Kamis, 18 Oktober 2018


Emas Putih Semakin Berkembang di Lereng Lawu

04 Okt 2018, 11:28 WIBEditor : Gesha

Petani Karanganyar senang bawang putih kembali ke Lereng Lawu | Sumber Foto:HUMAS HORTIKULTURA

TABLOIDSINARTANI.COM, Karanganyar --- Berupaya memenuhi kebutuhan dalam negeri akan bawang putih, sentra - sentra produksi bawang yang dulu pernah jaya di era 1990-an kini mulai menggeliat kembali. Tak terkecuali Karanganyar yang terletak di Lereng Gunung Lawu.

Menggeliatnya kembali sang emas putih tersebut dikarenakan harga benih lokal yang cukup menjanjikan. Pemerintah pun gencar mendorong percepatan program tanam melalui APBN dan mewajibkan importir untuk tanam bawang putih. 

Seperti yang diungkapkan anggota kelompok tani Wonosari Karanganyar, Giyatno. Dirinya mengaku senang dengan adanya program pemerintah membangkitkan kejayaan bawang putih nasional. “Lha jelas kami senang tho, karena membuka peluang petani bekerja sama dengan importir bawang putih. Meringankan beban biaya produksi bahkan pemasaran nanti”, ungkap Giyatno.

Dirinya mengaku menanam bawang putih mewarisi orang tua yang dulu juga menanam bawang putih. "Disini setiap tahun petani menanam bawang putih lho. Akhir April mulai menanam, paling lambat Juni. Varietas Tawangmangu Baru yang paling diminati petani sini," ujar Giyatno.

Sejak dulu, kawasan lereng Gunung Lawu sekitar Tawangmangu Karanganyar memang dikenal sebagai salah satu sentra produksi benih bawang putih, terutama varietas Tawangmangu Baru dan Lumbu Hijau. 

Pengembangan bawang putih terdapat di tiga kecamatan yaitu Jatiyoso, Jenawi dan Tawangmangu sebagai pusatnya.

"Dulu harga bawang putih sangat bagus, sampai-sampai bawang diartikan petani sebagai ‘bawa uang’. Adalagi yang menjulukinya 'emas putih' karena bisa disimpan sangat lama dan harganya stabil", ujar Giyatno mengenang.

Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Karanganyar, Riyanto menuturkan produksi bawang putih daerahnya tahun 2017 sebesar 800 ton dengan luas panen mencapai 73 hektar.

Produktivitas hasil bawang putih antara 10 – 15 ton/ha. Luas pertanaman bawang putih setiap tahunnya tidak kurang dari ratusan hektar.

Dengan adanya program wajib tanam, pelaku usaha sudah menanam bawang putih tidak kurang dari 83 Ha. Luasan ini diyakini akan bertambah secara signifikan.

Dihubungi terpisah, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Prihasto Setyanto, menyebut upaya pemerintah meningkatkan produksi bawang putih dalam negeri harus didukung oleh semua pihak.

Mengingat bawang putih Indonesia tidak kalah mutu dan bobotnya di bandingkan dengan bawang putih impor khususnya dari China.

"Malah dari segi aroma, bawang putih lokal aromanya lebih menyengat dibanding bawang putih impor karena kandungan allicin nya tinggi. Dari sisi ukuran, umbi bawang putih varietas Tawangmangu Baru terbukti bisa besar-besar kalau dibudidayakan dengan baik. Kuncinya di pemilihan lokasi, pupuk dan air", kata Prihasto.

Menyinggung kerjasama antara importir dengan kelompoktani untuk menanam bawang putih yang marak di berbagai daerah, pihaknya menekankan pentingnya saling menjaga kepercayaan.

"Kalau sudah sepakat bekerja sama maka kedua belah pihak harus komitmen menjalankan. Importir harus menepati, tapi sebaliknya petani juga jangan sampai 'aji mumpung' , karena akan merusak tatanan program swasembada yang sedang kita upayakan bersama saat ini", pungkasnya. (hms)

Reporter : Kontributor

E-PAPER TABLOID SINAR TANI

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018