Wednesday, 21 October 2026


Ekspor Kunyit ke India, Petani Raup Omset hingga Rp 20,8 Miliar

04 May 2020, 08:20 WIBEditor : Yulianto

Kunyit produksi petani Gresik tembus pasar Bollywood

TABLOIDSINARTANI.COM, Gresik---Sejak Covid-19 mewabah dunia termasuk, Indonesia, tanaman biofarmaka baik tanaman obat maupun tanaman rimpang menjadi salah satu alternatif pengobatan yang banyak dicari masyarakat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Bahkan petani tanaman obat dan rimpang, kini ‘ketiban durian runtuh’.

Salah satunya Wakidi, Ketua Gapoktan Kesamben Wetan, Kecamatan Driyorejo Kabupaten Gresik yang membudidayakan tanaman kunyit. Meski sempat ada hambatan dalam distribusi, namun Wakidi dan petani lainnya, tetap merasakan keuntungan yang cukup lumayan. Bahkan produk kunyit petani telah diekspor ke India.

“Dalam pemasaran cukup mudah karena jarak yang cukup dekat dengan Kota Surabaya, bahkan sudah bisa ekspor ke India sebanyak 1.200-1.300 ton,” katanya.

Kunyit yang diekspor tersebut menurut Wakidi, sebelum dikirim kering disimpan di gudang dalam kondisi kering sekitar 90 persen, sehingga saat siap kirim kondisi kunyit didalam container sudah kering 100 persen. Dengan harga Rp16.000/kg (sesuai nilai kontrak), dipekirakan omsetnya sebesar Rp 19,2 miliar hingga 20,8 miliar dalam sekali transaksi.

Wakidi mengatakan, kunyit yang diekspor tersebut berasal dari anggota Gapoktan Kesamben Wetan yang menampung seluruh hasil panen dari Desa Kesamben Wetan, bahkan seluruh wilayah Kecamatan Driyorejo. ada juga kunyit dari wilayah Kecamatan sekitar seperti Kecamatan Wringinanom, Kedameandan Menganti.

“Hampir 90 persen yang ada di wilayah tersebut berperan sebagai pemasok kunyit berkualitas. Sisanya sekitar 10 persen  diperoleh dari hasil panen kunyit dari Kota Kediri,” katanya.

Desa Kesamben Wetan, Kecamatan Driyorejo Kabupaten Gresik secara geografis mempunyai letak yang sangat strategis dalam pembudidayaan tanaman kunyit. Budidaya kunyit umumnya, sudah menjadi pilihan petani saat tegal/lahan kering yang ada di wilayah tersebut.

Pada Juni – Juli menurut Wakidi, petani biasanya mulai ada yang memanen tanaman kunyitnya. Panen perdana kunyit mampu menghasilkan produksi kunyit kering (sudah rajangan/irisan tipis).

“Biasanya petani langsung menanami kembali lahannya dengan bibit yang sudah disiapkan, sehingga panen kunyit berlangsung sampai Desember,” katanya.

Wakidi bisa dibilang salah satu petani sukses yang berada dalam bimbingan Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Driyorejo Bambang Pujaratna. Dengan wabah Covid-19, Wakidi mengakui sempat mempengaruhi usahanya, namun petani tetap bersemangat memproduksi.

“Saya berharap wabah Covid 19 ini dapat segera berlalu, agar proses pemasaran dapat berjalan nomral pulih. Covid-19 saat ini sangat mempengaruhi proses distribusi mengingat beberapa negara sudah menerapkan sistem lokcdown. Namun begitu kami tetap semangat menyediakan kualitas terbaik jika sewaktu-waktu permintaan datang,” ungkap Wakidi.

Seperti diketahui Menteri Pertanian RI Syarul Yasin Limpo (SYL) selalu mengingatkan untuk meningkatkan imunitas tubuh dengan mengkonsumsi olahan rimpang, tanpa mengabaikan Protokol Kesehatan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tanaman rimpang tersebut empon-empon seperti sereh, kunyit, kencur, lengkuas/laos dan temulawak.

Sejalan dengan arahan tersebut, pengembangan produk biofarmaka termasuk tanaman obat yang potensial di suatu wilayah merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan perekonomian wilayah, yang pada akhirnya meningkatkan daya saing wilayah tersebut. Untuk menciptakan kegiatan ekonomi yang efektif, efisien, berdampak bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat yang terlibat di dalamnya.

Kunyit merupakan salah satu tanaman rimpang dan menjadi bahan baku obat alami asli dari wilayah Asia Tenggara. Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan (perenial) yang tersebar diseluruh daerah tropis.

Tanaman dengan nama latin Curcuma Domestica ini di daerah Jawa digunakan sebagai ramuan jamu karena berkhasiat dalam menyejukkan, membersihkan, mengeringkan, menghilangkan rasa gatal hingga menyembuhkan kesemutan.

 

Reporter : Bambang P/Rivana/Yeni (BBPP KETINDAN)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018