Friday, 18 June 2021


Survey Imajiner, Samad si Buruh Tani

16 May 2021, 07:50 WIBEditor : Ahmad Soim

Buruh Tani | Sumber Foto:Dok Memed Gunawan

 

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Samad dan Paimin adalah teman sepermainan waktu di Sekolah Dasar di desa Parakan. Sejak kecil Samad adalah anak pemberani, agak galak dan  disegani oleh teman sekolahnya.  Nasib membedakan keduanya.

Samad jadi buruh tani dan tukang ojeg, sedangkan Paimin berpendidikan sampai mendapat gelar Sarjana, Magister dan jadi peneliti. Mereka bertemu dalam survey Sosial Ekonomi.  Samad tidak suka menjadi responden tapi angka dalam tabel acak menunjuk dia.  Samad sudah mengatakan kalau dia tidak mau ditanya-tanya dalam survey tetapi akhirnya Paimin berhasil membujuknya.  

“Kalau Kang Samad keberatan kita bisa batalkan wawancaranya, Kang. Tidak apa-apa, kok. Aku bisa mengganti dengan orang lain.”

Mendengar itu Samad malah jadi malu. Harga dirinya merasa terinjak. Tanggungjawabnya seolah dilecehkan. Dia marah dan sekaligus mengalah.

“Bukan itu masalahnya. Aku memang tidak suka dengan wawancara ini, tapi bukan berarti aku tidak mau diwawancara. Hanya tidak suka. Beda, kan.  

“Jadi bagaimana, kang?”

“Cepat lakukan wawancara itu,” jawab Samad kesal.  

Samad duduk dengan gelisah. Tidak pernah dia sepenurut itu. Biasanya selalu gagah, galak bicaranya dan setengah berontak. Tiah, isterinya duduk di sampingnya, sekali-sekali berusaha menjawab pertanyaan Paimin, tapi selalu saja dikomentari suaminya.

“Kamu denger dulu. Jangan ngomong. Kalau Akang minta kamu jawab, baru kamu jawab. Supaya jawabannya tidak beda-beda. Perempuan jangan sok tahu,” katanya.

Sudah satu jam mereka ngobrol, tapi daftar pertanyaan Paimin masih panjang. Paimin tidak yakin wawancara ini akan selesai. Banyak selingannya, terutama karena Samad banyak bertanya, bukan sebaliknya. 

“Terus terang, Paimin, aku belum mengerti benar, sebenarnya yang kamu lakukan ini buat apa. Apa kelanjutannya?” tanya Samad, setelah dia menjawab beberapa pertanyaan Paimin. 

“Ini kan salah satu cara untuk memperoleh keterangan dari petani dan masyarakat desa tentang keadaan mereka, tentang kemampuan, pendapat, keinginan, dan ya….semacam itulah, sehingga apa yang akan dilakukan pemerintah dalam membangun pertanian bisa berhasil, sesuai dengan keinginan petani,” jawab Paimin.

“Ya, bagus, aku suka itu. Yang bener mencatatnya, ya. Kalian harus mewakili pikiran kami. Karena apa? Karena tidak ada sedikit pun yang kami inginkan, terpikirkan oleh orang-orang penting di sana. Walaupun semua orang penting itu selalu mengatakan bicara atas nama rakyat.”

“Itu kan beda, Kang. Kita tidak bicara politik di sini.”

“Ya, ya.. kamu benar. Jadi wawancara ini tidak untuk menghasilkan apa itu, tanaman jenis baru, meningkatkan hasil, pupuk jenis baru dan sebagainya. Siapa yang menghasilkan itu? Yang baru, yang unggul, yang hasilnya tinggi?”

“Maksudnya teknologi?”

“Ya apalah namanya, pokoknya yang lebih baik. Teknologi itu kan bahasa kamu. Buat kami, yang penting yang bagus-bagus. Gitulah.”

“Ada Lembaga Penelitian, Kang. Cuma aku tidak bekerja di bidang itu. Untuk itu ada lagi ahlinya yang lain. Mereka bekerja di laboratorium dan kebun percobaan. Aku di bidang sosial.”

