Friday, 16 April 2021


Hak PVT Dorong Terciptanya Varietas Unggul Baru

08 Apr 2021, 12:15 WIBEditor : Yulianto

Peresmian kantor Pemeriksaan Subtantif PVT di Mojosari, Mojokerto | Sumber Foto:Yulianto

TABLOIDSINARTANI.COM, Mojokerto---Varietas unggul menjadi kunci keberhasilan peningkatan produksi pertanian. Untuk itu pemerintah mendorong terciptanya varietas unggul baru dari pemulia tanaman dengan memberikan insentif atau hak paten.

Sekjen Kementerian Pertanian, Momon Rusmono mengatakan, ketersedian benih yang baik dan bermutu menjadi pintu masuk upaya peningkatan produksi pertanian. Apalagi di tengah berbagai macam ancaman kegiatan pertanian, baik perubahan iklim dan perubahan lainya, baik sosial maupun ekonomi.

“Adanya pandemi Covid-19 yang membuat aktivitas terdampak, kita patut bersyukur dampak terhadap kegiatan pertanian relatif kecil. Bahkan aktivitas pertanian menjadi penyelamat di tengah keterpurukan sektor lainnya,” katanya saat memberikan sambutan pada peresmian Kebun Pemeriksaan Substantif PVT (Perlindungan Varietas Tanaman) Dataran Rendah Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Kamis (8/4).

Ketersedian benih bermutu dan memiliki potensi hasil yang tinggi menurut Momon, berdampak besar bagi upaya peningkatan produksi pertanian. Karena itu, upaya menjamin ketersediaan benih terus dilakukan. “Ketersediaan benih untuk varietas unggul baru sangat dipengaruhi dalam memperbaiki keberhasilan dalam menghasilkan varietas tanaman,” ujarnya.

Untuk itu, Momon menegaskan, perlu didorong pemberian insentif bagi individu atau badan usaha pemulia tanaman yang hasilkan varietas unggul baru (VUB). Apalagi mampu memberikan nilai tambah, khususnya bagi petani.

Salah satu penghargaan pemerintah adalah memberikan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atau Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) bagi individu atau lembaga yang menghasilkan VUB. Hal ini sesuai UU No. 29 Tahun 2002 tentang Perlindungan Varietas Tanaman. “Pemberikan hak PVT akan meningkatkan pemuliaan tanam, sehingga menghasilkan VUB yang diperlukan masyarakat,” ujarnya.

Momon menambahkan, hak PVT juga dimaksudkan untuk mendong tumbuh dan berkembangnya industri benih dalam negeri dan swasta. Apalagi selama ini hak PVT masih didominiasi dari lembaga penelitian pemerintah.

“Ke depan dunia usaha dapat berperan lebih banyak menghasilkan varietas unggul,” katanya. Namun lanjut Momon, perlindungan hak PVT tersebut tidak dimaksudkan untuk menutup ruang bagi masyarakat luas atau petani memanfatakan vareitas baru.

Data Pusat PVT-PP, saat ini ini sudah tercatat 506 varietas tanaman yang mendapa hak PVT. Dari jumlah itu, tanaman sayuran sebanyak 225 varietas, pangan 172 varietas, buah 47 varietas, perkebunan dan tanaman industri 41 varietas  dan peternakan 7 varietas.

Momon melihat, jumlah hak PVT yang pemerintah terbitkan itu masih jauh dari potensi yang ada di Indonesia. PVT di negara maju, seperti China sudah sebanyak 7.834 verietas, AS 1.590 verietas, Korsel 837 varietas, Jepang 822 varietas dan Rusia 765 varietas.

Dibandingkan negara Asean, hak PVT di Indonesia hanya tertinggal dari Vietnam yang sudah 1.628 varietas. Jadi posisi Indonesia relatif lebih baik.  “Banyak faktor, salah satunya proses pelayanan hak PVT. Dengan peresmian stasiun uji BUSS ini menjadi bagian upaya kita memperbaiki kualitas pelayanan dalam penerbitan PVT ke depan,” tegasnya.

Kunci Peningkatan Produksi

Sementara itu Kepala Pusat PVT-PP Kementerian Pertanian, Prof. Erizal Jamal mengatakan, kunci keberhasilan peningkatan produksi pertanian ada di benih yakni 5-20 persen. Jadi jika petani menggunakan benih yang baik, maka akan ada peningkatan produksi. “Kami berharap, kegiatan pemuliaan tanaman terus berkembang,” ujarnya.

Erizal mengakui, untuk bisa menghasilkan varietas unggul baru, bukan hanya memerlukan wkatu cukup lama hampir 6-7 tahuan. Biaya yang dikeluarkan juga besar. Peneliti di Eropa memerlukan 300-350 Euro atau Rp 5 miliar untuk mendapatkan satu varietas unggul.

Bahkan varietas tersebut tidak seluruhnya laku di lapangan. Dari 10 benih yang dihasilkan hanya laku 2 varietas. Belum lagi, dari yang laku itu masa edarnay hanya  5-6 tahun, lalu digantikan dengan varietas baru. “Jadi cukup mahal untuk menghasilkan benih. Karena itu, pemerintah mengeluarkan hak paten yang diberikan ke pemulia dan industri benih. Ada hak istimewa bagi pemulia tanaman,” katanya.

Namun menurut Erizal, varietas tanaman dapat diberikan hak PVT setelah memenuhi unsur BUSS (Baru, Unik, Seragam dan Stabil). Dalam implementasi pemberian perlindungan vareitas tanaman, salah satu tahapannya adalah pemeriksaan substansitif atau uji BUSS. “Uji ini untuk mengetahui varietas tanaman tersebut apakah memenuhi syarat kebaruan, keunikan, keseragaman dan kestabilan,” katanya.

Kantor Pemeriksaan Substantif PVT di Mojosari, Kabupaten Mojokerto inilah yang nanti bisa mengeluarkan hak paten untuk varietas dataran rendah. Sedangkan untuk varietas dataran tinggi  juga ada di Lembang, Bandung. 

--

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

 

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018