
?Meski punya ribuan tanaman obat, industri herbal Indonesia belum juga melesat. Sementara Cina dan Thailand sudah lebih dulu menguasai pasar dunia dengan produk herbal berstandar ekspor.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Meski punya ribuan tanaman obat, industri herbal Indonesia belum juga melesat. Sementara Cina dan Thailand sudah lebih dulu menguasai pasar dunia dengan produk herbal berstandar ekspor.
Meski dikenal kaya tanaman obat, industri herbal Indonesia ternyata belum juga melesat. Sementara Cina dan Thailand sudah lebih dulu menguasai pasar dunia lewat produk herbal yang berstandar ekspor.
Hal ini disampaikan oleh DR. (Cand.) dr. Inggrid Tania, M.Si (Herbal) dalam Workshop Herba Medika: The New Era of Downstream yang digelar oleh Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Rempah, Obat, dan Aromatik (BRMP TROA), Selasa (11/11). Menurutnya, Indonesia punya potensi besar, tapi belum punya arah dan tekad sekuat negara tetangga.
“Cina dan Thailand itu serius banget membangun industrinya. Kita ini kaya bahan baku, tapi belum punya sistem dan keberpihakan yang jelas,” ujar dr. Inggrid.
dr. Inggrid, yang juga dosen tamu di Peking Union Medical College, Tiongkok, bercerita bahwa industri herbal di Cina sangat agresif. Menariknya, meski mereka sudah maju, banyak peneliti di sana yang justru ingin belajar dari Indonesia.
“Mereka pengen belajar herbal Indonesia, bahkan pengen bisa produksi juga. Karena mereka sadar, kita punya kekayaan bahan alam yang luar biasa,” katanya.
Cina, lanjutnya, punya kemampuan menanam tanaman obat yang bahkan tidak tumbuh secara alami di negaranya. Lewat teknologi seperti kultur jaringan dan sistem budidaya modern, mereka bisa menumbuhkan apa pun yang dibutuhkan untuk industri. “Mereka bisa bikin semua bahan jadi standar, bahkan yang asalnya dari luar negeri,” ujarnya.
Namun, dr. Inggrid mengingatkan, meski hebat di produksi dan marketing, Cina juga tidak sempurna. “Jangan silau dulu. Saya sering lihat di pasar herbal sana, simplicia dijemur di lantai, di sebelah tempat sampah. Jadi kualitasnya belum tentu lebih baik dari kita,” katanya sambil tersenyum.
Kalau soal kemajuan industri herbal, Thailand bahkan sudah melangkah lebih jauh. Negara itu berhasil menjadikan kencur hitam (Kaempferia parviflora) sebagai komoditas ekspor unggulan.
“Produk kencur hitam Thailand itu luar biasa. Mereka sudah ekspor ke Jepang, bahkan produk Jepang banyak yang pakai bahan dari Thailand untuk obat anti-obesitas,” ungkap dr. Inggrid.
Menurutnya, keberhasilan Thailand bukan semata karena punya tanaman unggul, tapi karena serius membangun riset dan standarisasi. “Kalau kita mau memimpin di kencur hitam, ya harus bisa ngalahin Thailand. Sekarang aja kita masih sibuk urus izin edar dan belum punya standar yang jelas,” ujarnya.
Selain Cina dan Thailand, Jepang juga disebut sebagai contoh terbaik dalam menjaga mutu produk herbal. Negara itu menerapkan standar yang sangat ketat dari hulu ke hilir, mulai dari bahan baku sampai keamanan produk.
“Jepang itu luar biasa. Mereka sangat disiplin soal keamanan dan mutu. Semua bahan harus lewat uji ketat sebelum bisa dipasarkan,” ujar dr. Inggrid.
Ia menilai Indonesia seharusnya bisa belajar dari sistem Jepang. “Kita punya biodiversitas yang jauh lebih kaya, tapi belum punya sistem yang kuat. Kalau nggak ada standar dan riset yang serius, kita bakal terus jadi penonton,” katanya.
Serangan Herbal Impor
Masalah lain yang disorot dr. Inggrid adalah lemahnya pengawasan terhadap produk herbal impor. Menurutnya, produk dari luar negeri seharusnya tidak bisa masuk dengan mudah tanpa uji klinis atau sertifikasi yang ketat.
“Kalau di Cina, obat herbal asing nggak bisa sembarangan masuk. Harus uji klinis dulu, minimal praklinis. Di sini? Masih terlalu longgar,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya aspek halal untuk produk berbahan hewan. “Kalau bahannya dari hewan, harus jelas sertifikasi halalnya. Itu wajib,” tambahnya.
dr. Inggrid menegaskan, kalau Indonesia ingin maju di industri herbal, pemerintah harus berpihak penuh pada produk lokal. Dari riset, produksi, sampai aturan yang mendukung, semua harus berjalan searah.
“Kita jangan cuma jadi pasar buat produk luar. Kita ini kaya, tapi belum punya keberpihakan. Sementara Cina dan Thailand sudah lari duluan karena negaranya mendukung penuh,” ujarnya.
Workshop Herba Medika yang diadakan BRMP TROA ini menjadi ajang penting untuk membangkitkan kesadaran soal itu. Indonesia punya peluang besar untuk jadi pemain utama di pasar herbal dunia, asal berani berubah.
“Kalau mau unggul, bukan cuma soal bahan baku. Tapi gimana caranya kita jaga mutu, keamanan, dan nilai tambahnya. Dari situ baru kita bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri,” tutup dr. Inggrid.