“Apa itu?”

BACA JUGA:

“Penelitianku lebih banyak mengenai manusianya, misalnya untuk menentukan cara terbaik dalam penyuluhan, penyediaan benih dan pupuk,   mengetahui untung ruginya kalau teknologi itu digunakan, pengaruhnya terhadap pendapatan petani dan sebagainya. Makanya aku melakukan survey. Aku bekerja dengan orangnya, dengan petaninya. Bukan dengan tanaman.”

“Ya itu penting. Jangan hanya tanamannya, yang penting harus membuat petaninya sejahtera. Tapi laporkan sama atasanmu kalau petani itu menderita, ya. Suruh dia ke sini. Lihat ke desa, jangan di Jakarta saja.”

“Benar, Kang. Itu yang akan aku laporkan.”

“Jadi, mengapa kami masih miskin saja? Katanya kamu ingin menyejahterakan petani? Bisa nggak petani kita menjadi seperti petani di Amerika seperti cerita kamu?”

“Bisa, asalkan luas tanahnya 250 hektar seperti yang mereka punya,” Paimin bercanda.

“Itu kan khayalan si Miun. Artinya gak bisa kaya kalau gak punya tanah seluas itu? Kamu ini gimana sih?”

Mereka tertawa terbahak-bahak.

“Maksudku, bisa atau gak, kita kaya seperti mereka. Tidak usah punya tanah luas seperti itu,” tanya Rukanta.

“Tapi bukannya tanah kita sangat luas di sana di Kalimantan, Sumatera dan Irian? Tidak usah 250 hektar, buat kita sih, 10 hektar juga cukup. Terlalu luas juga susah ngurusnya. Dari mana modalnya? Si Nyai mau bikin telur asin aja gak ada yang mau minjamin modal, ya,” kata Damiri. 

“Rupanya tanah untuk pertanian kita tidak seluas itu. Kang. Banyak tanah gambut dan rawa yang kurang subur,” kata Paimin.

“Apa maksud kamu kurang subur? Jangan dipaksakan tanam padi kalau tanahnya gak cocok untuk padi, Paimin.” 

“Memang rawa itu hanya bagus untuk usaha yang memang cocok untuk tanah rawa, begitu juga tanah gambut. Kalau dipaksakan untuk tanaman yang tidak cocok, ongkosnya lebih mahal dari pada hasilnya. Pokoknya segala sesuatu yang dipaksakan itu gak bener. Banyak resiko,” kata Samad, matanya melotot.  

“Tanah rawa dan gambut itu bikinan Tuhan. Susah dirobah. Kita harus usahakan tanaman yang cocok saja buat tanah itu, ya, kang Samad,” sela Rukanta. 

“Bener, guru.”

“Tapi Paimin, kamu bilang pekerjaanmu tidak memberikan penghasilan bagus buat kalian sendiri? Bagaimana kamu bisa tekun meneliti kalau mesti mikirin perut?”

“Itu kan lain soal. Barangkali hanya ucapanku saja yang selalu ingin lebih. Astagfirullah aladzim. Aku bersyukur, kok.”

“Nggak ingin kaya, toh?”

“Siapa yang nggak ingin kaya?”

“Capek jadi orang miskin, Kang” kata Tiah, isterinya.

“Kamu protes? Harus disyukuri, siapa tahu ada perubahan nanti,” jawab Samad.

“Sok atuh. Ceuceu oge mau kerja yang lain. Tani mah repot kang Paimin.”

“Siapa bilang kamu bertani. Kita gak punya tanah. Kita cuma buruh.”

“Heueuh.”

“Saya juga sama, teu boga tanah, ceu Tiah. Siapa yang gak mau jadi kaya. Tapi paling tidak, cukuplah, bisa nyekolahin anak-anak,” ujar Paimin. 

“Makanya, Paimin, ingat kata-kataku. Jangan menggantungkan diri untuk digaji orang lain. Kamu kan punya modal. Sudah sekolah tinggi. Kerjakan sesuatu yang orang lain gak mampu mengerjakannya.”

