Jumat, 21 Juni 2019


Simbiosis Mutualisme Kopi-Bawang Putih ala Petani Gayo

10 Apr 2019, 12:55 WIBEditor : Yulianto

Bawang putih Gayo | Sumber Foto:Fathan

Bukan cuma pada lahan kosong, meski lahan semakin terbatas, namun petani tidak kekuarangan akal. Lahan yang berada di sela-sela tanaman kopi muda, petanimanfaatkan untuk areal budidaya komoditi bawang putih

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Tengah---Bawang putih di Dataran Tinggi Gayo kembali menggeliat. Pasar yang menjanjikan membuat petani yang menyulap’ lahan mereka menjadi areal pertanaman bawang putih, terutama lahan yang selama ini ditanami komoditas hortikultura lain.

Bukan cuma pada lahan kosong, meski lahan semakin terbatas, namun petani tidak kekuarangan akal. Lahan yang berada di sela-sela tanaman kopi muda, mereka manfaatkan untuk areal budidaya komoditi bawang putih.

Kepala BPP Jagong Jeget, Paiman mengatakan, setidaknya sampai tanaman kopi berumur 5 tahun, lahan tersebut masih bisa dimanfaatkan untuk budidaya bawang putih. Budidaya bawang putih juga tidak mengganggu tanaman kopi. “Bawang putih perakarannya sangat dangkal, sehingga tidak terjadi rebutan unsur hara pada lahan yang sama,” katanya.

Bahkan seperti terjadi simbiosis mutualisme antara kedua tanaman itu. Sisa pupuk yang tidak terserap tanaman bawang putih juga akan terserap tanaman kopi dan membuat petumbuhan tanaman kopi lebih baik.

Satu lagi keuntungan bagi tanaman kopi. Aroma bawang putih yang khas, juga membuat hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman kopi akan menjauh, benar-benar kombinasi tumpang sari yang sangat menguntungkan petani.

Menurut Paiman, animo petani untuk kembali membudidayakan bawang putih di wilayah binaannya sudah muncul sejak tahun lalu. Jika tahun 2017 hanya beberapa hektar kebun kopi yang dimanfaatkan sebagai lahan tumpang sari bawang putih, maka tahun ini nyaris semua lahan tanaman kopi muda sudah dimanfaatkan petani untuk budidaya komoditi yang sering menjadi kontroversi ini.

Alhamdulillah, budidaya bawang putih yang dilakukan beberapa petani pada tahun lalu berhasil dengan baik, dampaknya tahun ini semakin banyak petani yang mulai melirik budidaya bawang putih ini,” ungkap Paiman.

Paiman mengungkapkan, bersama rekan penyuluh lainnya terus berupaya memberi motivasi ke petani agar kembali membudidayakan bawang putih yang dulu pernah menjadi andalan perekoomian masyarakat di wilayah ini. Upaya ini sebagai bentuk dukungan terhadap program swasembada bawang putih yang sudah dicanangkan Kementerian Pertanian.

Paiman mengatakan, pihaknya terus mendorong petani kembali membudidayakan komoditas ini karena prospeknya cukup baik. Apalagi masalah pemasaran hasil selama ini tidak ada kendala. “Meskipun kami jauh dari pusat kota, tapi infrastruktur jalan sudah baik dan transportasi lancar,” katanya.

Penyuluh pertanian yang cukup lama mengabdi sebagai penyuluh kontrak ini juga menjelaskan, varietas bawang putih yang banyak dibudidayakan di wilayah ini adalah vairietas lumbu Ijo. Menurutnya, varietas ini dipilih petani karena sudah beradaptasi dingan kondisi agroklimat setempat. Selain itu varietas ini produktivitasnya juga cukup tinggi. Varietas lumbu ijo ini juga digemari konsumen karena aromanya tajam, umbi dan siungnya besar,” katanya.

Paiman menegaskan, keberhasilan mengembangkan luas tanam dan peningkatan produksi bawang putih di wilayah ini, tentu sangat bermanfaat bagi petani untuk meningkatkan kesejahteraan.

Reporter : Fathan MT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018