Wednesday, 21 October 2026


Manfaatkan Hasil Tangkapan Ikan Sapu sapu, Ini Saran Guru Besar IPB

12 May 2026, 16:40 WIBEditor : Yulianto

Ikan sapu sapu hasil tangkapan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Ikan sapu-sapu kini menjadi penguasa sungai-sungai di Ibukota Negara, DKI Jakarta. Tingginya populasi ikan tersebut mendorong Pemda DKI melakukan penangkapan masal. Pertanyaan setelah ditangkap mau dikemanakan? 

Pembasmian ikan sapu-sapu (pleco) di perairan DKI Jakarta dinilai sebagai langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, di balik upaya tersebut, terdapat peluang pemanfaatan yang belum banyak dioptimalkan.

Guru Besar Teknologi Hasil Perikanan IPB University, Prof Mala Nurilmala menekankan bahwa hasil pembasmian seharusnya tidak berakhir menjadi limbah semata. Karena itu, ia mendorong agar ikan sapu-sapu diolah menjadi produk bernilai guna. Salah satunya pupuk cair untuk tanaman hias.

Pendekatan ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu menghadirkan nilai tambah dari hasil pengendalian spesies invasif. “Sebaiknya ikan sapu-sapu dimanfaatkan untuk pupuk cair tanaman hias. Memang tidak bisa digunakan lagi untuk makhluk hidup karena berada di perairan yang sangat tercemar oleh logam berat,” ujarnya.

Prof Mala menjelaskan, ikan sapu-sapu yang hidup di sungai-sungai Jakarta berisiko tinggi terpapar logam berat. Kondisi ini membuatnya tidak aman untuk dikonsumsi manusia maupun dimanfaatkan sebagai pakan ternak, karena berpotensi menimbulkan akumulasi zat berbahaya dalam rantai makanan.

“Ikan dari perairan tercemar tidak hanya berisiko bagi manusia, tetapi juga jika digunakan sebagai pakan ternak. Logam beratnya bisa terakumulasi,” katanya seperti dikutip dari laman IPB University.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut tidak berlaku bagi ikan sapu-sapu yang hidup di perairan bersih. Dalam lingkungan yang tidak tercemar, ikan ini pada dasarnya masih dapat dimanfaatkan sebagaimana ikan pada umumnya.

Keseimbangan Ekosistem

Lebih jauh, Prof Mala menyoroti sifat adaptif ikan sapu-sapu yang membuat populasinya sulit dikendalikan. Tanpa adanya keseimbangan ekosistem dan predator alami, spesies ini dapat berkembang pesat, mendominasi habitat, serta mengancam keberadaan ikan lokal.

“Sebenarnya ikan ini bisa membantu menyerap logam di perairan. Namun karena ekosistemnya tidak seimbang, populasinya menjadi sangat banyak dan berdampak negatif,” tuturnya.

Dalam konteks tersebut, pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi pupuk tanaman hias dinilai sebagai solusi yang lebih bijak dibandingkan penguburan. Selain memberikan manfaat, langkah ini juga dapat mengurangi potensi penumpukan limbah organik yang sulit terurai, mengingat struktur tubuh ikan sapu-sapu yang relatif keras.

Dengan pendekatan inovatif ini, pembasmian ikan sapu-sapu tidak hanya berhenti sebagai upaya pengendalian populasi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari solusi berkelanjutan mengubah persoalan lingkungan menjadi peluang yang bernilai bagi masyarakat. 

Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) merupakan ikan asing introduksi yang dikenal sebagai spesies invasif dengan kemampuan reproduksi sangat tinggi. Dalam satu siklus, seekor betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur dan dapat berkembang biak beberapa kali dalam setahun.

Satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina. Ikan jantan akan menjaga telur di dalam liang yang mereka gali sampai menetas, sehingga persentase kelangsungan hidup bisa mencapai lebih dari 90 persen. Tak hanya itu, ikan ini mampu bereproduksi pada ukuran yang masih kecil (23,9–28,99 cm untuk jantan dan 13,0–25,98 cm untuk betina), sehingga mempercepat siklus invasi.

Ikan ini juga bersifat omnivora dan memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap berbagai sumber makanan. Di habitat asalnya di Sungai Amazon, Amerika Selatan, predator alami ikan sapu-sapu adalah ikan Common Snook (Centropomus undecimalis), ikan Tarpon (Megalops atlanticus), buaya Spectacled Caiman (Caiman crocodilus), dan burung Neotropic Cormorant (Phalacrocorax brasilianus).

Reporter : Julian
Sumber : IPB University
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018