“Aku sih sudah kepalang. Mungkin gak bisa berubah pekerjaan, tetap jadi tukang ojeg, tapi harapanku nanti jadi juragan ojeg, begitu, ha ha….”

Tiah mesam-mesem saja mendengarnya.

“Aku cukup jadi bininya tukang ojeg aja….,” Tiah tertawa diikuti tawa Paimin dan Rukanta. 

Paimin meneruskan membuka-buka questionnaire mau bertanya lagi, sementara Samad harus mengingat-ingat dulu sebelum dia menjawab pertanyaan Paimin.  Samad harus berpikir sebelum dia menjawab, tidak seperti dalam obrolan sebelumnya, dia sangat spontan memberikan komentar. Pertanyaan Paimin hampir semuanya tidak memuaskan Samad. Menurut Samad pertanyaan itu aneh, tidak bisa diterima akal sehat petani.

“Enak juga kue yang kamu bawa, nih, Paimin. Kok di sini gak ada yang jual?”

“Ini spesial buat kang Samad he he…. Ini buatan pabrik. Kue ini banyak diekspor ke luar negeri.”

“Bagaimana membuatnya?”

“Menurutku gak istimewa, paling terigu, mentega, telur, gula, dan penyedap. Semua orang bisa bikin, tapi prosesnya harus bersih supaya laku dijual ke luar negeri.”  

“Nah ini yang aku pikirkan. Apakah pabrik untuk membuat kue semacam ini tidak bisa dibikin di desa? Sebenarnya bisa, kan. Hanya sekarang bahan, peralatan dan yang lainnya tidak ada di desa karena keadaan di desa tidak seperti di kota. Akhirnya berduyun-duyun orang desa pergi ke kota, dan bekerja di pabrik ini. Kan repot. Kota jadi padat dan macet,” kata Samad polos.

“Betul, Kang. Aku setuju dengan pendapat Akang itu.” 

“Kalau aku bisa bekerja di pabrik itu, aku akan berhenti jadi tukang ojeg. Capek. Panas, hujan dan angin aku harus terus narik ojeg. Bagaimana aku bisa makan makanan bagus kalau pendapatan harian seperti ini?”

“Nah, mengenai pengeluaran untuk makan itu, Kang. Bisa Akang cerita, berapa kira-kira pengeluaran Akang sekeluarga untuk makan dalam seminggu?” tanya Paimin sambil membuka questionnaire-nya.

Dia merasa mendapat jalan untuk bertanya ketika Samad bicara soal makanan.

“Aku tidak pernah menghitung. Hanya orang gila yang menghitung-hitung setiap pengeluaran. Kalau ada rezeki lebih, ya aku makan lebih enak. Kalau sedikit, aku makan sederhana, kalau gak dapat rezeki, aku gak makan,” jawabnya enteng.

“Ah kira-kira saja berapa rata-ratanya.”

“Bisa saja dikira-kira. Tapi apa itu bagus menurut kamu? Menurutku nggak bisa begitu ngitungnya. Kalau aku tiga hari makan, dua hari tidak makan, lantas rata-ratanya bisa dijadikan patokan? Pendapatanku tidak tetap. Yang bisa dihitung rata-ratanya itu, kalau aku makan tiap hari tanpa bolong-bolong. Itu bisa barangkali kalau pendapatannya tetap. Seperti kamu yang dapat gaji bulanan. Kan pasti.”

“Banyak di antara kami yang seperti aku, Paimin. Jangan lupa itu. Cara kalian salah.”

“Betul sekali, Kang. Apakah dengan pendapatan yang tidak tetap Akang merasakan pengaruhnya pada pola makan. Kan bisa diatur?”

“Kamu sudah keterlaluan, Paimin. Betapa bodohnya pertanyaan itu. Ya jelas dong. Kamu belajar tiap hari dengan teratur, dibandingkan dengan tiga hari belajar banyak dan dua hari tidak belajar, mana yang akan lebih baik hasilnya? Yang membuat kamu pinter? Kan begitu nasehat guru kita,” kata Samad dengan suara lantang.

