
Milenial Cireundeu Cimahi tengah mengolah singkong
Oleh : Memed Gunawan
Pemimpin Umum Tabloid Sinar Tani

Banyak sekali inovasi teknologi yang ditemukan dan dikembangkan oleh masyarakat dan disempurnakan melalui lembaga penelitian formal. Harus diakui inovasi di tingkat masyarakat adalah yang paling cepat diadopsi karena ini merupakan hasil pemikiran bersama dan dikembangkan sesuai dengan local wisdom.
Teknologi skala lokal seperti sistem surjan, gogorancah, pengelolaan alam model leuweung larangan (hutan yang tidak boleh diekploitasi), leuweung tutupan (hutan tua yang harus dijaga) dan leuweung baladahan (hutan yang dimanfaatkan untuk ladang) di Cireundeu, atau sistem minimum tillage seperti yang dilakukan di Baduy, ternyata merupakan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi bersama oleh masyarakat setempat.
Pola pangan pokok yang berbasis singkong di Cireundeu adalah salah satu contoh lain. Solusi bagi permasalahan yang dialami masyarakat dalam memperoleh pasokan beras ditanggulangi dengan mengembangkan makanan pokok asal singkong yang dinamakan rasi (beras singkong atau dalam Bahasa Sunda Sangu Sampeu). Penanaman, pengolahan sampai menjadi rasi merupakan temuan masyarakat Cireundeu yang diakui keabsahannya oleh lembaga pemerintah.
Dengan semakin meningkatnya kebutuhan singkong dalam jumlah besar, baik untuk bahan makanan maupun untuk industri non makanan, sudah saatnya dibangun satu Roadmap Pengembangan Singkong sehingga perencanaan mulai dari area, lokasi, teknologi produksi, pengembangan sampai pengolahan dan industri lanjutannya lebih terarah.
Singkong adalah tanaman yang bisa beradaptasi dengan baik di lahan marginal, hemat input dan efisien dalam produksi. Menghadapi kondisi kritis sumberdaya air di masa depan, singkong akan merupakan alternatif solusi untuk dikembangkan, dan negeri ini mempunyai peluang tinggi dalam mengembangkan industri berbasis singkong skala dunia.
Sementara itu, masih rendahnya konsumsi singkong sebagai bahan pangan memerlukan pendekatan sosial dan psikologi massa. Citra singkong sebagai makanan pokok memang masih rendah.
Pengenalan singkong sebagai makanan bermutu harus dilakukan kepada anak-anak sejak dini. Selera yang terbentuk melalui proses panjang kebiasaan jauh lebih efektif dibanding mengubah pola konsumsi konsumen yang sudah terlanjur fanatik mengonsumsi beras.
Rendahnya konsumsi bahan pangan lokal bukan disebabkan karena soal nutrisi dan gizi tetapi semata-mata karena citra makanan lokal adalah makanan kelas dua yang terlanjur dibangun oleh kita sendiri.
Kesalahan kedua adalah kelalaian kita yang belum berhasil menyediakan jenis makanan itu dalam bentuk yang praktis, bersih, siap untuk dimasak, dan tersedia sedemikian rupa sehingga masyarakat mudah memperolehnya. Tidak berbentuk gelondongan dan kerap masih berbentuk ubi yang penuh dengan tanah.