Sabtu, 25 Mei 2019


Ini Saran agar Petani Hortikultura Untung Berlipat

09 Mar 2019, 10:15 WIBEditor : Yulianto

Dirjen Hortikultura, Suwandi saat berkunjung ke Kayu Aro, Kerinci | Sumber Foto:Humas Kementan

Budidaya sayuran harus dikembangkan dengan pendekatan kawasan. Dengan demikian, hulu hingga hilir dikelola secara komprehensif

TALOIDSINARTANI.COM, Kerinci---Budidaya hortikultura memang memerlukan modal cukup besar ketimbang usaha tanaman pangan. Namun keuntungannya pun menggiurkan. Ini saran Dirjen Hortikultura, Kementerian Pertanian, Suwandi agar petani bisa menuai untung dari usaha hortikultura.

Suwandi mengatakan, budidaya harus dikembangkan dengan pendekatan kawasan. Dengan demikian, hulu hingga hilir dikelola secara komprehensif. Misalnya, di Kayu Aro, Kerinci, Jambi, kawasan budidaya sayuran sudah pada kelas mantap, aspek hulu dan on-farm sudah maju. Untuk itu sudah saatnya untuk masuk ke hilirisasi.

Sedangkan untuk menyiasati melimpahnya produksi harus diatasi bersama-sama, petani jangan berjalan sendiri sendiri. Pertama, efisienkan biaya produksi dengan menggunakan benih unggul dan pestisida maupun pupuk organik dan hayati dari buatan sendiri dari bahan yang ada di sekitar.

Kedua, melakukan budidaya sayuran dengan sistem tumpang sari. Alhasil, petani tidak bergantung pada satu komoditas saja. Ketiga, membentuk koperasi dan sejenisnya. Dengan koperasi, ibarat sapu lidi, petani bersama-sama akan menjadi kuat, sehingga petani setelah berkelompok menjadi naik kelas,” katanya saat kunjungan ke Kayu Aro, Kerinci, Jambi, Sabtu (9/3).

Ke depan, Suwandi juga meminta agar dikembangkan pasar lelang sayuran dan pemasarannya secara online. Petani sebaiknya juga tidak hanya jual dalam bentuk sayuran segar, tapi bentuk olahan. “Petani bisa membangun industri skala rumah tangga seperti yang sudah dibuat bawang goreng dan cabai bubuk olahan dari Kelompok Usaha Bersama di Kayu Aro ini," kata Suwandi. Artinya  petani harus berpikir lebih maju.

Baca juga

Blueberry Hibah Jepang, Peluang Usaha Tani Baru Nih! 

Teras Rumah Lebih Asri dengan Sirih Gading

Suara petani

Keuntungan berlipat dirasakan Hermawis, salah seorang petani bawang merah dari Kayu Aro Kerinci mengungkapkan penghasilkan yang fantastis dari budidaya bawang merah. Dirinya menanam bawang merah varietas Baki Adro.

Ini varietas lokal, biaya produksi sekitar Rp 40-50 juta/ha, hasilnya bisa mencapai 20 ton/ha. Harganya sekarang Rp 10 ribu/kg. Saya bersyukur ini rejeki, sudah kelihatan untungnya," kata Hermawis saat kunjungan kerja Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi.

Hal yang sama sama dialami Romi, petani cabai di Kayu Aro. Romi mengatakan dirinya menanam cabai menggunakan varietas lokal yakni jenis loker alias lombok Kerinci. Biaya produksinya memang cukup besar mencapai Rp 60-70 juta/ha. "Tanamannya tinggi, hasil panen mencapai 32-40 ton/ha. Harga jual kini Rp 10 ribu/kg. Artinya sangat untung," ujarnya.

Afrizal, petani kentang varietas granola juga menuai untung dari usaha hortikultuta. Ia menuturkan bila menggunakan benih dari hasil panen sendiri, biayanya mencapai Rp 40 juta/ha. Namun, bila benihnya beli dari kios, biayanya mencapai Rp 60 juta/ha. "Hasil produksi dari benih sendiri 15 ton/ha. Kini harga kentang sedang turun dan bila harga normal minimal bisa Rp 7 ribu/kg," ujar dia.

Demikian juga diungkapkan Reno Efendi petani kentang dari Kecamatan Kayu Aro Barat. Reno mengungkapkan menanam kentang varietas granula, seluas 6 ha. Biaya produksi sekitar Rp 60 juta/ha, hasil 17-20 ton/ha dengan harga normal Rp 7 ribu/kg.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kerinci, Radium Halis mengatakan wilayah Kayu Aro merupakan sentra sayuran. Diantaranya kentang, cabai, bawang merah, kubis, kol dan lainnya. "Potensi lahan di sini sangat luas dan subur. Kami dorong terus petani meningkatkan produksi, diberi pelatihan dan pendampingan," katanya.

 

 

 

 

Reporter : kotributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018