Paimin kaget, terperangah. Rata-rata itu perkiraan yang sahih secara statistik. Metoda yang dia pelajari dengan susah payah. Banyak mahasiswa yang alergi pada statistik. Tapi pertanyaan Samad menyadarkan dia. Pendapatan menjadi penentu berapa banyak seseorang mengeluarkan untuk makan. Tapi bagi yang pendapatannya tidak menentu, dan saving tidak menjadi bagian dari kegiatan ekonomi rumahtangga, lantas bagaimana akan cerita tentang pengeluaran untuk makanan?

Paimin juga tertegun ketika Tiah cerita tentang makanan. Bagi mereka yang namanya diversifikasi bukan satu konsep, tetapi keterpaksaan. Tiah seringkali tidak perlu beli makanan. Daun-daunan di pagar jadi sayuran, umbi-umbian dia ambil tiap hari jadi sumber pengganti beras. Dan itu tidak dianggapnya makanan. Tanaman yang tumbuh di samping rumahnya jadi bumbu. Hanya gula, garam dan rokok yang harus mereka beli. Dan uang hasil ojeg itu pas atau kadang lebih dari cukup untuk makan sehari-hari. 

“Hasil ngojeg sih kebanyakan habis untuk rokok kang Samad,” kata Tiah.

“Heueuh, mun teu ngaroko mah teu bisa gawe,” serang Samad sambil melotot.

“Bukan main biasnya hasil perhitunganku. Informasi tentang semua itu bolong, tidak ada dalam questionnaire. Banyak yang tidak dihitung sebagai penghasilan dan pengeluaran. Pantas badan mereka lumayan sehat. Kang Samad kekar dan gempal, dan ceu Tiah gemuk, perutnya ngaburayut. Kalau semua dihitung, penghasilan mereka lumayan juga. 

“Sekarang tinggal bagaimana membuat pedesaan itu berubah. Jadi maju,” kata Samad.

“Kalian salah sih, selalu menganggap pekerjaan itu diciptakan oleh pemerintah. Seperti proyek. Itu betul kalau proyek. Tapi orang desa juga banyak akalnya, mereka tahu apa yang akan mereka kerjakan kalau ada jalan dan jembatan, ada listrik, ada telepon, ada PAM. Kamu sendiri sudah menyaksikan bagaimana pekerjaan di desa kita. Tidak perlu diatur-atur terlalu bertele-tele. Mengapa orang tidak membuka usaha adalah karena jalan, listrik dan telepon tidak tersedia,” kata Samad.

“Betul itu, Kang,” sambung Rukanta.

“Memang begitu seharusnya,” tambah Cartam, tetangganya yang dari tadi ikut nongkrong di sana tanpa ngomong sepatah kata pun. 

“Terus, pekerjaan di desa tidak bisa hanya mengandalkan pertanian. Aku sudah bilang berkali-kali bahwa toko serba ada yang baru saja dibangun itu telah banyak membantu masyarakat. Itu contoh nyata.” 

“Ya, Kang. Bagaimana tentang pembelinya?”

“Maksudmu apakah tidak kekurangan pembeli? Wuihh.… pembeli itu kan sudah bisa ditebak. Pedagang itu pintar. Pembeli tahu apa yang mereka butuhkan, pedagang tahu apa yang diinginkan pembeli. Tuh di pertigaan waktu kamu turun dari bus, apa ada restoran di sana? Gak ada, karena orang-orang seperti kita-kita ini tidak makan makanan restoran. Cukup warung nasi yang sederhana. Makanya di sana banyak warung nasi.”

“Apakah ada tukang sirop datang menjajakan dagangannya ke mobil sedan mewah? Gak ada, karena penumpang mobil sedan pasti punya selera lain,” kata Samad yakin.

