
Olahan cabai produksi KWT di Sinjai
TABLOIDSINARTANI.COM -Ibu ibu petani di Sinjai mengolah hasil produksi cabai para petani menjadi beragam olahan cabai. Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Arango, Suarni mengatakan pengolahan cabai menjadi beragam produk diversifikasi ini mampu mengatasi anjlognya harga di pasar.
Harga cabai berfluktuatif dan mengikuti permintaan pasar. Sebagai contoh misalnya, pada hari raya harga cabai cenderung mahal, sementara pada panen raya, harga menjadi sangat murah. Sebagai bahan pangan yang mudah rusak, cabai tidak tahan disimpan dalam bentuk segar. Mengantisipasi hal tersebut, cabai segar bisa diolah menjadi cabai kering, cabai bubuk dan pasta cabai. Produk olahan ini tentunya memberikan nilai tambah yang besar.
Bimbingan teknis pengolahan cabai pun dilakukan di Sinjai. Animo kalangan ibu rumah tangga untuk hadir cukup tinggi. Pada pelatihan kelompok wanita tani (KWT) Arango di Desa Arabika, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai, Propinsi Sulawesi Selatan banyak yang hadir dari Ibu ibu wanita tani. Desa Arabika merupakan salah satu sentra cabai. Harga cabai di daerah ini pernah menyentuh Rp 60 ribu per kg dan terendah Rp 3 ribu per kg.
“Iya karena harganya naik turun itulah, kami mengolah cabai menjadi saus cabai, cabai kering dan sambal. Meskipun pemasarannya baru di tingkat lokal namun sangat berpotensi untuk lebih dikembangkanm,” ujar ketua KWT Arango, Suarni.
Bantuan sarana pengolahan yang diterima KWT ini adalah mesin penepung cabai kering berkapasitas 15 kg, blender berkapasitas 1.5 liter, panci, timbangan digital, kompor, wajan besar, meja produksi, lemari display serta mesin penutup botol untuk packaging. Edukasi teknologi tepat guna secara sederhana berpotensi dalam pengembangan dan peluang usaha di pedesaan. Strategi kemasan juga penting karena salah satu komponen penting dalam pemasaran.
“Bantuan tersebut sangat membantu pengolahan cabai. Dengan harga per botolnya Rp 20 ribu dirasa menguntungkan dan membantu memberikan nilai tambah saat harga cabai jatuh. Cara mengolah cabai menjadi beberapa macam diversifikasi olahan merupakan peluang usaha yang paling baik,” ujar Suarni semangat.
Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sinjai, Kamarudin menyampaikan, “Bimtek pengolahan cabai ini sangat membantu membuka wawasan bagi anggota KWT Arango ini. Diharapkan selalu muncul aneka inovasi yang sesuai dengan perkembangan kebutuhan pasar.”
Kasi Pasca Panen dan Pengolahan Hasil Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan Musykerinawati menyampaikan “Wanita tani harus mampu memproduksi sesuai dengan tren kebutuhan pasar. Apalagi, produksi olahan memiliki peluang pasar yang bagus dikaitkan kondisi pasar dan konsumen pada masa kini. Kesempatan ini sekaligus memotivasi agar usaha pengolahan bisa memberikan nilai tambah sekaligus memunculkan lapangan usaha baru,” ujar Musykerinawati.
Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Yasid Taufik berharap bantuan fasilitasi sarana pengolahan dapat meningkatkan nilai tambah dan saya saing cabai terutama saat harga jatuh.
“Penerima bantuan harus dapat kreatif dan inovatif sehingga bentuk olahan baik mutu, jenis dan kemasannya dapat bersaing dengan produk lain. Ini tentunya menjadi tantangan tersendiri,” ujar Yasid.
Sebagai informasi, jumlah bantuan fasilitasi sarana pengolahan hortikiltura pada 2019 untuk komoditas cabai 78 unit, bawang 18 unit, sarana pengolahan hortikultura lainnya 52 unit dengan total 144 unit. Bantuan alat tersebut bervariatif dan optional mulai dari alat pengering, alat penggiling, wajan, timbangan, spinner dan beberapa item lainnya.