Friday, 18 June 2021


Teknik Penanaman Padat, Lahan Sempit Hasil Berlipat

07 May 2021, 09:12 WIBEditor : Ahmad Soim

Teknologi tanam padat | Sumber Foto:Soleman

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang --  Penyempitan lahan pertanian terus terjadi. Tidak bisa dibayangkan bagaimana sampai akhirnya ke generasi nanti, berapa besaran luas lahan yang masih bisa digunakan, lantas dimana bisa menanam sesuai kebutuhan.

Selain itu ada biaya produksi pertanian yang semakin mahal, tenaga kerja semakin sulit dan mahal. Penggunaan pestisida dan bahan kimia sudah tidak menjadi tren karena bertentangan dengan kebutuhan global. 

 Revitalisasi dengan pengembangan lahan baru membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan belum dapat dipastikan juga dapat meningkatkan efisiensi produksi pertanian, di tempat tertentu dulu mempunyai uang Rp 100 juta bisa mendapatkan dapat tanah  seluas seperempat hektar, sekarang mempunyai uang  Rp 100 juta mungkin hanya mendapat 40 meter persegi, lantas bagaimana dengan biaya pestisida, pupuk mahal sekali. Jasa tenaga kerja dulu hanya 50 ribu perhari sekarang 75 ribu atau bisa 100 ribu dalam sehari. 

Semua itu menuntut efisisensi, menuntut optimalisasi, bagaimana di lahan yang sempit bisa menanam lebih banyak, tenaga kerja efisien, biaya produksi lebih efektif, belum lagi nanti ada pengaruh pemanasan global, maka High density planting adalah solusinya, High density planting secara umum bisa diterjemahkan penanaman rapat.

BACA JUGA:

Apabila lahan 1 Ha menanam tanaman jeruk misalnya yang umum rata-rata 500 pohon/Ha dengan jarak tanam standar  4x5 meter,  dengan HDP bila dijadikan rapat bisa mencapai 1600 pohon/Ha, atau rata-rata 1000 pohon maka akan meningkat 100 persen, tentu dengan teknik pengaturan tersendiri.

Dalam pengendalian gulma, pemeliharaan tanah, penyemprotan dan pemeliharaan dalam luas lahan 1 Ha dengan jumlah pohon 500 ataupun 1000 pohon biaya perawatannya tidak akan jauh berbeda untuk membersihkan rumput 1 Ha, penyemprotannya tentu tidak banyak selisihnya, akan tetapi populasi tanamannya meningkat 2 kali, berarti biayanya lebih efisien produksi bisa meningkat diawal-awal selama tanaman belum  memiliki efek negatif dengan kerapatannya.

Misalkan tanaman 500 pohon karena pengaruh perubahan iklim minimal berproduksi berkurang 50 persen, artinya kalau tanamannya 1000 pohon masih setara dengan produksi 500 pohon bila teknologi ini betul-betul dimanfaatkan.

Menurut Ir. Sutopo, dari Balitjestro Tlekung Batu, “Jarak tanam rapat itu mempunyai pola dan pengaruh, akan terjadi tumpang tindih, terjadi penaungan antar tajuk, ada pengaruh kelembaban yang meningkat, ada pengaruh serapan nutrisi yang tinggi, artinya apa, kalau kita budidayanya yang konvensional seperti ini tidak cocok, makanya harus diikuti dengan teknologinya,”katanya. 

“Teknologinya apa saja, pengaturan pola tanamnya, bagaimana bentuk barisnya supaya tanamannya lebih banyak tapi orang masih mudah untuk melakukan kegiatan di kebun, bagaimana arah barisnya supaya tanaman yang rapat tadi tidak menyebabkan penaungan, cahaya matahari bisa dimanfaatkan secara maksimal.”imbuhnya. Dalam teknologi pertanian istilah ini biasa disebut geometri tanaman meliputi jarak tanam, arah baris, serta pola tanamnya.

Sutopo menjelaskan,”pertama, arah utara selatan misalnya matahari ke tempat yang kosong, artinya kita tidak bisa efisien, cahaya matahari harus ditangkap, jadi harus di balik, yang 4 itu utara selatan, 5 timur barat sesuai standar tanaman jeruk 4 x 5 meter.”jelasnya.

“kedua, sekarang dibuat baris ganda menjadi dibuat 2 baris tidak asal tanam, misal dari yang 4 kita keluarkan 1 seperempat meter, sehingga ada tanaman lagi nanti terus seperti ini jadi menjadi 2 baris, yang ini kan 5 berarti masih jauh jaraknya.”katanya.

“Kemudian ditambah lagi akhirnya akan zig zag masing-masing baris lurus dan masih terdapat ruang yang cukup, artinya ada peningkatan 2 kali populasinya,”imbuhnya.

Kalau mengarah ke timur barat tidak akan efisien dalam memanfaatkan sinar matahari, sedangkan kalau di tengah-tengahnya mengakibatkan perawatan menjadi agak sulit karena ruang akan menjadi sempit karena pemangkasan tanaman ini dua tanaman dijadikan menjadi satu.

Dengan metode ini diharapkan pemanfaatan cahaya akan maksimal serta tidak menyebabkan efek kelembaban yang tinggi pada lahan, pembentukan pohonnya diusahakan harus dibentuk pendek maksimal 2,5 meter, sejak awal pohon harus dibuat pendek supaya penangkapan mataharinya lebih bagus, perawatan menjadi mudah sehingga kualitas buah bagus.

Untuk menghasilkan pohon pendek dimulai dengan pemilihan bibit, ada bibit yang karakternya pendek, selanjutnya dengan pengaturan percabangan dibentuk pendek, kalau cabang pertama dibentuk dengan ketinggian 1 meter dengan cabang 50 cm tentu tinggi pohonnya akan berbeda.

Pada tanaman yang pertumbuhannaya cenderung ke atas harus dilakukan bending dengan cara diikat dan dilengkungkan pada dahan pertumbuhannaya, pemangkasan pada batang utama yang tumbuh ke atas harus dilakukan, langkah selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah dengan membiarkan pohon untuk berbuah dini, terkadang buah itu dibuang, padahal sebetulnya buah pertama itu kalau tidak dibuang justru menghambat tanaman untuk tumbuh ke atas karena itu bending secara alami.

Lebih lanjut Sutopo menjelaskan, “tanaman yang rapat akan terjadi pengurasan nutrisi yang banyak maka perlu ada teknologi yang bagus, jenis pupuknya harus bagus, baik itu organik maupun kimia  jadi harus diberikan lebih sering,”katanya.

“Kalau ada diberikan pupuk jenis slow release yaitu yang berpelepasan hara lambat, jadi pupuk itu melepaskan unsur hara lebih lambat, sehingga setiap waktu ada unsur hara bagi tanaman,”imbuhnya.

Pemupukan konvensional biasanya  2-3 kali setahun, untuk tanaman rapat diusahakan 3-4 kali, pemupukan akan tergantung dengan ketersediannya air, kalau tidak ada air maka pemupukan akan percuma saja, pada musim hujan harus lebih sering dilakukan pemupukan meskipun jumlahnya sedikit-sedikit karena masih ada air sehingga bisa diserap tanaman.

  === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Soleman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018