Sunday, 09 May 2021


Jadi Icon Cilegon, KWT Tanjung Sekong Kembangkan Jagung Pulut  

24 Apr 2021, 09:56 WIBEditor : Yulianto

Jagung pulut kini jadi icon Kota Cilegon | Sumber Foto:Regi

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Cilegon---Jagung pulut kini menjadi icon baru Kota Cilegon Provinsi Banten. Komoditas ini terus dikembangkan di kota paling ujung Barat Pulau Jawa ini. Salah satunya oleh Kelompok Wanita Tani (KWT)  Tanjung Sekong  Kelurahan Lebak Gede, Kecamatan Pulomerak.

Emi Sahlani, pengurus KWT Tanjung Sekong mengatakan, saat ini permintaan jagung pulut terus meningkat. Jagung pulut yang dihasilkan KWT yang dikelola rasanya berbeda dari jagung pada umumnya.

Banyaknya permintaan, Emi mengaku, membuat pihaknya yang mengelola jagung pulut kewalahan untuk memenuhi permintaan. “Kewalahan, permintaan dari pembeli banyak, bahkan banyak pembeli dari luar daerah yang membeli buat oleh-oleh mereka di kampung halamannya,” katanya.

Menurutnya Emi, saat ini lahan yang dikelola baru ada sekitar 1.500 meter. Karena itu ia berharap akan ada KWT lain yang bermitra mengembangkan. “Saya sih berharap ada KWT lain yang ingin membudibudayakan menanam jagung pulut ini agar permintaan dapat terpenuhi,” ujarnya.

Sarbini, Penyuluh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Cilegon mengatakan, saat ini KWT Tanjung Sekong yang menjadi binaannya tengah  mengembangkan jagung pulut di lahan pekarangan dan lahan perusahaan.

“Jagung pulut sudah jadi unggulan program dinas tahun ini. Lahan untuk jagung pulut di Kecamatan Pulomerak mencapai 5.000 meter tersebar di KWT dan kelompok tani, “ ujarnya.

Mengenai benih, Sarbini mengatakan, petani tak lagi mengalami kesulitan, selain menghasilkan sendiri,  benih bisa mudah diperoleh di kios terdekat.

Menurut Sarbini jagung warna ungu dan putih dengan rasa pulen seperti ketan ini sangat tinggi peminatnya. Bahkan seringkali permintaan lebih tinggi dibanding produksi.

“Pemasaran dilakukan baik secara  individu atau pabrik dan kerjasama dengan pasar tani DKPP. Harga dipatok berdasarkan  gradenya.  Harga grade A  Rp 7.000 rupiah, B  Ro 6.000  dan grade C Rp 5.000 rupiah, “ tuturnya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, ke depan harus ada daerah sentra-sentra komoditas, dengan ditanganinya hulu sampai hillir. Dengan cashflow dan perencanaan yang baik agar segalanya berjalan dengan baik dan menguntungkan bagi petani. Untuk itu Menurut SYL perlu keseriusan dan kerjasama semua pihak.

Mengenai peningkatan produksi hasil pertanian Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi menyampaikan, kekuatan utama pertanian Indonesia berada di pundak petani dan penyuluh. “Kalau produktivitas tinggi, sudah pasti penyuluhnya aktif,” katanya.

Untuk itu melalui Kostratani diharapkan penyuluh bisa mengidentifikasi potensi komoditas unggulan lokal yang bisa mengungkit pendapatan dan kesejahteraan petani. Dengan demikian, Dedi yakin pertanian Indonesia akan bertansformasi menjadi pertanian unggul.

Reporter : Regi (PPMKP)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018