Friday, 18 June 2021


Jika Sarung Kependekan

15 May 2021, 05:17 WIBEditor : Ahmad Soim

Panen padi | Sumber Foto:Memed Gunawan

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Kita terperangah ketika melihat kenyataan bahwa negara ini yang luasnya mencapai 1,9 juta kilometer persegi itu, ternyata dibagi dengan penduduknya yang mencapai 276 juta jiwa, hanya 0,70 hektare per kapita.

Luas lahan perkapita sekecil itu pun sudah termasuk lautan (yang merupakan 60 persen dari luas total), sungai, rawa, hutan dan lahan yang sudah digunakan untuk bangunan dan fasilitas sosial. Kalau yang dihitung hanya lahan yang bisa ditanami (arable land) yang luasnya 26,3 juta hektare, maka angkanya lebih kecil lagi yaitu 0,096 hektare per kapita. Sangat kecil. Tidak cukup besar kemampuan lahan untuk menghasilkan produk pertanian untuk memberi makan orang sebanyak 276 juta jiwa yang jumlahnya terus bertambah ini. untuk menghasilkan produk pertanian untuk memberi makan orang sebanyak 276 juta jiwa yang jumlahnya terus bertambah ini. 

Bandingkan dengan Ethiopia yang luasnya  16,8 juta hektare dengan penduduk 112,1 juta (0,15 hektare/kapita); Thailand 15,8 juta hectare dengan penduduk 69,8 juta (0,23 hektare/kapita); dan Cina 175,4 juta hektare dengan penduduk 1.439,3  juta (0,12 hektare/kapita); dan Amerika Serikat 165,2 juta hektare dengan penduduk 331,0 juta (0,5 hektare/kapita). Indonesia ada pada posisi yang paling rendah walaupun mungkin unggul di kualitas lahan.

Walaupun negeri ini dikenal berlahan subur, pertanian konvensional yang boros lahan dan air pasti tak lama lagi tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Ketika produksi pangan, seperti padi, jagung, umbi dan tanaman lainnya dipacu, maka pertanyaannya di mana dan apakah lahannya tersedia? 

Perluasan lahan untuk tanam padi harus mengorbankan luasan lahan tanaman lainnya, sama halnya ketika produksi kedele dipacu, terpaksa harus mengorbankan lahan untuk komoditas lain. Begitu seterusnya. Belum lagi kalau bicara peternakan, industri peternakan menjadi berbiaya mahal dengaan digunakannya pakan konsentrat karena kekurangan lahan untuk menanam pakan hijauan. 

Tak salah jika pengamat mengatakan, kondisi ini ibarat perempuan memakai sarung kependekan. Menutup dada kelihatan lutut, menutup lutut kelihatan dada. Serba salah. Jadi harus bagaimana?

BACA JUGA:

Pertanian di Indonesia harus tidak berhenti memacu perubahan ke arah teknologi hemat lahan dan tentu saja hemat input untuk memproduksi lebih banyak, lebih berkualitas dan lebih menguntungkan. Dan kita bersyukur itulah yang sekarang sedang terjadi. Teknologi biologis untuk menghasilkan varietas berproduktivitas tinggi menjadi andalan. Teknologi budidaya hemat lahan sudah dikembangkan sejak lama, dan program intensifikasi bersanding dengan ekstensifikasi. Teknologi budidaya dengan  meningkatkan indeks pertanaman, tumpang sari dan terakhir melalui hidroponik dan pertanian vertikal. Demikian juga peternakan di lahan perkebunan kelapa sawit, yang dianggap sebagai breaktrough dalam industri peternakan di Indonesia. Pemanfaatan lahan pekarangan dan pertanian keluarga juga sudah mulai populer dan dikerjakan oleh masyarakat perkotaan.

Masih banyak opsi untuk mengatasi kendala terbatasnya lahan yang tersedia. Tetapi yang belum banyak disentuh adalah bagaimana memanfaatkan sumberdaya laut yang begitu besar, dengan memanfaatkan teknologi penangkapan dan pengolahan moderen, sehingga kekayaan laut tidak dirambah oleh kapal asing. Budidaya ikan juga masih punya potensi besar untuk ditingkatkan berlipat kali.

Tak salah jika sektor pertanian tetap diberikan prioritas tinggi untuk dikembangkan karena potensinya yang tinggi dan menyangkut kehidupan bangsa.

Wallahualam.

=== 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018