Wednesday, 21 October 2026


Mudah Diadopsi, Inilah Teknologi Asap Cair Ramah Lingkungan

16 May 2020, 17:15 WIBEditor : Yulianto

Produk asap cair dari BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Tingginya pencemaran lingkungan, baik dari limbah samping hasil pertanian maupun menggunaan bahan kimia sehingga merugikan kesehatan menjadi isu global. Untuk mengurangi pencemaran lingkungan kini ada teknologi asap cair yang ramah lingkungan.

Dengan adanya teknologi asap cair ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi pelaku usaha dan masyarakat untuk mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis dalam pertanian, baik di tingkat produsen maupun konsumen.

Guna mendukung upaya pemerintah menghasilkan produk ramah lingkungan, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan berhasil membuat instalasi sederhana penghasil asap cair yang mudah untuk diadopsi pelaku usaha.

Teknologi asap cair ini merupakan hasil kondensasi/pengembunan dari uap hasil pembakaran bahan-bahan yang mengandung lignin, selulosa, dan hemiselulosa, serta senyawa karbon (C) lainnya seperti tempurung kelapa, sekam, serbuk gergaji, tongkol jagung dan lain-lain.

Asap cair ini dihasilkan melalui proses pirolisis yaitu proses dekomposisi atau penguraian bahan organik melalui proses  pemanasan. Bahan akan mengalami pemecahan struktur kimia menjadi fase gas.

Kandungan utama  asap cair ini adalah fenol, asam karbamat, asam propionat, asam asetat, asam dodekanoat, asam miristat,  asam palmitat, dan asam organik lainnya. Senyawa fenol dan asam bersifat sebagai antioksidan, menghambat dan mematikan pertumbuhan mikroorganisme dan serangga hama, serta menghambat aktivitas makan (anti feedant).

 

Tiga grade

Asap cair yang dihasilkan ini terdiri dari tiga grade. Grade 3 merupakan asap cair yang langsung diperoleh dari proses pirolisis yang digunakan sebagai biopestisida, meningkatkan kualitas tanah dan mengontrol pertumbuhan tanaman. Selain itu untuk mempercepat pertumbuhan pada akar, batang, umbi, daun, bunga, dan buah, pengolahan karet, penghilang bau dan pengawet kayu agar tahan terhadap rayap.

Bahkan BBPP Ketindan sudah membuktikan asap cair mampu untuk mengendalikan jamur Colletotrichum capsici penyebab penyakit antraknose, serangan hama Spodopteralitura, walang sangit, burung dan juga tikus.

Grade 2 merupakan produk turunan untuk pengawet makanan sebagai pengganti formalin dengan aroma asap berwarna kecoklatan transparan, rasa asam sedang, aroma asap lemah.  Asap cair grade 2 bisa untuk pengawetkan/daging. Caranya  adalah celupkan bahan yang telah dibersihkan ke dalam 25 persen asap cair dan tambahkan garam. Biasanya bahan yang diawetkan bisa bertahan selama tiga hari.

Ketiga, grade 1 merupakan produk turunan sebagai pengawet makanan siap saji seperti bakso, mie, tahu, nugget, dan lainnya. Asap cair ini berwarna bening, rasa sedikit asam, aroma netral.

Asap cair grade 1 ini merupakan asap cair paling baik kualitasnya. Bahkan tidak mengandung senyawa yang berbahaya untuk diaplikasikan ke produk makanan. Cara penggunannya, tambahkan 15 cc asap cair kedalam 1 liter air, kemudian campurkan larutan tersebut kedalam 1 kg adonan. Produk bisa tahan penyimpanan selama enam hari.

Dengan adanya teknologi asap cair ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi pelaku usaha dan masyarakat luas untuk mengurangi penggunaan bahan kimia sintetis dalam pertanian, baik di tingkat produsen maupun konsumen. Sehingga, pola hidup sehat menjadi tren baru yang mensyaratkan jaminan terhadap produk pertanian yang berkualitas, aman dikonsumsi, bernutrisi tinggi, ramah lingkungan serta berkelanjutan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi mengatakan, pertanian ramah lingkungan memiliki berbagai pilar, yaitu lingkungan, sosial termasuk didalamnya masalah kesehatan dan ekonomi. Lingkungan menjadi alasan utama dalam bertani organik.

“Bertani organik dianggap bertani yang ramah lingkungan karena menggunakan bahan-bahan alami dan tidak menggunakan bahan kimia sintetis, khususnya pupuk dan pestisida, sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan," kata Dedi.

Karena itu Dedi menganjurkan agar petani senantiasa membuat secara mandiri input produksinya, seperti pupuk organik padat, pupuk organik cair dan pestisida nabati. Karena dampak positif pertanian organik dalam jangka panjang sangat menguntungkan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, pertanian harus menggunakan cara-cara baru untuk bisa menghadirkan efektivitas atau kemampuan yang lebih banyak lagi. Sebab, pertanian bukan hanya menumbuhkan tanaman, tapi menghadirkan hati, pikiran dan gerakan agar hidup bisa lebih baik dan yang pasti jika pertaniannya bisa hadir serta massif (gerakannya).

"Kalau begitu, pertanian harus menjadi kekuatan bangsa ini dengan menggunakan teknologi yang lebih baik, memanfaatkan sains dan riset yang lebih kuat sehingga bisa menghadirkan kemampuan-kemampuan kita," tegas mantan Gubernur Sulsel itu.

Karenanya, Syahrul meminta kepada pelaku pertanian di seluruh Indonesia untuk membantu dirinya membangun pertanian. Kementan mendorong petani bertani secara mandiri, modern dan maju.

 

 

Reporter : Dewi Melani/ Yeniarta (BBPP KETINDAN)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018