Thursday, 17 June 2021


Hati-hati Membangun Integrasi Sawit-Sapi, 7 Hal Ini Perlu Dirumuskan

03 Jun 2021, 22:11 WIBEditor : Ahmad Soim

integrasi sawit sapi perlu hati hati | Sumber Foto:Repro

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Meskipun peluang integrasi sawit-sapi cukup besar, namun perlu kehati-hatian, terutama dampak adanya emisi CO2 yang dihasilkan dari ternak sapi, karena bisa memberikan citra negetif bagi sustainability (keberlanjutan) produk sawit Indonesia di mata dunia khususnya Eropa.

 

 Data Ditjen Perkebunan, saat ini terdapat 16,38 jut hektar (ha) lahan perkebunan sawit. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah menginisiasi integrasi sawit-sapi sejak tahun 2017-2018. Kementan bahkan sudah menetapkan Peraturan Menteri Pertanian No.105 Tahun 2014 tentang Integrasi Usaha Perkebunan Kelapa Sawit dengan Usaha Budidaya Sapi Potong.

Pada perkebunan sawit terdapat  biomassa pakan untuk sapi sepanjang tahun. Diantaranya berupa, pelepah dan daun sawit, hijauan di bawah naungan sawit, bungkil sawit dan solid. Dengan integrasi sawit-sapi, manfaat yang akan diperoleh bagi perkebunan sawit adalah: akan mengurangi biaya pupuk dan herbisida di perkebunan sekitar 30 persen, meningkatkan produksi TBS (tandan buah segar) dan mewujudkan sawit yang ramah lingkungan. Manfaatnya bagi peternakan, dari satu ha kebun sawit, bisa untuk ternak 4 ekor sapi.

Setidaknya ada dua model budidaya sapi yang bisa diterapkan di perkebunan sawit. Pertama, adalah dengan meng-angon (menggembalakan) sapi di perkebunan sawit. Kedua, membuat kandang sapi di lahan perluasan perkebunan sapi.

BACA JUGA:

Namun demikian, menurut Ketua Umum Badan Kerjasama Perusahaan Perkebunan Sesumatera (BKS-PPS) Soedjai Kartasasmita pengembangan integrasi sawit-sapi ini perlu dibarengi dengan kehati-hatian, terutama adalah karena isu lingkungan yang sudah sering dituduhkan Eropa terhadap sawit Indonesia. “Dengan masuknya sapi di kebun sawit akan membawa emisi CO2. Emisi CO2 ini ditengarai mempercepat proses perubahan iklim, Sehingga bila, tidak hati hati dan penuh perhitungan, maka adanya sapi di kebun sawit akan menambah nilai negatif aspek lingkungan bagi perkebunan sawit Indonesia,” tambahnya.

Pada era Teknologi Informasi, lanjutnya keberadaan sapi di perkebunan sawit bisa dilacak melalui satelit. Semua sapi yang ada di lahan kebun akan terlihat. Perlu dipertimbangkan, sebaiknya sapi dipelihara  di luar kebun sawit produktif. Misalnya bisa dipakai cadangan lahan untuk ekspansi. 

Menurut Soedjai Kartasasmita perlu dipikirkan untuk duduk bersama semua stakeholder yang terkait dengan pengembangan integrasi sawit-sapi ini.   Dirjenbun perlu berinisiatif untuk bertemu dengan  para pelaku usaha , petani dan para peneliti dan wakil wakil berbagai universitas membahas: 1) sampai berapa banyak hasil devisa kelapa sawit bisa dikorbankan. 2) Ada Kompensasi  untuk pengurangan minyak atau tidak ? Misalnya ekspor daging dan produk sampingannya seperti kulit sapi dll. 3) Lokasi yang ideal agar kalau dilacak dengan satellit hasilnya positif bagi kita. 4) Dampak sosial karena pengurangan tenaga kerja di sawit namun paralel dengan itu ada penambahan tenaga kerja dari ternak sapi. 5) Pendidikan SDM. 6) Kerjasama penelitian sawit dan penelitian peternakan. 7) Dukungan penerintah berupa apa?

 

-----

 Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

 

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018