“Itu toko serba ada di desa kita, sekarang jual macam-macam makanan dan kebutuhan orang desa. Penjual tahu yang dibutuhkan orang desa. Beda dengan yang dijual di kota. Makanya aku yakin, bikin saja jalan yang baik seperti yang dibuat oleh pak Bupati, sediakan listrik dan air yang bagus dan jangan lupa telepon yang murah.”

“Bagaimana perubahan sesudah jalan diperbaiki oleh pak Bupati?”

“Masya Allah, berubah cepat. Truk masuk ke desa, biaya angkutan turun, manusia hilir mudik, toko itu dibuka sesudah ada jalan, kan? Aku pikir pabrik macem-macem akan dibuka juga kalau semua yang diperlukan tersedia.”

“Akang yakin harga barang akan lebih murah?”

“Yakin, haqqul yakin,” jawab Samad pasti.

“Apa lagi, Kang?”

“Itu kamu sudah dengar. Si Nyai kok susah amat untuk dapat pinjaman, padahal usahanya sedang maju-majunya. Bodoh sekali kalau dia tidak mendapat pinjaman itu. Aku kasihan. Lama-lama orang yang mau kerja keras seperti itu bisa frustrasi. Percaya sama aku.” 

“Kamu tahu mengapa usaha seperti si Nyai itu perlu didorong?”

“Mengapa, Kang?”

“Tanah pertanian di desa kita itu semakin lama semakin habis. Desa kita dibatasi sungai dan bukit, tanah pertanian kita tidak bisa diperluas lagi. Jadi usaha seperti si Nyai itu perlu didorong. Kalau ingin membuka usaha yang memerlukan tanah luas, sekarang sih susah.”

“Aku setuju, Kang,” kata Rukanta.

“Apalagi yang harus didorong, Kang?”

“Kamu harusnya lebih tahu. Kalian terlalu banyak mengangkut sampah ke kota sekarang ini. Separoh hasil pertanian kan akan dibuang berupa sampah. Kulitnya, bungkusnya, batoknya, bagian yang busuk semuanya masuk ke kota. Kamu kan gak mau makan batok kelapa? Buang batok dan sabutnya di sini, kalian pakai santannya saja, biar batoknya dibikin arang oleh orang kampung.”

“Maksudku, pekerjaan menguliti, membersihkan, mengolah dan lain-lain itu biar dilakukan di desa. Itu bisa menjadi pekerjaan orang desa. Bagus buat desa karena menyediakan pekerjaan, dan bagus juga buat kota untuk mengurangi sampah.”

Paimin tahu pasti apa yang dikatakan Samad, tapi dia tidak tahu kalau Samad banyak sekali mengetahui strategi bagus untuk mengembangkan desanya. Orang yang ingin jadi polisi, yang berangasan, keras dan ceplas-ceplos itu cerdas. Hanya pendidikannya kurang menunjang. Kalau cuma lulus SD, tidak memadai untuk jadi polisi. Polisi harus lebih pintar lagi.

“Percaya sama aku. Penghasilan orang desa akan meningkat. Orang tidak harus mencari kerja ke Jakarta, karena pekerjaan di desa juga tersedia.”

Paimin terdiam. Teringat data ekspor yang hampir keseluruhannya bahan mentah. Pengolahannya yang paling sederhana sekali pun tidak dilakukan. Minyak kelapa sawit, kakao, rempah-rempah, dan apapun, semuanya diekspor dalam bentuk mentah. Padahal tambahan nilai yang paling besar ada pada pengolahan.

Paimin tersenyum. Wawancara itu lebih banyak didominasi oleh Samad yang banyak bertanya dan melontarkan pendapat. Daftar pertanyaannya panjang. Belum terjawab. Tapi Paimin banyak mencatat keresahan yang sedang dirasakan oleh kawan-kawannya di desa. Bukan jawaban atas pertanyaan yang ada daftar yang panjang itu, tetapi yang muncul dari pikiran orang desa yang sedang dia hadapi.

“Mungkin aku salah membuat daftar pertanyaan ini. Tidak sesuai dengan permasalahan yang sedang ada di sini,” katanya sambil geleng-geleng kepala.   

=== 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018