Thursday, 22 October 2026


Fungsikan TPS Olah Sampah Organik dengan Budidaya Maggot

26 Nov 2020, 10:49 WIBEditor : Gesha

Memfungsikan TPS mengolah sampah organik dengan budidaya maggot

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Tak hanya urban farming, trend budidaya maggot juga tengah digandrungi kaum muda perkotaan. Bukan cuma cuan saja yang didapat, tetapi juga turut menjaga lingkungan karena mengolah sampah organik yang biasa dihasilkan rumah tangga dan memfungsikan Tempat Pembuangan Sampah (TPS)

"Kami sebenarnya mau menyelesaikan masalah persampahan di Kota Bogor. Umumnya sampah organik dibuat menjadi kompos, tetapi itu membutuhkan alat dan waktu yang cukup lama. Membuat kompos butuh waktu sampai 3 bulan dengan metode biasa. Setelah kita riset sana -sini, kita temukan bahwa budidaya maggot bisa menjadi cara untuk menyelesaikan persampahan," ungkap founder komunitas Buangsampah.com, Aryo Putra Hadiutama kepada tabloidsinartani.com.

Bagaimana tidak, setiap mengolah sampah organik segar yang didapatkan dari rumah tangga di sekitar Perumahan Yasmin, Bogor, kemudian dijadikan pakan untuk maggot, besoknya sudah bisa menjadi kasgot (bekas maggot) dan bisa diayak kembali untuk dijadikan pupuk kasgot. "Biasanya kita kumpulkan dahulu 10-12 hari sekalian untuk panen maggotnya. Kalau dari fase telur, maggot di Biopon bisa dipanen 15-17 hari," jelas Aryo.

Dirinya membeberkan, dari Biopon 1x1 meter membutuhkan 30-40 kg sampah organik. Aryo sendiri memiliki 24 Biopon di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) 3R Perum Taman Yasmin, sehingga membutuhkan sampah organik 600-700 kg per hari. "Sampah organik ini kita dapatkan dari sekitar Perumahan Taman Yasmin Bogor. Dari 5 RT ada 300-350 Kepala Keluarga (KK)," tuturnya.

Diakui Aryo, yang menjadi PR adalah ketidakmampuan masyarakat memilah sampah organik dengan plastik/Styrofoam. "Cukup terbantu memang dengan adanya pemulung, mereka kan biasanya ambil sampah plastik itu. Pengambian sampah organik dilakukan setiap hari oleh tim TPS," tuturnya.

Budidaya maggot ini juga bisa menghilangkan bau dari sampah organik yang biasanya muncul jika tersimpan terlalu lama, apalagi saat musim penghujan seperti sekarang. "Sampah organik menjadi terolah dan baunya hilang 80 persen. Bahkan tidak ada lalat hijau, yang ada hanya lalat BSF," tambahnya.

Aryo melakukan sendiri pengembangbiakan maggot dari telur sampai menjadi Black Soldier Flies (BSF). Cara budidayanya pun tidak pakem pada cara tertentu. "Kita harus trial n error untuk budidaya yang cocok dengan kita. Dari masing-masing pembudidaya maggot ada cara yang berbeda-beda," tuturnya.

Aryo menuturkan ada bisnis yang cukup menjanjikan dari budidaya maggot ini. Mulai dari jual pupuk kasgot, fresh maggot, kering dari maggot, bahkan konversi menjadi tepung pakan untuk ikan. Per hari bisa diproduksi 30-50 kg fresh maggot. "Kasgot bisa menjadi pupuk padat dan cucian sampah organiknya menjadi pupuk cair," tambahnya.

Untuk pakan di bulan Juni silam, pembudidaya dan pembesaran ikan lele, nila hingga koi dan ayam sudah mencoba fresh maggot dan kering dari TPS 3R Perum Taman Yasmin. Hasilnya, mereka mengaku mengalami peningkatan bobot. "Untuk kasgot sendiri, biasanya kita berikan ke masyarakat untuk kebutuhan pupuk tanaman atau urban farming," tutupnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018