Sabtu, 17 Agustus 2019


Begini Cara Pemda Selamatkan Tanaman Asli DKI Jakarta

11 Jul 2019, 15:55 WIBEditor : Gesha

Alpukat Cipedak menjadi icon alpukat dari DKI Jakarta | Sumber Foto:PEMPROV DKI Jakarta

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Bagi yang sudah lama tinggal di DKI Jakarta, pastinya tidak asing dengan nama daerah Gambir, Pondok Labu, Kampung Rambutan bahkan Gandaria. Wilayah tersebut ternyata dinamakan sesuai dengan komoditas unggulan pertanian setempat.

Tapi kini sangat jarang didapati pohon atau tanaman asli di wilayah tersebut. "Karenanya, kita kembangkan di kebun benih milik Jakarta agar tanaman asli Jakarta tidak hilang begitu saja," tutur Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, Darjamuni kepada tabloidsinartani.com.

Untuk diketahui, tanaman-tanaman langka asal Jakarta ini cukup beragam. Ada duku dan salak condet, alpukat cipedak, gandaria, gambir, gohok, salak, duku, dan masih banyak lainnya.

Bahkan di salahsatu kebun bibit di Jakarta Timur, tepatnya di Condet terdapat kebun milik Pemda Jakarta  seluas 3,3 hektar. Di kebun tersebut dikembangkan Duku dan Salak Condet.

“Dulu waktu Dinas Kehutanan masih gabung dengan kita, punya kebun buah-buahan langka. Letaknya berada di Ujung Menteng (Cakung), Jakarta Timur. Sekarang yang megang memang sudah Dinas Kehutanan, tetapi masih kita lestarikan buah-buahan langka tersebut,” terang Darjamuni.

Bukan hanya menanam di kebun milik Pemda Jakarta saja, tanaman-tanaman langka ini juga ditanam di lahan-lahan milik Pemda lainnya. Misalnya saja beberapa waktu lalu pernah menanam tanaman langka di Monumen Nasional (Monas) bersama dengan Gubernur DKI Jakarta. 

Darjamuni menceritakan dulu pernah ada program yang mengharuskan kantor kelurahan di Jakarta yang namanya dari tanaman-tanaman langka, wajib menanam tanaman tersebut. Misalnya saja Kelurahan Gandaria, di halamannya wajib ditanam tanaman Gandaria. Begitujuga dengan Kelurahan Gambir, wajib menanam pohon Gambir.

“Memang sudah bukan kewajiban lagi, tetapi rencananya akan kami angkat kembali karena dengan begini dapat mengenalkan ke masyarakat tanaman-tanaman khas Jakarta, terutama generasi muda,” ungkapnya.

Kultur Jaringan

Agar tanaman-tanaman langka asal Jakarta ini tetap eksis, untuk perbenihannya tidak hanya bergantung kepada perbenihan konvensional, melainkan kultur jaringan. Dengan mengembangkan kultur jaringan ini, tentu tanaman-tanama langka tersebut, bibitnya dapat diminta oleh masyarakat Jakarta dan dikembangkan kedepannya.

Darjamuni menuturkan dalam memperbanyak bibit tanaman langka asal Jakarta dengan kultur jaringan, harus segera dipatenkan dengan menggunakan sertifikat agar tidak ada yang mengklaim.

Misalnya saja yang saat ini buah-buahan langka yang sudah disertifikat adalah Salak Condet dan Alpukat Cipedak. “Kalau sudah mendapatkan sertifikat, tentu boleh ditanam dimana saja asalkan bawa nama daerahnya. Jadi misalnya kalau ditanya di luar Jakarta ini salak apa, ya jawabannya Salak Condet,” pungkas Darjamuni. 

Reporter : Clara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018