Tuesday, 20 October 2026


Indonesia Butuh Herbal Incorporated Seperti Jepang, Biar Nggak Jalan Sendiri-sendiri!

12 Nov 2025, 10:23 WIBEditor : Gesha

Indonesia punya ribuan tanaman obat, tapi industrinya masih jalan sendiri-sendiri. Pemerhati herbal Iskandar Andi Nuhung menilai, sudah saatnya Indonesia bersatu lewat “Herbal Incorporated” seperti Jepang.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Indonesia punya ribuan tanaman obat, tapi industrinya masih jalan sendiri-sendiri. Pemerhati herbal Iskandar Andi Nuhung menilai, sudah saatnya Indonesia bersatu lewat “Herbal Incorporated” seperti Jepang.

Indonesia punya ribuan tanaman obat, tapi industrinya masih berjalan masing-masing. Pemerhati herbal Iskandar Andi Nuhung menilai, sudah saatnya negeri ini meniru Jepang dengan membangun “Herbal Incorporated”, sebuah ekosistem besar yang menyatukan petani, peneliti, industri, dan pemerintah dalam satu visi.

“Lihat Jepang, semua industrinya bergerak dengan visi yang sama. Ada Japan Employment Incorporated, tidak ada pertentangan antara Toyota, Honda, atau Suzuki. Mereka satu visi, satu semangat,” kata Iskandar dalam Workshop Herba Medika: The New Era of Downstream yang digelar Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Rempah, Obat, dan Aromatik (BRMP-TROA) Kementerian Pertanian, di Bogor, Selasa (11/11).

Menurutnya, inilah yang belum dimiliki Indonesia. Sektor herbal nasional masih berdiri sendiri-sendiri, tanpa sinergi lintas pelaku. “Kadang kita hanya bisa meratapi nasib negara ini, tapi tidak berbuat apa-apa. Semua jalan sendiri, tidak ada kesamaan visi,” ujarnya.

Berdasarkan data yang diungkap Iskandar, dari ratusan tanaman berpotensi obat, baru 63 jenis yang diinventarisasi, dan hanya 28 varietas dari 12 jenis yang sudah dilepas resmi sebagai varietas unggulan.

Produksi nasional tanaman obat pun baru sekitar 6.231 ton, jauh dari target 5 juta ton pada tahun 2045. “Artinya, kita punya kekayaan besar tapi belum digarap maksimal. Kalau ini dibangun serius dan dikelola bersama, bisa jadi kekuatan besar bagi ekonomi dan kesehatan bangsa,” tegasnya.

Iskandar juga menyoroti lambatnya perkembangan ekspor tanaman obat Indonesia. “Lima besar komoditas ekspor kita dari dulu itu-itu saja: jahe, kunyit, kapulaga, dan jeruk nipis. Tidak berkembang,” ucapnya.

Padahal, angka ekspor jahe sempat melonjak dari 24 ton menjadi 85 ribu ton. Sayangnya, kemajuan itu tidak diikuti oleh diversifikasi produk. “Kita seperti jalan di tempat. Sementara impor tanaman obat, terutama yang non-tradisional, malah naik dari 1.493 ton ke angka yang lebih besar,” katanya.

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan lemahnya fondasi industri herbal nasional. “Kita baru bergerak kalau ada proyek. Begitu proyek selesai, berhenti. Padahal harusnya digerakkan oleh visi ekonomi dan kesehatan bersama,” tambahnya.

Lebih dari sekadar ekonomi, Iskandar menilai pengembangan herbal juga punya nilai sosial dan spiritual. “Menyembuhkan orang itu amal jariyah. Kalau kita membuat herbal yang menyehatkan orang banyak, itu pahala yang tidak terputus,” ujarnya.

Ia berharap industri herbal Indonesia tidak hanya fokus mencari untung, tapi juga membawa manfaat bagi masyarakat luas. “Herbal bukan sekadar komoditas dagang. Ini ladang kebaikan, ladang kemanusiaan,” katanya.

Iskandar menegaskan, Jepang menjadi contoh sempurna tentang bagaimana satu visi nasional bisa melahirkan industri tangguh. “Di Jepang, tidak ada mobil Toyota ribut sama Honda. Semua tahu tujuan mereka: kemajuan negara. Ini yang harus dicontoh,” ucapnya.

Menurutnya, Indonesia juga bisa mencapai hal serupa jika riset, industri, dan pemerintah saling menguatkan. “Mulai dari bibit tanaman, riset, pengolahan sampai ekspor, semuanya harus dalam satu sistem. Itulah konsep Herbal Incorporated yang saya maksud,” jelasnya.

Dalam sesi diskusi, Iskandar juga menyinggung tanaman lokal bernama kalimbayu, pohon khas Sulawesi Selatan yang getahnya bisa menyembuhkan luka. “Kalau kena parang, cukup tempel kulitnya, langsung kering. Itu bukti kekayaan alam kita,” katanya.

Sayangnya, banyak pengetahuan lokal seperti itu yang belum diangkat ke level riset atau industri. “Padahal, kalau kita bisa memadukan kearifan lokal dengan teknologi modern, dunia herbal Indonesia bisa melesat,” tambahnya.

Di akhir paparannya, Iskandar menegaskan pentingnya membangun ekosistem herbal nasional yang melibatkan semua sektor, dari petani dan pelaku usaha, hingga Badan POM dan perguruan tinggi.

“Kalau semua jalan bersama, kita bisa mandiri, bisa ekspor, dan yang paling penting: bisa menyehatkan bangsa sendiri,” ujarnya.

Bagi Iskandar, gagasan “Herbal Incorporated” bukan sekadar wacana, tapi arah baru untuk menjadikan Indonesia pusat herbal dunia.

“Kita tidak kekurangan bahan, tidak kekurangan akal—yang kurang cuma kebersamaan. Kalau itu kita punya, herbal Indonesia bisa sejajar dengan Jepang, bahkan melampauinya,” pungkasnya.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018