Kamis, 27 Juni 2019


Petani Jagung, Waspadalah ! Ulat Tentara Sudah Masuk Ke Indonesia

25 Mei 2019, 04:38 WIBEditor : Gesha

Hama ulat tentara kini sudah ditemukan di Sumatera Barat dan menjadi ancama serius pertanaman Jagung Indonesia | Sumber Foto:ISTIMEWA

Ulat yang menyerang bagian daun jagung yang masih muda itu ternyata resisten terhadap insektisida.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Fall Army Worm, jenis Spodoptera frugiperda (FAW) saat ini sudah menyerang sejumlah tanaman jagung di Sumatera Barat (Sumbar). Hama berupa ulat (mirip ulat grayak) asal Amerika Serikat (AS) sesuai analisa tim ahli IPB mulai menyerang tanaman jagung yang masih muda di Pasaman Barat.

Salah satu tim analisa Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB Dewi Sartiami  mengatakan, setelah melakukan kunjungan lapangan dan mengidentifikasi kerusakan tanaman jagung di Pasaman Barat, diduga kuat disebabkan hama serangan Spodoptera frugiperda (FAW).

“Setelah kami lakukan identifikasi larva dan imago, serta diskusi dengan petani dugaan kuat Spodoptera frugiperda (FAW) sudah ada di Indonesia. Hal ini tidak mengejutkan bagi kami, karena serangga ini mempunyai daya jelajah yang cukup tinggi,” jelas Dewi Sartiami dalam acara Media Engagement dan Sharing Knowledge betajuk Ancaman Hama FAW/Spodoptera frugiperda terhadap Ketahanan Pangan Dunia yang digelar CropLife Indonesia, di Jakarta, (25/5)

Menurut Dewi, ulat  yang mirip ulat grayak ini ditengarai menyerang tanaman jagung yang masih muda.  “Sesuai kunjungan lapang yang kami lakukan,  1 tanaman (pohon)  ada 11 ekor hama FAW yang menyerang. Kerusakan pada daun tanaman juga ditandai dengan sisa kotorannya yang spesifik,” ujar Dewi.

Dewi juga mengatakan, oleh sejumlah petani,  hama FAW ini sudah diantisipasi dengan insektisida. Namun, serangga (ulat) yang menyerang bagian daun jagung yang masih muda itu ternyata resisten terhadap insektisida.

Guna mengantisipasi serangan FAW tak menyebar ke daerah lain menurut Dewi perlu dilakukan pendekatan pengelolaan hama terpadu (PHT).

Petani harus diberi akses terhadap sarana yang efektif untuk mencegah kerusakan tanaman mereka antara lain dengan insektisida atau melalui musuh alami hama tersebut.

Hal senada juga diungkapkan,  Ketua Tim Teknis Komisi Pestisida Indonesia, Dadang. Menurut Dadang,  kalau menggunakan insektisida ternyata hamanya masih segar bugar, memang perlu dicari alternatif pestisida jenis lainnya.

“Atau barangkali waktu petani melakukan penyemprotan,  tata caranya atau sasarannya salah. Sehingga, insektisida tersebut kurang efektif. Namun, bisa saja sejumlah perusahaan melakukan uji coba langsung ke lapangan. Nah, nanti insektisida yang mampu menekan populasi FAW tersebut bisa didaftarkan peredarannya ke Kementan,” papar Dadang.

Dadang  juga mengingatkan,  FAW ini tinggal menunggu waktu menyebar ke Jawa. Mengapa demikian?  Menurut Dadang, di negara asalnya (AS), FAW  memiliki jadwal migrasi yang tetap.

Hama tersebut memencar ke seluruh penjuru AS dan terbang ke bagian selatan Canada setiap musim panas. Sehingga migrasi menjadi strategi untuk bertahan hidup serangga tersebut.

Menurut Dadang, pemencaran terjadi pada saat imago belum bertelur dan ngengat FAW memencar mengikuti angin dan dapat memencarkan mereka dari Mississippi ke Canada dalam waktu 30 jam.

“Seringkali larva terbawa oleh sayuran, buah, atau tanaman hias yang dikirim dari AS ke Eropa dengan transportasi udara,” ujarnya.

Seperti diketahui, FAW memiliki kisaran inang yang sangat luas dan yang lebih disukai adalah rumput.

Sedangkan tanaman inang yang paling sering terkena serangan adalah jagung ladang, jagung manis, padi, sorgum, tebu, dan rumput bermuda.

FAW juga menjadi hama serius pada tanaman kedelai, kapas, kacang tanah, bawang, umbi jalar, tomat dan sejumlah tanaman hias.

Dadang juga mengatakan, kerusakan tanaman terutama disebabkan oleh larva yang mengkonsumsi jaringan daun.

Namun, larva juga akan menggali lubang ke dalam titik tumbuh (kuncup, pusaran, dll). Sehingga hama ini kalau tak diatasi berpotensi menghancurkan pertumbuhan tanaman di masa depan. Kehilangan hasil atas seranga FAW antara 30-60%.

Koordinasi 

Lantaran serangan FAW  sangat mematikan dan menimbulkan kehilangan hasil begitu besar, pengelolaan FAW harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan. 

Diantaranya dengan petani, pemerintah, penyedia jasa, LSM dan sektor swasta. 

“Sesuai analisis akademik, FAW ini sudah masuk Indonesia. Bahkan sudah menyerang lahan jagung petani di Pasaman Barat. Sehingga, para pemangku kepentingan diharapkan segera melakukan antisipasi,” jelas Dadang.

Dadang juga mengatakan, selain menggunakan insektisida untuk menekan polulasi hama tersebut,  petani bisa menggunakan pestisida biologi yang sah dan musuh alami.

Sehingga petugas POPT harus gerak cepat melakukan antisipasi supaya serangan FAW tak meluas.

Menurut Dadang, petani perlu diberi informasi mengenai pendekatan pengelolan hama, efektivitasnya  dan bagaimana mengaplikasi insektisida untuk memaksimalkan efektivitasnya. 

Petani juga perlu diberi tahu cara meminimalkan risiko insektisida yang digunakan terhadap kesehatan dan lingkungan.

Untuk menanggulangi serangan FAW, kata Dadang, bisa saja dilakukan melalui pendekatan penggunaan tanaman biotek yang tahan serangga.

Seperti diketahui,  uji coba tanaman jagung biotek terhadap FAW telah dilakukan di sejumlah negara seperti Kenya. Mozambik, Afrika Selatan, Tanzania dan Uganda.

Akan tetapi, di Asia ketersediaan benih tanaman biotik ini belum ada. Padahal, menurut FAO, Asia mempunyai potensi tingkat serangan yang cukup besar.

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018