Friday, 18 June 2021


Harga Lebaran, Bung!

15 May 2021, 05:09 WIBEditor : Ahmad Soim

Harga lebaran | Sumber Foto:Memed Gunawan

 

 

 

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Gemuruh meningkatnya harga pangan menjelang lebaran bukan hanya terjadi kali ini, karena kejadian ini selalu berulang setiap tahun. Jadi bukan kasus istimewa. Ini adalah mekanisme pasar karena ekspektasi permintaan meningkat saat lebaran.

Di kalangan konsumen hal itu juga bukan berita baru, mereka sudah mengantisipasi, menabung, menghemat, karena sudah tahu bahwa menjelang lebaran pasti harga-harga akan naik. Lebaran adalah peristiwa istimewa yang dirayakan dengan penuh kesyahduan dan keikhlasan.

Pengeluaran untuk lebaran bisa tanpa perhitungan, terkadang ditambah pula dengan hutang. Boleh juga dibangun hipotesis, jangan-jangan konsumen juga tidak terlalu peduli dengan harga karena lebaran adalah peristiwa istimewa. Mereka menganggap pantas dan bersedia membeli kebutuhan buat lebaran walaupun harga-harganya meningkat.

Pengamat memang sibuk dan pejabat siap dengan segala operasi pasar dan sidak, walaupun yang terakhir ini tidak punya dampak apa pun terhadap perubahan harga. Harga bisa saja normal saat sidak, sesaat setelah yang berseragam dan berbondong-bondong itu lewat, harga berlaku seperti biasa lagi.

BACA JUGA:

Siapa yang memperoleh durian runtuh dari kenaikan harga ini? Ya pedagang. Bukan petani, karena petani tidak berdagang. Yang meraup untung juga adalah para juragan yang mempuyai stok besar dan biasa menyimpan di gudangnya, seperti daging. Mereka sudah mempersiapkan stok karena sudah mengantisipasi permintaan akan melonjak. Mereka tahu kapan stok harus dilepas, karena jika terlalu dini permintaan masih normal, kalau terlambat permintaan sudah menurun. Atau tidak semua stok perlu dilepas? Pemerintah pun memantau ketersediaan bahan makanan yang termasuk mewah bagi sebagian orang ini, agar saat lebaran konsumen bisa menikmati makanan istimewa.

Menghadapi hari suci ini bisnis bergerak. Pedagang sudah ancang-ancang menaikkan harga, dan pembeli sudah menyiapkan dana  cadangan untuk anggaran lebaran. Tetapi petani umumnya sudah jauh hari menjual hasilnya ke tengkulak atau pedagang.

Dahulu memang petani kecil itu membawa hasil buminya (atau istilah barunya: produknya) ke pasar dan menjualnya, bisa secara eceran langsung kepada konsumen maupun pikulan atau borongan kepada pedagang. Dahulu memang ada sistem lelang sederhana, (mungkin peninggalan zaman kolonial)  sehingga harga lebih transparan. Tetapi sekarang calo dan pedagang terlalu pintar, lelang bisa diakali, akhirnya petani tetap di ladang, pembeli datang ke ladang dan transaksi dilakukan di ladang. Dan harga tentu saja harga di ladang. Apalagi kalau penjualannya dengan cara ijon. Hasil bumi itu tidak pernah mampir di rumah petani.

Saat hiruk pikuk harga meningkat, petani sudah tinggal di rumahnya menghitung penghasilannya yang mungkin tidak meningkat banyak. Terlalu kuat peran tengkulak dan pedagang yang lebih sigap dan pintar bermain dengan harga, sehingga margin besar bisa diraih sementara yang diterima petani biasa-biasa saja. Oleh karena itu jika para pegiat mengatakan "Biarlah harga pangan lebaran sedikit meningkat, sekali-sekali petani memperoleh penghasilan lebih" itu salah sasaran. Bisa jadi petani sudah berubah menjadi pembeli.

Efektifkah upaya stabilisasi harga menjelang lebaran? Sebagian ya! Tapi umumnya komoditas pangan lain tetap beranjak naik walaupun dikabarkan pasokannya lebih dari cukup. Mengapa harga-harga tetap meningkat padahal dikabarkan bahwa stok, pasokan berlebih dan akan mampu meredam kenaikan harga? Bukankah ini penting untuk diketahui? 

Sesudah lebaran berlalu gemuruh lonjakan harga hilang begitu saja. Semua orang tidak ingat lagi harga mahal menjelang lebaran, toh hari kemenangan sudah dijalani, ibadah sudah ditekuni, nikmatnya kepuasan batin tak ada yang menandingi. Sekarang harga-harga kembali normal.

Kita langsung lupa padahal tahun depan akan berulang kembali. Ini akan tetap jadi perkara. Mengapa pasokan daging cukup tapi harga meningkat terus? Apakah permintaan demikian besar, sehingga pasokan yang terdata tidak mampu memenuhi permintaan, ataukan pasokan yang disebutkan cukup itu baru sebatas data tapi kenyataannya tidak demikian? Mungkinkah  ada yang menahan pasokan dan membiarkan harga terus membumbung? Atau apakah mekanisme pasar  tidak berjalan semestinya?

Sesudah lebaran berlalu hampir tidak ada evaluasi tentang harga dan stok/pasokan itu.  Toh semua sudah berlalu dan masyarakat sudah melupakannya. Dan mereka juga tidak lagi komplain. Biarlah urusan harga dibicarakan nanti menjelang lebaran lagi. Seperti diungkap di awal tulisan ini. Wah! Wallahualam.

  === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018