Sabtu, 17 Agustus 2019


Gerak Cepat Kementan Antisipasi Serangan Ulat Tentara

12 Jul 2019, 09:41 WIBEditor : Gesha

Ulat tentara yang menyerang tanaman jagung | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Ulat grayak tentara yang berasal dari Amerika telah menyerang ribuan hektar lahan jagung di Pulau Sumatera dan kini dikabarkan sudah masuk ke Pulau Jawa. Tidak tinggal diam, Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat mengatasi permasalahan ini.

Penyebaran Fall Army Worm (FAW) atau ulat grayak tentara (Spodoptera Frugiperda) pada 2016 telah sampai di Nigeria dan pada 2018 menyerang India, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, Thailand, dan provinsi Yunnan di Cina.

Ulat ini kebanyakan menyerang jagung, di mana Cina adalah produsen jagung terbesar kedua di dunia, dan yang harus diwaspadai ulat ini menyerang juga beberapa spesies tanaman, termasuk beras dan tebu.

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementan, Edy Purnawan menjelaskan di Indonesia, serangan S. frugiperda pertama kali dilaporkan terjadi di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) pada akhir Maret 2019. Laporan ini telah diverifikasi tim gabungan dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Badan Karantina Pertanian dan Dinas Pertanian Sumatera Barat pada 6-8 April 2019.

“Hingga Mei 2019, serangan ulat grayak tentara terjadi di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) seluas 2.153,7 ha dan Sumatera Selatan (Sumsel) seluas 0,25 ha,” katanya.

Sedangkan hingga 21 Juni 2019 serangan ulat grayak tentara pada tanaman jagung secara nasional sudah seluas 5.368 ha. Sedangan tertinggi terjadi pada April 2019 yakni sebesar 2.360 ha dan Mei 1.481 ha.

Berdasarkan Laporan dari Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) disampaikan bahwa laporan terjadinya serangan ulat grayak tentara ini baru terjadi di bebrapa provinsi di wilayah Sumatera yakni Lampung, Sumsel dan Sumut. Namun demikian tidak banyak laporan yang menyebutkan serangan khusus ulat ini.

“Dalam format laporan Kami, Spodoptera Frugiperda masuk dalam jenis Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) ulat grayak sehingga laporan yang masuk adalah serangan ulat grayak, tidak spesifik menyebutkan Spodoptera Frugiperda,” terangnya.

Edy menjelaskan hingga saat ini baru Provinsi Sumut yang mengirimkan laporan khusus serangan ulat grayak yang diduga berjenis Spodoptera Frugiperda sebesar 2.757,5 ha.

Langkah Antisipasi

Edy Purnawan menjelaskan Ciri khas Spodoptera Frugiperda pada stadia larva adalah terdapat garis mirip huruf Y terbalik pada bagian kepala; terdapat empat buah bintik yang besar (pinacula) pada abdomen segmen 8 (A8) yang membentuk segiempat; memiliki 3 garis pada bagian atas tubuh; memiliki garis lebar seperti pita pada lateral tubuh.

Edy menjabarkan langkah-langkah antisipasi yang telah dilakukan diantaranya mengirimkan surat edaran kepada Dinas Pertanian/BPTPH Provinsi seluruh Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan Spodoptera Frugiperda dengan melakukan pengamatan intensif di daerah sentra produksi jagung.

Langkah lainnya juga dilakukan seperti mengirimkan bantuan pestisida ke lokasi-lokasi yang terindikasi terjadi serangan Spodoptera Frugiperda. Dan melakukan gerakan pengendalian di daerah terjadinya serangan S. frugiperda, antara lain di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan Lampung.

Mengingat ulat grayak tentara ini merupakan jenis hama yang berbahaya dan berpotensi menurunkan produksi jagung nasional, rencana aksi yang sedang dan akan dilakukan untuk mengendalikan dan/atau mencegah penyebarannya ke wilayah lain yaitu, pertama membuat pamflet/leaflet/booklet (cetak dan/atau elektronik) mengenai Spodoptera ulat grayak tentara dan penanganannya, kemudian disebarkan ke seluruh petugas lapangan dan petani.

Kedua, berkoordinasi dengan Badan Karantina Pertanian untuk monitoring dan surveilans secara rutin. Ketiga, melakukan bimbingan teknis Pengendalian Hama Terpadu ulat grayak tentara kepada petugas lapangan (POPT, PPL) dan masyarakat/petani di lokasi-lokasi serangan.

Selanjutnya, melakukan gerakan pengendalian secara dini di daerah-daerah yang dilaporkan terdapat populasi ulat grayak tentara menggunakan agens pengendali hayati atau insektisida kimia jika terjadi peningkatan serangan.

Untuk mengendalikan serangan ulat grayak di lapangan diperlukan upaya penanganan yang cepat dan tepat. Upaya tersebut dibedakan menjadi penanganan di daerah serangan dan daerah yang belum terserang.

Upaya penanganan di daerah yang terserang ulat grayak tentara dengan melakukan bimbingan teknis kepada petugas lapangan (POPT, PPL) dan masyarakat/petani di lokasi-lokasi serangan ulat ini; melakukan gerakan pengendalian di salah satu daerah yang terkena serangan ulat grayak tentara sampai berhasil, kemudian dituliskan dalam bentuk succes story dan dipublikasikan melalui berbagai media.

Termasuk mengusulkan penyediaan insektisida berbahan aktif Emamektin benzoat, Siantraniliprol, Spinetoram dan Tiametoksam serta memasang perangkap feromon seks untuk monitoring dan/atau pengendalian; membuat pamflet/leaflet/booklet (cetak dan/atau elektronik) mengenai Spodoptera frugiperda dan penanganannya, kemudian disebarkan ke seluruh petugas lapangan/petani.

Sedangkan, upaya penanganan di daerah yang belum dan berpotensi terserang ulat grayak tentara yaitu dengan membuat pamflet/leaflet/booklet (cetak dan/atau elektronik) mengenai S. frugiperda dan penanganannya, kemudian disebarkan ke seluruh petugas lapangan/petani agar waspada akan ciri dari ulat grayak ini.

Termasuk peningkatan kapasitas Petugas Lapangan untuk monitoring dan pengawalan, khususnya untuk ulat grayak tentara, perbanyakan agens pengendali hayati dengan mengoptimalkan peran Pos Pelayanan Agens Hayati (PPAH) hingga berkoordinasi dengan Badan Karantina Pertanian untuk monitoring dan surveilans; melakukan Bimbingan Teknis PHT Jagung di daerah sentra produksi jagung.  

Reporter : Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018