Friday, 25 September 2020


Charles Ingallas di Keluarga Johan (6)

15 Jul 2020, 12:45 WIB

Novel Memed Gunwan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Novel JALAN PRAHARA I Oleh Memed Gunawan I Penerbit Pena Sastra

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Tantri tidak pernah belajar secara khusus bagaimana menangani bayi dan mengajar anak. Semuanya datang begitu saja melalui nalurinya.  Barangkali pengalaman yang dia rasakan selama diasuh oleh orangtuanya akan menjadi patokan dalam membesarkan anak-anaknya. 

Tetapi Johan berpikir lain. Figur ayah yang sangat disukai Johan adalah Charles Ingalls dalam film seri Little House on the Prairie yang dimainkan oleh Michael Landon.  Inilah film yang menurutnya paling baik dan mendidik sepanjang yang pernah dia lihat.  Dia belum pernah melihat film sebaik itu lagi dalam hidupnya. 

Semua pemainnya berperan begitu pas memerankan kehidupan keluarga yang harmonis. Karen Grassle, Melissa Sue Anderson, Melissa Gilbert, dan Lindsay Greenbus berhasil memainkan perannya dengan baik mendukung keberhasilan film itu.  Mereka main dengan begitu alami.  Dalam kesederhanaan dan tidak dibanjiri oleh harta kekayaan, mereka membangun keluarga yang harmonis dan bahagia.

BACA JUGA: Rumah Cinta (5)

               Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

Ada kegembiraan, kesedihan dan kekecewaan yang begitu wajar yang dialami oleh sebuah keluarga. Ini pelajaran bahwa sumber kebahagiaan keluarga yang utama bukanlah harta.  Lihatlah keluarga Nels Oleson yang mempunyai toko satu-satunya di kota kecil itu selalu cekcok dengan keluarganya, walaupun segala punya dalam ukuran harta pada saat itu. 

Pokoknya dia tidak bosan-bosannya menonton film bertema keluarga itu.  Film ini memberi pelajaran dalam banyak hal.  Betapa dia hafal bagaimana Charles Ingalls memberi hadiah Natal berupa pelana kuda buat Laura supaya dia bisa naik kuda kesayangannya, sementara  Laura Ingalls menjual kudanya kepada Mr. Oleson karena ingin memberikan ibunya hadiah Natal berupa kompor yang besar.  Begitu hadiah dibuka bersama-sama semuanya tertegun dan sedih. Sangat mengharukan. 

“You have a bad taste,” kata Harriet Oleson kepada suaminya suatu saat waktu mereka bertengkar.

“You are right,” kata Nels sambil memandang muka istrinya yang memang tidak cantik itu dengan tajam.

Johan ingin menjadi ayah semacam Charles Ingalls yang mendidik anaknya dengan baik, rasional, tidak memberikan harapan yang di luar batas kemampuannya, mensyukuri apa yang dipunyai dan selalu belajar dari pengalaman.  Charles digambarkan sebagai bapak yang sangat terbuka dan demokratis yang memberikan semua anggota keluarganya kebebasan untuk mengeluarkan pendapat. 

Johan tidak melihat itu terjadi di banyak orang tua dan bapak yang dia kenal.  Konsep bapak dalam keluarga pada masa  kecilnya adalah seorang yang paling berkuasa, otoriter dan mengambil keputusan tanpa harus berkonsultasi pada anggota keluarga lain.  Dia merasakan itu sejak masa kecilnya.  Dia menjadi penurut sebagian karena merasa takut bukan karena mengerti. Mungkin bapaknya juga dilanda stres setelah ditinggal ibunya.  Sesudah ibunya meninggal,  bapaknya tidak kawin lagi, tetapi hanya berkonsentrasi mengurus empat anak laki-laki dan tiga anak perempuannya.

Johan adalah produk konsep bapak seperti itu.  Mau tidak mau.  Suka tidak suka.  Dan sekarang dia ingin ada perubahan.  Ada demokrasi dalam keluarga yang memungkinkan semua terlibat dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan rumah tangga.  Semua mempunyai peran.  Semua mempunyai andil.  Semua mempunyai hak suara, walaupun dia sebagai kepala keluarga akan mengambil keputusan akhir. 

Semua juga bisa protes kalau dianggap ada aturan yang merugikan.  Keluarga Johan bahkan memperluas aturan itu, sehingga berlaku juga bagi pembantunya, Mbak Ani yang sudah bekerja selama 11 tahun di rumah keluarga itu.  Sejak dia bekerja, Johan memberikan libur satu hari setiap minggu.  Status Mbak Ani sama seperti pegawai yang bekerja di sektor formal, PNS atau pegawai perusahaan-perusahaan swasta.  Dia menetapkan gaji standar yang berlaku pada umumnya di lingkungan kompleks, tetapi Johan memberikan bonus lain sesuai dengan hasil pekerjaan pembantunya. 

