Friday, 01 July 2022


Jeruk Nipis Rasanya Asam, Harganya Manis

07 May 2021, 08:48 WIBEditor : Ahmad Soim

Panen jeruk nipis | Sumber Foto:Ibnu Abas

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Nunukan -- Sada (45 tahun) petani asal Desa Pembeliangan Kecamatan Sebuku Kabupaten Nunukan ini mulai menekuni usaha budidaya jeruk nipis  (Citrus aurantiifolia)  sekitar 3 tahun yang lalu, jumlah tanaman jeruk nipis yang ia kembangkan mencapai 600 pohon dan  sudah mampu berproduksi sekitar 2 ton perbulan dengan harga jual Rp 9000 sampai Rp 10.000 per kg.

Pria yang tergabung dalam kelompok tani Duri Bersatu ini mengakui hasil usaha bertanam jeruk nipis ini lumayan omsetnya  bisa mencapai Rp 20 juta perbulan, meskipun rasa jeruk nipis sangat asam tapi hasilnya manis.

“Apalagi saat lockdown beberapa waktu yang lalu pasokan  dari luar pulau terbatas, permintaan jeruk nipis sangat tinggi saya sempat kirim ke Samarinda bahkan sampai ke Banjarmasin, sekarang permintaan agak menurun karena bulan puasa ini lagi banjir panen, dari Berau dan Tajung Selor juga banyak panen makanya harga agak sedikit turun,” ucap Sada.

Ia menambahkan meskipun harganya sedikit turun tetapi pesanan untuk wilayah sekitar seperti Sebuku, Tulin Onsoi, Sembakung, Lumbis dan Malinau permintaan jeruk nipis masih stabil, “ada pembeli yang langsung datang ke kebun, ada juga yang melalui pesanan dan biasanya kita langsung antar ke tempat,” katanya.

BACA JUGA:

Pria yang mengaku hanya lulusan SD ini menuturkan, usaha tanam jeruk nipis ini  bermula saat naik kapal pelni dari Sulawesi ke Nunukan, “saya perhatikan setiap singgah di pelabuhan, kapal selalu menurunkan puluhan karung saya penasaran apa isinya, di Balikpapan, di Tarakan dan di Nunukan, kemudian saya tanya ABK apa itu isi karung, katanya jeruk nipis, saya bertanya dalam hati apakah disini tidak bisa di tanam jeruk nipis? padahal tanahnya cukup subur, sejak itu saya berniat dan berinisiatif untuk menanam jeruk nipis,” kenangnya.

Sada menambahkan begitu tiba di Nunukan, dia langsung menghubungi keluarganya yang berpengalaman budidaya jeruk nipis untuk mendapatkan bibit  yang bagus dan berkwalitas, katanya ada bibit yang tahan tumbuh 1-2 bulan karena baru di cangkok, kurang lebih 1 bulan bibitnya datang semua ada 600 pohon lalu di tanam.

“Alhamdulillah, sekarang sudah bisa dinikmati hasilnya, panennya juga serentak, karena bibitnya sudah tumbuh tunas, makanya proses berbuahnya juga cepat. Hanya saja pada saat buah pertama itu saya buang, kira-kira umur 1,5-2 tahun baru saya simpan buahnya,” imbuhnya.

Jeruk nipis saat buah pertama biasa keci-kecil dan keluar buah  sampai di ujung-ujung ranting, takut karena batang pohonnya rebah belum terlalu kuat, makanya buahnya di buang, selain itu membuang buah pertama ini juga bermanfaat untuk keseragaman besar buah selanjutnya. 

“Kelebihan budidaya jeruk nipis ini dari cangkok ini adalah umur mulai panen lebih cepat dan buahnya lebih banyak jika dibandingkan bibit yang ditanam berasal dari biji,” jelas Sada.

Sementara itu penyuluh pertanian lapangan (PPL) wilayah binaan Desa Pembeliangan Kecamatan Sebuku, Mohammad Fitron mengatakan kelompok tani Duri Bersatu termasuk poktan yang aktif  secara kelompok dan  melakukan inovasi.

“Hampir semua anggota poktan Duri Bersatu  memiliki usaha tanaman hortikultura, termasuk Pak Sada yang sedang mengembangkan jeruk nipis, sebelumnya Pak Sada juga sukses menanam pepaya,” kata Fitron.

Menurut Fitron, PPL sebagai ujung tombak pelaksana Kostratani senantiasa mendampingi petani dan poktan bukan hanya budidaya tanaman saja tetapi juga membantu mencarikan peluang pasar sehingga hasil pertanian dapat menimbulkan keuntungan dan menambah pendapatan bagi petani.

  === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Ibnu Abas
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018