tantri melakukannya berkali-kali. Lalu, perlahan, kepala makhluk kecil berambut tipis menyembul.  Johan terus memperhatikan. Jantungnya makin bergemuruh.

“Sekarang yang terakhir, bu.  Jangan ditahan! Lagi .... terus ....  Bagus. Ya! Lagi ..., lagi ....   Terus lagi. Jangan berhenti ... ya ... ya ....”

“Alhamdulillah ...,” kata dokter dan suster hampir bersamaan.  

Ketegangan Johan masih belum mereda ketika tangis bayi terdengar keras. 

Dokter itu berkata, “Laki-laki!”  Dengan cekatan dokter mengangkat bayi merah itu dan menyerahkannya kepada suster.

“Selamat ibu dan bapak! Selamat jadi orangtua baru,” kata dokter sambil menoleh ke arah keduanya. 

Johan menengadahkan kedua tangannya di atas kepala, berdoa dan bersyukur kepada Tuhan.  Bayi yang masih berlumuran darah itu dibawa suster untuk dibersihkan.  Johan pun ikut ke mana pun suster itu pergi.  Dia takut kalau bayinya tertukar. Menurutnya, bayinya adalah yang terbaik di dunia.

“Bapak temani ibu saja, ya.  Biar saya yang mengurus bayi ini,” kata suster dengan ramah.

Johan merasa malu mendengar kata-kata suster itu.  Segera dia kembali menemui istrinya yang masih kelelahan.  Badannya basah berkeringat. Dari dahinya mengalir keringat menetes ke lehernya.  Johan mengeringkan dahi dan leher istrinya, memeluk dan mencium keningnya.  

“Laki-laki, Tantri.  Bayi kita sehat dan sempurna. Laki-laki!” katanya. 

Johan menyaksikan betapa besar kebahagiaan istrinya.  Kesakitan melahirkan itu seakan tidak dirasakannya setelah bayi laki-lakinya yang berukuran di atas rata-rata itu didekapnya, sementara dokter menjahit luka sobekan tanpa memberikan anastesi sama sekali. 

 (Bersambung ke: Rumah Cinta)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018