
Plt. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Dodo Gunawan
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan pada tahun 2023 musim kemarau akan menjadi lebih kering dibandingkan dengan periode tiga tahun terakhir (2020-2022). Hal ini karena intensitas hujan pada musim kemarau tahun ini akan turun drastis, meski tiga tahun terakhir masih sering terjadi hujan saat musim kemarau.
Hasil monitoring BMKG, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menunjukkan intensitas La Nina yang terus melemah. “Indeks per Januari 2023 dasarian pertama sebesar minus 0,80 dan pada dasarian kedua adalah sebesar minus 0.65,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.
Sementara itu Plt. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Dodo Gunawan yang juga Kepala Pusat dan Data Informasi BMKG mengatakan, dari prediksi BMKG, kondisi La Nina akan terus melemah dan beralih menjadi kondisi ENSO Netral pada Februari-Maret 2023. Kondisi ENSO Netral diproyeksikan akan berlangsung hingga pertengahan tahun 2023.
“Pada semester kedua tahun 2023, ada kemungkinan sekitar 40-50?hwa kondisi tersebut ENSO Netral akan berlanjut hingga akhir tahun,” katanya. Namun lanjutnya, di sisi lain ada peluang yang relatif sama bahwa kondisi ENSO Netral akan berkembang menjadi El Nino yang lemah, terutama setelah periode Juni-Juli-Agustus 2023.
Dodo mengungkapkan, kemungkinan El Nino lemah hadir pada periode Juni hingga Agustus mencapai 50%. Kondisi ini berdampak pada penurunan curah hujan dan dapat meningkatkan risiko kekeringan. “Kondisi tersebut tidak akan berlangsung terlalu lama dan diharapkan sudah berakhir pada bulan Oktober,” tambahnya.
Awal Kemarau 2023
Mengenai awal musim kemarau, Dodo menjelaskan, berdasarkan prakiraan musim kemarau 2023 pada 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia. Sebagian besar wilayah diprakirakan akan mengalami awal musim kemarau pada rentang April hingga Juni 2023 sebanyak 430 ZOM atau 61,52%.
Dibandingkan dengan kondisi normal pada periode 1991-2020, sebanyak 289 ZOM atau 41,34% wilayah diprakirakan akan mengalami awal musim kemarau yang lebih cepat atau maju. Sementara itu, sebanyak 200 ZOM atau 28,61% wilayah diprakirakan akan mengalami awal musim kemarau yang sama seperti normal dan 95 ZOM atau 13,59% wilayah diprakirakan akan mengalami awal musim kemarau yang lebih lambat atau mundur dari kondisi normal.
Adapun wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih awal pada April mendatang meliputi Bali, NTB, NTT, sebagian besar Jawa Timur. Sedangkan wilayah yang memasuki musim kemarau pada Mei meliputi sebagian besar Jawa Tengah, Yogyakarta, sebagian besar Jawa Barat, sebagian besar Banten, sebagian Pulau Sumatera bagian selatan, Papua bagian selatan.
Untuk wilayah yang baru memasuki musim kemarau pada bulan Juni meliputi Jakarta, sebagian kecil Pulau Jawa, sebagian besar Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Riau, sebagian besar Sumatera Barat, sebagian Pulau Kalimantan bagian selatan, dan sebagian besar Pulau Sulawesi bagian utara.
Terkait puncak musim kemarau 2023 diprediksikan akan terjadi pada Agustus 2023 mendatang, Dodo mengungkapkan, BMKG memprediksi musim kemarau di Nusa Tenggara Timur (NTT) akan tiba lebih awal pada April 2023. Dalam prediksi tersebut, curah hujan di wilayah ini diperkirakan akan lebih rendah. Sekitar 16 Zom atau 57,14 persen wilayah NTT akan mengalami kondisi curah hujan yang rendah. Namun, terdapat 4 Zom yang diprediksi akan mengalami curah hujan di atas normal.
Wilayah-wilayah yang diprediksi akan mengalami musim kemarau di bawah normal antara lain Kabupaten Manggarai Timur, Ngada, sebagian kecil Kabupaten Nagekeo, sebagian kecil Kabupaten Ende, Sikka, sebagian Flores Timur, Lembata, Alor, Sumba Timur, Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sabu Raijua, Rote Ndao, sebagian kecil Kabupaten Kupang, sebagian kecil TTS, sebagian besar Belu, dan sebagian lagi di Kabupaten Malaka.
“Puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi pada Agustus dengan sekitar 17 Zom atau 60,70 persen wilayah NTT yang akan mengalami puncak musim kemarau pada bulan tersebut,” ujarnya.
Prakiraan BMKG menunjukkan awal musim kemarau 2023 di Jawa Tengah akan dimulai pada Mei 2023 di sebagian besar wilayah. Diantaranya, Kota Pekalongan, Kabupaten Rembang, dan beberapa wilayah di Kabupaten Demak, Jepara, Kudus, dan Pati.
Namun, di beberapa wilayah seperti Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Wonosobo, serta sebagian wilayah Kabupaten Cilacap dan Pemalang, musim kemarau diperkirakan akan dimulai lebih lambat, yaitu pada pertengahan Juni 2023. Tidak hanya itu, beberapa wilayah di Jawa Tengah juga diprakirakan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2023, seperti sebagian wilayah Kabupaten Kendal dan Cilacap.
“Meskipun musim kemarau diperkirakan akan datang lebih awal di beberapa wilayah, masyarakat tetap perlu waspada terhadap kemungkinan terjadinya kekeringan dan menyiapkan langkah-langkah penghematan air yang tepat,” kata Dodo mengingatkan.