Kamis, 27 Juni 2019


Begini Konsep Unik Swasembada Bawang Putih Ala Indonesia

16 Mei 2019, 16:16 WIBEditor : Gesha

Swasembada bawang putih bukan hanya mengembalikan kejayaan bawang putih semata saja. Tetapi lebih mendalam yaitu menghilangkan ketergantungan dengan negara lain baik dari segi pasokan maupun harga sehingga yang merugi justru rakyat Indonesia. | Sumber Foto:HUMAS HORTIKULTURA

Swasembada bawang putih bukan hanya mengembalikan kejayaan bawang putih semata saja. Tetapi lebih mendalam yaitu menghilangkan ketergantungan dengan negara lain

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Di tengah terpaan dan cibiran soal langkah Indonesia yang masih impor dalam memenuhi kebutuhan konsumsi bawang putih, Ditjen Hortikultura memastikan pertanaman bawang putih lokal terus on the track agar bisa swasembada di tahun 2021.

“Konsep (bawang putih) beda dengan yang lain. Kalau yang lain kan produksi dalam negeri naik, impornya dikurangi setiap tahunnya. Kalau bawang putih, impor sesuai kebutuhan konsumsi semua. Karena yang diproduksi dalam negeri diproses menjadi benih sampai nanti di tahun 2021. Sehingga tidak ada kompetisi segmen bawang putih,” tukas Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi ketika ditemui tabloidsinartani.com di Jakarta, Kamis (16/5).

Lebih lanjut Suwandi menuturkan swasembada bawang putih bukan hanya mengembalikan kejayaan bawang putih semata saja. Tetapi lebih mendalam yaitu menghilangkan ketergantungan dengan negara lain baik dari segi pasokan maupun harga sehingga yang merugi justru rakyat Indonesia.

"Jadi, hingga nanti tahun 2021, kita perkuat dan perbanyak benih untuk kebutuhan di dalam negeri. Kita sudah hitung untuk kebutuhan 2021, membutuhkan luasan sampai 100 ribu hektar untuk pemenuhan kebutuhan benih dan konsumsi. Kurang lebih 60 ribu hektar saja untuk kebutuhan konsumsi," beber Suwandi.

Langkah tersebut sudah on the track dilakukan berbagai pihak. Mulai dari pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Importir bahkan petani bawang putih. "Kita lakukan bertahap dari tahun ke tahun. Dari awalnya hanya Temanggung dan Sembalun, kini sudah ada di 80 kabupaten dan berkembang menjadi 110 kabupaten se Indonesia," tuturnya.

Suwandi membeberkan rintisan swasembada tersebut dimulai pada tahun 2017 dengan luas pertanaman 1900an hektar. "Semua ditanami dan dijadikan benih untuk ditanam tahun 2018. Sedangkan pada tahun 2018, ditargetkan pertanaman di 11 ribu hektar. Makanya kita uji coba dengan GBL sebanyak 2-3 ribu ton. Hasil pertanaman di 2018 ini kemudian dijadikan benih untuk pertanaman 2019 ini di lahan seluas 20-30 ribu hektar," jelasnya.

Kini, hasil pertanaman di tahun 2019 digunakan sebagai benih untuk pertanaman di tahun 2020 mendatang dengan target luasan mencapai 60-80 ribu hektar. "Semua yang dihasilkan sudah benih lokal dengan varietas Sangga Sembalun, Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, Tawangmangu. Dari varietas tersebut, aromanya lebih kuat," bebernya.

Sehingga pada tahun 2021, dengan luasan mencapai 100 ribu hektar dan produktivitas rata-rata nasional mencapai 6 ton per hektar maka kebutuhan benih dan bawang putih konsumsi sudah bisa dipenuhi di dalam negeri.

“Di tahun 2021 nanti swasembada, importir nanti statusnya menjadi pelaku usaha yang bermitra dengan petani sehingga ada keberlanjutan usaha. Nanti impor ditutup, setiap yang ditanam pastinya akan habis diserap pasar,” tukasnya.

Pertanaman Pelaku Usaha

Pelaku usaha (Importir) memang digaet oleh Kementerian Pertanian untuk ikut dalam pertanaman bawang putih lokal sebagai konsekuensi dan prasyarat terbitnya Rekomendasi Importasi Produk Hortikultura (RIPH).

"Pendanaan untuk pertanaman bawang putih terbagi tiga yaitu dari APBN, Wajib Tanam (importir) dan Swadaya. Kebanyakan petani bermitra dengan importir minimal 5 persen dari wajib tanam dan berproduksi," tuturnya.

Dalam setahun bawang putih yang ditanam oleh pelaku usaha harus semakin bertambah, baik dari luasan maupun lokasi pertanaman. "Importir bisa bertanam di lahan sendiri, bermitra dengan petani atau sewa lahan. Importir harus wajib tanam dan berproduksi minimal 5?ri volume pengajuan RIPH," tuturnya.

Untuk diketahui, Pelaku Usaha membuat rencana tanam bawang putih selama 1 tahun yang diketahui oleh Kepala Dinas Kabupaten/Kota. Dan mencatat semua kegiatan budidaya dan panen secara periodik dalam log book sesuai dengan pelaksanaan tahapan di lapangan.

Termasuk, melaporkan realisasi tanam awal (10% untuk perusahaan lama dan 25% untuk perusahaan baru), realisasi tanam lanjutan (tanam 100%) dan realisasi produksi kepada Direktorat Jenderal Hortikultura dengan melampirkan rincian petani dan lokasi tanam yang telah dicatatkan ke Mantri Tani dan diketahui Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota setempat.

Sehingga, bagi pelaku usaha yang baru pertama kali mengajukan RIPH dengan volume pengajuan 10.000 ton mempunyai kewajiban tanam seluas 83,3 Ha, maka verifikasi awal baru dapat dilaksanakan setelah pelaku saha tersebut menanam sekurang-kurangnya 20,8 Ha.

Sedangkan bagi pelaku usaha yang sudah pernah mendapatkan RIPH dan telah menyelesaikan kewajibannya, jika mengajukan volume impor sebanyak 10.000 ton mempunyai kewajiban tanam seluas 83,3 Ha, maka verifikasi awal baru dapat dilaksanakan setelah pelaku usaha tersebut menanam sekurang-kurangnya 8,33 Ha.

Pertanaman bawang putih yang dibudidayakan dinilai berhasil bila dapat memenuhi kriteria antara lain produksi keseluruhan dari pertanaman yang menjadi wajib tanam pelaku usaha minimal 5?ri volume impor bawang putih yang diajukan dalam RIPH. Termasuk, Produktivitas pertanaman dari lahan yang menjadi lokasi wajib tanam pelaku usaha rata-rata minimal sama dengan 6 ton/ha.

Pelaku usaha penerima RIPH yang tidak melaksanakan komitmen kesanggupan pengembangan bawang putih dalam negeri sesuai ketentuan,akan diberikan Surat Peringatan oleh Direktorat Jenderal Hortikultura.

Bagi Pelaku Usaha yang tidak melaksanakan ketentuan sesuai dengan isi dari surat peringatan tersebut akan ditindak lanjuti dengan penerapan sanksi dalam pasal 37 ayat 3 Permentan nomor 38 tahun 2017 dan perubahannya.

"Yang nakal-nakal, importir ya diblacklist, melanggar aturan ditutup enggak dilayani (RIPH)nya," tukas Suwandi.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018