Mbak Ani juga mendapatkan bonus ekstra tergantung besarnya pendapatan tambahan yang diterima Johan dan Tantri.  Pendapatan Johan, selain gaji resminya dari departemen memang berfluktuasi tergantung usaha sampingannya.  Tergantung kepada pendapatan Tantri dan penghasilan dari toko kecilnya.  Kalau dihitung dengan bonusnya memang gaji Mbak Ani jauh lebih besar daripada penghasilan pembantu lain pada umumnya.  Tetapi itu tidak merugikan keluarga Johan, karena ternyata Mbak Ani bekerja lebih baik dan lebih giat. Gaji Mbak Ani merefleksikan produktivitas kerjanya.  Dan kejujurannya. Persis seperti dalam buku teori ilmu ekonomi.

Sebagaimana seorang ayah, kecintaan Johan pada anak-anaknya tidak ada habis-habisnya.  Ada yang istimewa. Khusus.  Yang mungkin tidak dirasakan oleh ayah yang lain, yaitu karena begitu susah dan beratnya perjuangan mereka untuk mempunyai anak.  Belum lagi hebatnya kegelisahan selama  menunggu sampai akhirnya mereka memperoleh kepercayaan Tuhan untuk memperoleh anak.  Empat tahun menunggu adalah waktu yang panjang. 

Sejumlah kejadian yang mengkhawatirkan dan mencekam adalah pengalaman yang tidak bisa mereka lupakan. Keguguran dan perdarahan yang dialami Tantri, ketegangan panjang waktu hamil Andre, membuat Johan dilanda stress yang tinggi seolah Tuhan memberinya ujian sebelum dia dipercaya untuk mendapatkan titipan. Setiap saat melihat anaknya Johan selalu membayangkan pengalaman masa lalunya dan kejadian yang  begitu beragam yang menghiasi catatan hidupnya.

“Bagaimana perasaanmu sesudah punya anak, Johan?” tanya bapaknya di telepon sesaat setelah Tantri melahirkan.

Bapaknya bertanya seperti itu sesudah dia mengucapkan selamat kepadanya dan menyatakan betapa bahagianya dia mendapatkan cucu baru.

“Aku seperti sedang mimpi, Amang.  Aku bingung dan aku takut,” jawab Johan dengan nada khawatir.

“Itu wajar buat seorang bapak baru, aku juga mengalami hal serupa,” jawab bapaknya. 

“Mengapa kau takut.  Coba ... coba kau jelaskan sama aku.”

 “Takut karena dihadapkan pada tanggung jawab yang besar. Aku tak mau anakku tidak menjadi anak yang baik, Amang,” jelasnya.

“Tetapi itu kekhawatiran yang bagus. Itu artinya kau bertanggung jawab. Kau benar-benar merasa bertanggung jawab untuk membesarkannya.  Kau tetap teruskan dengan tekadmu yang baik itu.”

“Tetapi kau tidak perlu takut.  Kau punya bekal pendidikan yang jauh lebih baik dari bapakmu.  Hadapi dunia ini karena tidak ada jalan lain.  Kau sudah ada di dalamnya dan hidup di sana.  Itulah tugas manusia hidup, Johan.  Aku cuma bisa berdoa,” pesan bapaknya. 

Itu adalah pesan bapaknya yang telah membesarkan dia dan keenam adiknya dengan tertatih-tatih.  Sebagai seorang pegawai Perusahaan Perkebunan Besar di Labuhan Batu bapaknya sebenarnya memperoleh pendapatan yang lumayan.  Dia dapat gaji bulanan yang cukup besar. Jauh lebih besar dibandingkan dengan gaji pegawai negeri. 

Dapat gaji ke tigabelas, dapat tunjangan satu bulan gaji pada saat anak masuk sekolah sekitar bulan Agustus, dan dapat bonus pada akhir tahun kalender perusahaan.  Tetapi gajinya yang dibagi untuk 7 anaknya yang semuanya sekolah  itu sama sekali tidak mencukupi.  Johan hanya dapat kiriman uang dari bapaknya sampai tahun ke dua.  Sesudah itu dia harus banting tulang mencari uang.  Sekali-sekali dia mendapat bantuan dari tulangnya yang cukup kaya di Jakarta, tetapi dia merasa bantuan itu tidak menjadi andalannya. 

“Sekarang adalah giliranku menjadi bapak,” pikirnya.

Semua yang dimilikinya dicatat satu demi satu dalam kepalanya, semuanya disiapkan untuk membesarkan anaknya.  Secara materi apa yang dia punyai tidak banyak berarti.  Tetapi rasa cinta dan keinginan untuk membesarkan dan mendidik anaknya tak ada yang bakal menandinginya.  Semuanya diperuntukkan bagi anak buah hatinya.

“Akulah ayah yang terbaik di dunia.  Anakku akan kubesarkan dengan kasih sayang.  Kudidik dengan penuh tanggungjawab, dan kubekali ilmu dengan segala kemampuan yang aku punya,” cetusnya dalam hati.  

(Bersambung)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018