
Petani Mdura pilih benih padi hibrida karena lebih menguntungkan
TABLOIDSINARTANI.COM, Pamekasan---Petani umumnya enggan menggunakan benih padi hibrida. Salah satu alasannya adalah karena harga benihnya terbilang cukup mahal dibandingkan benih inbrida.
Namun bagi petani di Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamengkasan, Madura, justru menggunakan benih padi hibrida justru lebih menguntungkan. Bahkan selama dua tahun ini, mereka sudah menggunakan secara rutin benih tersebut.
Selain produksi gabah yang meningkat, ketahanan terhadap serangan hama penyakit juga lebih kuat dibandingkan padi inbrida. Sehingga, petani rela membeli benih padi hibrida dengan harga berapa pun yang ditawarkan.
Eris Wulandari, penyuluh BPP Proppo mengatakan, padi hibrida memiliki berbagai keunggulan. Diantaranya, potensi hasil panen lebih tinggi sekitar 25-30 persen dibandingkan padi inbrida. Jika padi inbrida rata-rata menghasilkan 8-10 ton/ha, maka padi hibrida bisa mencapai 12 ton/ha atau lebih.
“Jika hasil produksi padi meningkat, maka keuntungan yang diperoleh petani juga meningkat. Hal ini menguntungkan petani karena dengan waktu panen yang sama dan biaya produksi yang hampir sama bisa mendapatkan keuntungan hingga 30 persen,” ungkap Eris.
Eris mengakui memang harga benih padi hibrida lebih mahal yakni berkisar Rp 80.000- 150.000/kg. Sedangkan harga benih padi inbrida hanya sekitar Rp 10.000/kg. Namun, kebutuhan benih padi hibrida lebih sedikit dibandingkan benih padi inbrida.
Hal ini menurut Eris, karena cara tanam bibit padi hibrida hanya memerlukan satu bibit padi per lubang tanam. Sedangkan bibit padi inbrida memerlukan 2–3 bibit per lubang tanamnya. Jika kebutuhan padi inbrida 25 kg/ha, maka kebutuhan benih padi hibrida hanya 15 kg/ha.
“Memang lebih mahal di modal awal pembelian benih padi hibrida, tapi produktivitasnya jauh lebih tinggi. Jika dikalikan dengan harga beras yang sama, maka lebih menguntungkan padi hibrida,” ungkap Eris.
Eris berharap, penggunaan benih padi hibrida mampu meningkatkan hasil produksi beras nasional, terutama untuk menjamin ketersediaan beras di masa pandemi Covid-19. Namun diakui, pemanfaatan padi hibrida di kalangan petani masih belum optimal.
“Salah satu alasannya yaitu harga benih padi hibrida yang relatif mahal menjadi kendala besar dalam modal awal yang dibutuhkan petani. Memang tidak mudah mengajak petani untuk menggunakan benih padi hibrida yang harganya mahal,” tuturnya.

Peran Penyuluh
Karena itu, lanjut Eris, peran Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) sebagai pendamping dan pembimbing sangat diperlukan untuk memberikan pencerahan terhadap petani. Selain penyuluhan yang berkelanjutan, penyediaan benih padi hibrida yang sesuai potensi lokal sangat membantu mengenalkan padi hibrida.
“Kemudahan membeli serta pembuatan demplot atau lahan percontohan juga menjadi alternatif yang dapat mengenalkan padi hibrida kepada petani, sehingga tertarik untuk mencoba,” katanya.
Untuk mengenalkan padi hibrida, BPP Proppo telah membuat demplot atau lahan percontohan di beberapa titik. Hal ini dilakukan selain petani dapat melihat dan tertarik, juga untuk menguji hasil produksi padi diberbagai titik lokasi tersebut.
Dengan demikian, bisa diketahui kendalanya, produktivitasnya yang dihasilkan, serta kesesuaian lokasi. Dari 10 titik lokasi percontohan padi hibrida, hasil ubinan dengan metode yang sama, menghasilkan rata-rata 7,6-12,16 ton gabah kering panen (GKP).
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, penyuluh pertanian merupakan inti dari agent of change pembangunan pertanian. Karena itu, jadilah penyuluh pertanian yang hebat dan mampu mengelola pertanian yang ada di masyarakat.
"Kalau begitu, pertanian harus menjadi kekuatan bangsa ini dengan menggunakan teknologi yang lebih baik, memanfaatkan sains dan riset yang lebih kuat, sehingga bisa menghadirkan kemampuan-kemampuan kita," tegas Syahrul.
"Tahun 2020 ini adalah era Pertanian, memperbaiki desamu, memperbaiki daerahmu, memperbaiki negara dan bangsa ini hanya bisa baik kalau pertaniannya maju," tegas mantan Gubernur Sulawesi Selatan itu.
Menyikapi aktivitas penyuluh ditengah pandemi Covid19, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan, masalah pangan adalah masalah yang sangat utama, hidup matinya suatu bangsa. “Pandemi Covid 19 tidak menghalangi semangat untuk berusaha tani, saat ini pertanian tidak boleh berhenti apapun yang terjadi,” tegas Dedi.