Friday, 18 June 2021


Cara Penjajah Melestarikan Sumber Air

11 May 2021, 15:14 WIBEditor : Ahmad Soim

Melestarikan sumber ait | Sumber Foto:Dok Pribadi

 

Oleh: Memed Gunawan

 TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --Tahun 1970. Menurut pak Kuwu Gunungwangi, hutan di hulu sungai di desa ini dahulu terkenal angker. Pada jaman penjajahan Belanda hutan itu sangat terlarang untuk didekati oleh penduduk desa. 

Padahal hutan kecil itu begitu indah. Berbukit kecil dipenuhi pohon kayu tinggi dan berbatasan dengan jurang yang ditumbuhi tanaman dan rumput panjang, yang terjuntai dan tak henti menitikkan air. Penuh dengan vegetasi yang beraneka. Di sana banyak pohon paku yang rimbun. Daunnya berbulu, muncul di antara perdu. Tanahnya empuk karena sisa daun lapuk menumpuk membentuk kompos tebal. Hutan kecil itu tak henti  mengalirkan air bening yang terus menyatu dan ditampung di kolam besar untuk keperluan air minum penduduk desa. Sisa airnya mengalir ke beberapa pancuran tempat orang kampung mandi dan terus ke sungai yang dipakai untuk mengairi sawah. Orang yang menebang pohon di hutan itu akan mendapat hukuman berat.  

Cerita angker dan takut ini diteruskan turun temurun dan dibesar-besarkan di antara penduduk desa. Malah diberitakan ada makhluk halus bergelantungan di pohon gayam. Mungkin karena tidak pernah didatangi manusia, mahluk halus benar-benar tenang bersemayam di hutan yang rimbun itu. Saking kerasnya aturan melarang hulu sungai diganggu, akhirnya ada anggapan bahwa semua hulu sungai dan mata air pasti ada penunggunya. Dalam bahasa Sunda disebut ‘sungil’.  Orang bisa mendadak sakit, ‘kesurupan’ atau ‘kemasukan’ kalau lewat tanpa ‘kulo nuwun’.  

BACA JUGA:

Sesudah merdeka, penduduk sadar bahwa mereka dibodohi. Padahal betapa susahnya selama ini mereka  memperoleh kayu bakar dan kayu untuk bangunan. Sekarang sudah merdeka, bebas untuk memanfaatkan hutan itu. Tidak ada lagi penjajah yang melarang.  

“Kita tidak lagi diatur oleh penjajah. Hutan ini bukan milik Belanda dan Jepang. Hutan ini milik kita!”

Ditebangilah pohon-pohon itu, jadi bahan bangunan, arang dan kayu bakar.  Dalam waktu singkat kawasan itu jadi gundul dan air selokan yang selama ini mengalir deras ke kolam-kolam ikan dan pancuran tempat mereka mandi mulai mengecil. Dan akhirnya kering. Hilanglah kolam-kolam ikan yang dulu tersebar di seantero desa. dan hilang pula pancuran berair bening. 

 Rupanya penjajah tahu benar bahwa untuk mempertahankan hutan di hulu sungai itu tidak cukup dengan larangan, aturan dan hukum tapi rakyat perlu juga ditakut-takuti dengan cerita angker, jurig, hantu dan ririwa.  Kepercayaan masyarakat pada tahayul itu telah dipelajari Belanda dan mereka manfaatkannya. Pembodohan yang efektif untuk mempertahankan kelestarian sumberdaya air yang biasanya beraroma angker. 

Cara agak berbeda juga terjadi di sentra produksi bawang dan cabe. Melarang penggunaan pestisida/insektisida yang berlebihan karena berbahaya untuk kesehatan itu tidak efektif. Petani tidak peduli yang penting hama teratasi. Baru setelah diberitakan bahwa keracunan bahan kimia akan membuat para lelaki impoten, lemah syahwat, penggunaan bahan beracun menurun drastis.  

Di satu daerah pernah juga diberitakan, ada larangan bagi penduduk buang air besar di pantai karena mengotori lingkungan. Tapi tidak pernah digubris. Larangan baru efektif ketika ada pelaku yang bandel itu ketahuan buang air di pantai, yang dipanggil orang tuanya. 

Aturan begitu gampang dilanggar, apalagi kalau law enforcement lemah. Biaya untuk mengawasi menjadi mahal dan bahkan pengawasan hampir tidak mungkin dilakukan. Tidak gampang menyosialisasikan satu aturan, tapi tetap bisa dicarikan solusi terbaik yang efektif. Tentu kita tidak akan membodohi dengan cerita tidak masuk akal, tapi pendekatan sosiologis dan psikologis bisa diterapkan. Dan ini di luar keilmuan para pembuat dan penegak hukun. Mereka harus bekerjasama. Wallahualam.

  === 

 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018