Monday, 28 September 2020


Jeruk Sambas Siap Bangkit Kembali

14 Sep 2020, 13:52 WIBEditor : Yulianto

Kegiatan PHT di lahan jeruk Sambas | Sumber Foto:Humas Ditjen Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Sambas---Hampir dua puluh tahun silam, jeruk Sambas sempat mengalami puncak kejayaan. Bahkan kabupaten di Kalaimantan Barat itu menjadi salah satu sentra jeruk nasional.

Namun akibat serangan penyakit, membuat kejayaan jeruk Sambas redup. Serangan penyakit  menyebabkan Kabupaten Sambas sebagai endemis CVPD. Tak ingin berlama-lama lagi terpuruk, secara bertahap pengembangan jeruk di Kabupaten Sambas kembali bangkit.

Kepala UPT Perlindungan Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat, Yuliana Yulinda menjelaskan, saat ini Kalimantan Barat intensif mendukung program Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS). Tujuan tak lain ingin mengembalikan kejayaan agribisnis jeruk di kabupaten tersebut.

Pada 2020 ini program PPHT (Pengendalian Hama Penyakit Terpadu Jeruk) yang berada di Kabupaten Sambas dialokasikan di tiga kecamatan yakni Tebas, Selakau dan Salatiga. Tujuan kegiatan PPHT jeruk ini mendorong petani untuk tidak selalu berorientasi pada penggunaan pestisida kimia dalam pengendalian OPT.

 “Kita berikan pemahaman kepada petani bahwa penggunaan pestisida kimia adalah pilihan terakhir dalam pengendalian OPT,” kata Yuliana. Selama masih bisa menggunakan cara lain yang sederhana, murah dan yang ramah lingkungan diharapkan petani menggunakan cara-cara tersebut.

Yang kita dorong bukan hanya peningkatan kuantitas produksinya, namun juga kualitasnya yang ramah lingkungan dan menyehatkan bagi yang mengkonsumsinya,” lanjutnya.

Salah satu contoh kegiatan PPHT Jeruk yang saat ini sedang dilaksanakan adalah di Kelompok Tani Darma Tani II, Desa Pusaka, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas. Pada kegiatan tersebut petani jeruk diajak untuk bersama-sama melakukan pengamatan agroekosistem tanaman serta populasi dan intensitas serangan OPT.

Hasil dari pengamatan tersebut kemudian dipresentasikan dan didiskusikan bersama. Hal ini bertujuan agar petani mengetahui kapan waktu yang tepat untuk pengendalian OPT. Selain itu, petani juga diajak untuk menanam refugia, pembuatan MOL dan pestisida organik dan juga pemasangan perangkap likat kuning untuk pengendalian OPT.

“Kami mencoba mengajak petani menciptakan ekosistem lingkungan yang berbeda atau tidak disukai oleh OPT sehingga dapat menekan penggunaan pestisida,” kata POPT Kecamatan Tebas, Anita selaku pemandu kegiatan PPHT tersebut.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sambas mendukung program produksi buah-buahan berorientasi ekspor. Pada 2021 diharapkan petani dapat menerapkan Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS) yang berkaitan dengan kualitas buah dan residu pestisida.

Karena itu diharapkan petani jeruk dapat lebih bijaksana melakukan pengendalian OPT dan tidak selalu mengandalkan pestisida kimia, namun bisa dengan melakukan rekayasa ekosistem atau penggunaan pestisida organik. Dari kegiatan PPHT ini dapat membantu petani dalam mengendalikan serangan OPT secara bijaksana dan pengamanan produksi sehingga meningkatkan kesejahteraan petani itu sendiri.

Sementara itu Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf mengapresiasi antusiasme petani serta dedikasi petugas BPTPH Provinsi Kalimantan Barat yang tetap bersemangat di masa pandemi Covid-19.  Petugas sangat berjasa dalam membantu petani menyiapkan bahan pengendali OPT, maupun memberikan arahan terkait pembuatan agens hayati.

Walaupun tidak bertemu secara langsung, prosesnya dapat berhasil dengan baik. Saya harap petani yang berkumpul tetap menerapkan protokol kesehatan dengan menggunakan masker dan mengikuti arahan jaga jarak,” jelas direktur yang biasa dipanggil Yanti ini

Sementara itu Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo dalam berbagai kesempatan memberikan arahan tentang pentingnya pengembangan pertanian ramah lingkungan. Direktorat Jenderal Hortikultura merealisasikannya melalui Gedor Horti yaitu Gerakan Mendorong Produksi, daya Saing, dan Ramah Lingkungan,  yang bertujuan meningkatkan kualitas produksi dan daya saing hortikultura.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto menyampaikan bahwa misi pertanian ramah lingkungan yang tertuang dalam Gedor Horti adalah menjamin produk yang sehat dan lingkungan yang alami serta lestari. Pengelolaan budidaya maupun pengendalian OPT harus memperhatikan dampaknya pada lingkungan.

Anton menambahkan, salah satu bentuk kegiatan terkait pencapaian Gedor Horti adalah membentuk Klinik Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). Pengimplementasinya dilaksanakan dalam bentuk kegiatan Penerapan Pengendalian Hama Penyakit Terpadu (PPHT).

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018