Friday, 05 June 2020


Begini Rahasianya, Eukaliptus Menekan Penyebaran Virus dan Bakteri di Tubuh Manusia

18 May 2020, 13:49 WIBEditor : GESHA

Produk Eucaliptus dari Balitbangtan | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Senyawa 1,8 cineol dalam daun Eukaliptus digadang-gadang menjadi zat antivirus yang efektif dalam menekan penyebaran virus di tubuh manusia. Lantas sebenarnya seperti apa cara yang dilakukan senyawa ini sehingga bisa efektif?

Berbagai jenis tumbuhan telah dimanfaatkan sejak berabad-abad yang lalu, seperti misalnya untuk obat-obatan, rempah-rempah, zat aromatik, zat warna, racun, dan lain-lain. Salah satu tumbuhan yang banyak dimanfaatkan oleh manusia adalah jenis tumbuhan yang menghasilkan minyak atsiri seperti daun eukaliptus.

"Minyak atsirinya bisa membunuh penyakit virus influenza, seasonal flu (flu musiman) bahkan flu burung H1N1. Dalam Eukaliptus ada kandungan cineol yang menjadi sumber aktivitas antivirus dan antibakteri dari jenis bakteri gram negatif yang terlindungi lapisan lipoposakarida," beber Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor yang juga menjadi peneliti utama Virulogi Molekuler, NLP Indi Damayanti.

Khusus untuk Coronavirus, NLP Indi menuturkan ada 4 genus yang termasuk Coronavirus yaitu alphacoronavirus, betacoronavirus, gammacoronavirus dan deltacoronavirus. "COVID 19 ini termasuk betacoronavirus. Alphacoronavirus dan betacoronavirus ini memang biasa menyerang manusia dan mamalia," tuturnya.

Dari hasil awal penelitian tersebut, Balitbangtan menemukan senyawa 1,8 cineol yang tdiduga kuat membunuh virus melalui mekanisme Mpro, yang merupakan main protease (3CLPro) dari virus Corona, menjadi target potensial dalam penghambatan replikasi virus Corona. "Dia (cineol) ini bisa mengikat Mpro dari virus sehingga virus tidak menyebar ke organ lainnya. Main protease yang diikat oleh senyawa ekaliptol (cineol) dari senyawa ekaliptus.  Mpro dianggap target yang berperan dalam pematangan virus sehingga adanya antivirus dari cineol eukaliptus ini bisa berperan untuk mencegahnya," jelas Indi.

BBalitvet bahkan melakukan desain pemodelan antivirus yang kita gunakan, kandungan cineol yang digunakan untuk menekan pembentukan Mpro ini tidak harus yang tinggi. Seperti diketahui, Diantara spesies eucalyptus tersebut, E. globulus memiliki kandungan 1,8-cineol yang paling tinggi yaitu diatas 80. Minyak atsiri dari E. globulus yang tumbuh di Australia memiliki kandungan 1,8-cineol sebanyak 81,1-90 persen, Montenegro 85,8 persen, Italia 84,9 persen, dan Indonesia 86,5 persen. 

Dari studi sebelumnya, sitokin proinflamasi akan meningkat nyata dengan adanya infeksi influenza di dalam tubuh manusia, dan senyawa eucaliptus ini bisa menurunkannya. "Ekstrak daun eukaliptus tersebut hanya dioleskan atau dihirup untuk masuk ke saluran pernafasan sehingga sifatnya pencegahan supaya tidak semakin meluas di tubuh," tambah Indi.

Dari hasil penelitian, dengan inhalasi (dihirup) kandungan cineol dapat mudah memasuki aliran darah dan mencapai sistem syaraf pusat. "Cineol dapat mudah diserap melalui udara pernafasan dan dapat dideteksi dalam darah hanya dalam waktu 5 menit setelah inhalasi," tuturnya.

Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Dr. Ir. Evi Savitri Iriani, M.Si menyebut penggunaan minyak eucalyptus dengan kandungan 1,8-cineol yang tinggi (88 persen) mampu mengendalikan Herpes simplex virus tipe 1 (HSV-1). "Virus ini biasanya menyerang bagian oral (herpes oral) dan menyebabkan munculnya luka pada mulut dan wajah," tuturnya. Penggunaan minyak atsiri dilaporkan dapat menekan kemampuan infeksi virus hingga lebih dari 96 persen dengan adanya kandungan 1,8-cineol. Minyak atsiri ini juga dapat melindungi hewan percobaan dari infeksi virus influenza A yang disebabkan oleh virus RNA dari famili Orthomyxoviridae (virus influenza).

"Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa perlakuan 1,8-cineol dapat meningkatkan perlindungan terhadap infeksi virus influenza termasuk virus influenza H1N1," beber Evi.

Selain sebagai antivirus, minyak atsiri dari eucalyptus dengan kandungan 1,8-cineol ini juga digunakan sebagai antiseptik seperti untuk bakteri atau jamur.  Minyak atsiri ini telah dilaporkan efektif mengendalikan Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus (bakteri), Penicillium digitatum, Aspergillus falvus, A. Niger, Mucor spp., dan Rhizopus nigricans.  "Bahkan 1,8-cineol telah digunakan untuk beberapa produk kesehatan khususnya obat kumur," tambah Evi.

Perjalanan Antivirus

Untuk diklaim menjadi antivirus yang ampuh dalam menekan COVID 19, Ketua Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tanaman Tradisional dan Jamu Indonesia, Dr. (candidat) dr. Inggrid Tania menuturkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) harus melakukan perlu uji in vitro dan in vivo terhadap virus SARS COV2 (COVID 19) pada hewan uji. Kemudian dilakukan uji klinik. Meskipun agak sulit cara tersebut karena mutasi gen dari COVID 19 yang sekarang ini masih sering terjadi.

"Potensi lain yang lebih realistis adalah dengan predikat anti inflamasi yang ditempuh dengan uji klinik pasien COVID 19 dengan pneumonia ringan untuk mengenal efikasi tanda inflamasi sistem pernafasannya. Dengan menilai gejala dari keluhan sesak nafas, batuk pilek atau efek peradangan saluran pernafasan secara inhalasi atau oles," bebernya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BBalitvet NLP Indi Damayanti menuturkan laboratorium BBalitvet merupakan lab by safety level 3 yang dari segi fasilitas bisa dilakukan uji invitro. "Namun, sampel COVID 19 yang sudah menginfeksi manusia (human case) belum bisa diberikan. Bahkan belum berani untuk menumbuhkan karena memang mudah menular," bebernya. 

Pengembangannya menjadi antivirus yang efektif juga diharapkan kerjasamanya dengan institusi lain seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Kementerian Kesehatan. 

 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018