
Singkong di pabrik tapioka
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Tepung tapioka yang diperoleh dari singkong ini telah banyak dikenal masyarakat sebagai bahan baku aneka makanan seperti pempek, bakso aci, dan aneka kue basah. Tapioka atau tepung kanji ini menjadi salah satu produk andalan hilirisasi singkong.
"Pabrik tapioka ini bisnisnya berbasis pati yang membutuhkan kesegaran singkong yang cukup umur. Proses pasca panen singkong di Lampung sebagian besar akan masuk ke pabrik tapioka. Ketersediaan lahan singkong di Lampung ini juga cukup luas," ungkap Helmi Hasanudin, Technical Specialist dan Technical Advisor PT Buana Sriwijaya Sejahtera, Palembang dan PT Lambang Jaya, Lampung dalam Webinar bertema “Penanganan dan Pengolahan Pasca Panen Singkong,” Rabu (21/7).

Sebagian besar Pabrik-pabrik pembuatan tepung tapioka memang banyak terdapat di provinsi Lampung dan sudah eksis sejak bertahun-tahun lalu. Pabrik inilah yang menyerap singkong petani dan menggerakkan roda perekonomian setempat. " Keluarga saya punya lahan di Tulang Bawang dan ikut mengembangkan varietas singkong UJ-3 (Thailand) dan UJ-5 (Cassesart / Kasesa), “tambahnya.
Helmi yang telah berpengalaman selama 20 tahun di pertanaman singkong dan industri pengolahan tapioka ini menjelaskan secara garis besar proses pembuatan tepung tapioka di pabrik. “Pertama proses bongkar yang harus cepat, murah, dan efisien. Setelah itu pencucian singkong dari tanah. Kemudian singkong diparut, selanjutnya diekstraksi atau dipisah antara ampas dan pati nya. Pati ini kemudian dikeringkan di mesin dryer suhu 120 derajat Celcius dan pada akhirnya menjadi tepung tapioka. Jadi kalau ampasnya banyak, pabrik sebetulnya tidak mendapatkan added value,” kata Helmi.

Diakuinya, sebagian petani ada yang mengeluhkan adanya refraksi / potongan harga dari pabrik. Helmi menjelaskan karena terdapat variasi harga antara pabrik. Potongan tinggi tetapi harganya juga tinggi. Helmi memberikan tips untuk mengurangi refraksi.
“Pabrik membutuhkan sekitar 1000 ton singkong per hari. Singkong sebaiknya jangan banyak terdapat tanah ketika diserahkan ke pabrik. Gunakan varietas yang berkadar pati tinggi," jelasnya.
Saat ini pabrik mengutamakan singkong varietas UJ-5 kasesa yang kadar pati bisa mencapai 32 persen. Karena itu, sangat potensial bila diintensifkan penanamannya. Di pabrik sendiri ada alat hitung rendemen yang digital dan lebih presisi. Panen juga harus cukup umur tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lama, optimal sekitar 9 – 10 bulan.

"Bila varietas nya tidak tepat, waktu panen terlalu cepat, apalagi dipengaruhi musim hujan, maka kadar pati nya sedikit hanya 18 - 20 persen, yang ini akan merugikan pabrik. Banyak petani yang kurang memahami hal ini, sehingga perlu disosialisasikan. Petani sebagian ada yang berpikir bagaimana panen secepatnya dan mencari pabrik yang mau beli dengan harga tinggi. Sebenarnya mutu singkong itulah yang terlebih dahulu harus ditingkatkan," tambah Helmi.
Proses budidaya juga berpengaruh, sebab singkong banyak menyerap unsur hara sehingga pH tanah saat ini menurut perkiraan Helmi berada pada angka 4 atau 5 , sehingga diperlukan pembenah tanah agar tanah sehat kembali. Pengolahan lahan yang baik juga diperlukan agar meminimalkan resiko OPT. Pabrik dapat berperan sebagai offtaker, dan menjaga konsistensi menerima mitra petani lokal yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pabrik.
Harga tepung tapioka menurut Helmi, bukan Indonesia yang menentukan melainkan berdasarkan mekanisme pasar dan penuh persaingan, sehingga hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri tapioka.
“Persaingan terjadi di antara sesama produk tepung, yaitu tepung singkong (tapioka), tepung jagung, tepung beras, dan tepung kentang. Selain itu persaingan juga berada di pasar dunia, antara negara-negara produsen tapioka seperti Thailand, Laos, Kamboja. Singkong petani kita harus ditingkatkan daya saingnya. Jadi pengolahan dan pasca panen singkong ini diperlukan effort dan sinergi dari semua pihak, petani, industri, dan pemerintah untuk menjaga keberlanjutan singkong, “ tuturnya.
Helmi juga mengharapkan adanya sistem terintegrasi zero waste technology di mana proses di industri tapioka terutama dari limbahnya bisa dimanfaatkan untuk biogas, pakan ternak, maupun pupuk organik. Hal ini dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi perusahaan, petani, dan lingkungan.