
Ani Andayani, plant nutrition specialist
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Salah satu tanaman sehat yang bisa dikonsumsi langsung baik sebagai lalapan maupun campuran salad adalah Lettuce atau Selada. Jenis sayuran ini mengandung banyak mineral dan vitamin yang bermanfaat bagi kesehatan apabila rutin dikonsumsi dalam jumlah tertentu.
Budidaya lettuce ini tidak terlalu sulit dan bisa dilakukan dengan cara hidroponik sistem DFT (Deep Flow Technique). “Hidroponik sistem DFT merupakan salah satu metode kultur menggunakan air sebagai media dan persediaan nutrisi,” kata Plant Nutrition Specialist, Dr. Ani Andayani saat pelatihan Hidroponik Tabloid Sinar Tani sesi ke 5 (14/8).
Menurut mantan Staf Ahli Menteri Pertanian ini, prinsip kerja teknologi ini adalah mensirkulasi larutan nutrisi dan aerasi secara kontinu selama 24 jam pada rangkaian aliran tertutup menggunakan aerator bertenaga listrik.
Ani menjelaskan, untuk budidaya hidroponik lettuce dengan model DFT, langkah awal adalah dengan penyiapan green house sederhana menggunakan paranet shading 15 persen sebagai naungan atau tudung. Sedangkan bedengan sebagai media atau tempat tumbuh tanaman di buat dengan ukuran 50 cm dan panjang 4 meter.
“Namun harus dipastikan tidak terjadi kebocoran pada kontainer bedengan,” ujarnya mengingatkan. Untuk menutup bedengan lanjut Ani, bisa menggunakan sterofoam yang tebalnya 3 cm.
Untuk harga sterofoam ukuran lebar 1 meter dengan panjang 2 meter sebesar Rp 28.000. Ukuran tersebut cukup untuk menutup 2 bedengan atau kontainer media tanam. Selanjutnya membuat jarak tanam dengan cara melubangi sterofoam menggunakan alat pelubang yang dibuat secara sederhana.
Ani menambahkan, sebelum ditanam pada bedengan bibit lettuce disemai terlebih dahulu dengan menggunakan spons sebagai media. Benih yang disemai akan dipindahkan pada bedengan ketika memiliki 3 daun sempurna dan akar tanaman diperkirakan sudah cukup menjangkau larutan nutrisi DFT. Biasanya pada satu spons holder tanaman, ada 3 bibit pada 1 lubang dengan jarak15 x 15 cm.
“Pada fase pemeliharaan, nutrisi harus diatur disesuaikan dengan formula Enshishoho,” ujar Ani. Nutrisi harus mencakup unsur makro yakni, N, P, K, Ca, Mg dan S, serta unsur mikro antara lain Fe, B, Mn, Zn, Cu dan Mo. Biasanya dipasaran sudah ada dalam bentuk AB Mix. Namun yang perlu diperhatikan juga kadar pH dalam larutan idealnya di angka 6,3 – 6,5.
Kelebihan Sistem DFT
Kelebihan hidroponik sistem DFT ini menurut Ani, kita bisa setiap saat bisa mengecek dan melihat kesehatan tanaman dengan melihat langsung pada akarnya. Akar yang sehat kondisinya bersih dan putih, sedangkan tanaman yang bermasalah warna akar cenderung coklat kehitaman dan cenderung berlumut.
“Kondisi akar seperti ini akan menghambat pertumbuhan lettuce, bahkan bila dibiarkan akan mati,” ujarnya. Untuk mengantisipasi lanjut Ani, dengan cara membersihkan dan mencuci akar yang berlumut dan kecoklatan tersebut dengan air bersih.
Setelah dicuci bersih, air larutan yang mengaliri bedengan juga di ganti dengan yang baru agar tanaman tersebut kembali mendapatkan nutrisi dan oksigen secara maksimal. “Memang akan terjadi pelambatan panen, namun tanaman lettuce bisa diselamatkan,” kata Ani.
Panen lettuce, bisa dilakukan sesuai keinginan. Biasanya ungkap Ani, lettuce dengan rasa yang terbaik (mature lettuce) dipanen pada umur 20 – 25 hari setelah tanam dengan memiliki 8 – 10 daun. Namun bisa juga setelah 25 hari setelah tanam.
Ani mengatakan, panen dilakukan dengan cara mencabut keseluruhan lettuce dari spons holder. Hasil panen bisa dinikmati langsung, maupun disimpan ddalam refrigerator.
Tips untuk menyimpan supaya awet segar, Ani menyarankan lettuce jangan dilepas dari spons holdernya, dikemas langsung disimpan di refrigerator. Dengan cara ini akan mempertahankan kesegaran lettuce hingga 3 – 4 hari dengan suhu refrigertor 4 – 9 derajat Celcius.
Untuk mengetahui lebih lanjut Pelatihan Hidroponik Seri V : Lettuce, bisa melihat langsung di youtube Sinta TV : https://rebrand.ly/Selada.