Thursday, 02 July 2020


Bawang Merah, Primadona Petani Jaken, Pati

28 Jun 2020, 14:37 WIBEditor : Yulianto

Bawang merah menjadi primadona di Desa Sriwedari Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati. | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Pati---Icon daerah penghasil bawang merah selama memang telah tersemat pada Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Tapi siapa sangka di Kabupaten Pati, Jawa Tengah juga terdapat desa yang juga sebagai sentra komoditas bumbu dasar pada masakan ini.

Lokasinya berada di Desa Sriwedari Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati. Bawang merah menjadi sektor unggulan desa tersebut. Potensi iklim dan syarat tumbuh yang dimiliki Desa Sriwedari memang cocok untuk budidaya tanaman tersebut, karena berada pada ketinggian 5-6 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Selain itu, desa ini mempunyai iklim yang cukup kering dengan suhu udara berkisar antara 27-30°C. Selain karena kesesuaian iklim, menanam bawang merah ini memang telah dilakukan petani secara turun temurun masyarakat desa tersebut.

Umur bawang merah yang sangat pendek menjadikan petani di Desa Sriwedari selalu tertarik untuk mengusahakannya. Menurut mereka, perputaran modal lebih cepat ketimbang menanam tanaman pangan. Selain itu, keuntungan yang dijanjikan dari tanaman tersebut sangat menggiurkan.

Apalagi harga bawang merah yang kini cukup tinggi menjadikan petani semakin makin tergiur membudidayakan. Bahkan petani menanam bawang merah tiga sampai lima kali dalam setahun. Bukan hanya pada sawah yang berada di areal Desa Sriwedari, petani juga menyewa lahan di luar desa untuk menanam bawang merah.

Petani di Desa Sriwedari juga biasa menanam tanaman tersebut pada lahan sawah, setelah padi dan juga lahan tegalan. Petani yang membudidayakan di lahan tegalan biasanya sepanjang tahun, dengan olah tanah dan merapikan guludan setiap kali akan menanam. Olah tanah pun tidak lagi menggunakan tenaga manusia (mencangkul), tetapi menerapkan teknologi mekanisasi menggunakan cultivator.

Pemupukan dilakukan minimal seminggu setelah penanaman. Berakhir ketika tanaman berumur maksimal satu bulan. Dosis pupuknya 200 kg/ha untuk Za dan 800 kg/ha pupuk NPK.

Tanaman bawang merah akan dipanen ketika berumur 50-80 HST (hari setelah tanm), tapi tergantung varietasnya. Varietas yang petani tanam berdasarkan musim yang ada. Jika musim hujan, petani menanam bawang merah dengan varietas Bima. Sedangkan pada musim kamarau biasanya petani memilih varietas Tajuk/Thailand.

Tergantung Tengkulak

Berbicara masalah harga dan keuntungan dalam usaha tani cukup menggiurkan. Jika beruntung, harga bawang merah bisa mencapai Rp 40.000/kg, maka keuntungan petani pun berlipat. Namun, kadang menanam komoditas ini tidak selamanya menuai kucuran rupiah yang fantastis.

Pada musim-musim tertentu, terutama saat panen raya, petani di desa tersebut sering gigit. Akibatnya, petani menelentarkan tanamannya tanpa memanen. Hal itu karena biaya pemanenan tidak sebanding dengan harga jual.

Jika sudah berada pada situasi rugi di beberapa musim tanam, mka petani lebih sering membiarkan lahan sawahnya bero dari pada menanam dengan komoditas lainnya. Petani biasanya mereka menunggu sampai situasi pasar membaik.

Salah satu kelemahan petani dalam pemasaran bawang merah adalah menjual ke tengkulak, tanpa proses pasca panen. Selain itu, kebiasaan menanam tanaman bawang berkali-kali tanpa memberi jeda lahan untuk beristirahat menjadikan tanah rusak.

Namun demikian sebagian petani ada yang sudah sadar dalam penanaman bawang merah. Mereja melakukan proses pasca panen sebelum dijual. Hal ini yang wajib untuk terus didampingi dan dikawal penyuluh agar petani bisa berusahatani dengan baik dan benar.

Ada hal unik dari kebiasaan dari petani Desa Sriwedari adalah menyisipkan tanaman cabai pada areal tanam bawang merah yang telah berumur kira-kira 30-50 hari. Biasanya hal tersebut dilakukan sekali dalam setahun, yaitu pada musim labuhan atau musim hujan. Hal ini dilakukan dengan prinsip efektifitas penggunaan lahan dan tentu saja keuntungan yang bakal dikantongi petani.

Dalam beberapa kesempatan, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo selalu menyampaikan, bahwa sektor pertanian menjadi harapan, tulang punggung di tengah upaya pemerintah dalam  menanggulangi Covid-19. Tanggung jawab penyediaan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia merupakan spirit bagi keluarga besar Kementerian Pertanian.

“Pertanian harus menjadi kekuatan bangsa Indonesia dengan menggunakan teknologi yang lebih baik, memanfaatkan sains dan riset yang lebih kuat, sehingga bisa menghadirkan kemampuan kita,’ katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan, bahwa pangan adalah masalah yang utama dan menentukan hidup matinya suatu bangsa. Untuk itu, petani harus tetap semangat tanam, olah, dan panen.

“Hal ini membuktikan pertanian tidak pernah berhenti di tengah wabah Covid-19, kepada para penyuluh pertanian diharapkan untuk tetap bekerja mendampingi para petani,” jelas Dedi.

Reporter : Hepy Widowati/Yeniarta (BBPP Ketindan)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018