Wednesday, 21 October 2026


PM-AAS Bikin Populasi Padi Lebih Padat, Begini Cara Mencegah Tanaman Rebah

17 Jul 2026, 11:54 WIBEditor : Gesha

Penerapan PM-AAS membuat populasi padi lebih padat. Agar tanaman tetap kokoh dan tidak rebah, petani perlu menerapkan teknik budidaya yang tepat.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Penerapan PM-AAS membuat populasi padi lebih padat. Agar tanaman tetap kokoh dan tidak rebah, petani perlu menerapkan teknik budidaya yang tepat.

Penerapan Pertanian Modern melalui Advanced Agricultural System (PM-AAS) mampu meningkatkan populasi tanaman padi secara signifikan. 

Dengan jarak tanam yang lebih rapat dan populasi yang lebih padat, produktivitas berpeluang meningkat.

Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko tanaman rebah apabila tidak diimbangi dengan penerapan budidaya yang tepat.

Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi), Amin Nur, mengatakan tanaman rebah menjadi salah satu tantangan yang harus diantisipasi dalam penerapan PM-AAS. 

Karena itu, BRMP Padi telah menyiapkan sejumlah rekomendasi teknis agar tanaman tetap kokoh hingga panen.

Menurut Amin, keberhasilan PM-AAS tidak hanya ditentukan oleh peningkatan populasi tanaman, tetapi juga kemampuan petani menjaga ketahanan batang dan sistem perakaran padi.

"PM-AAS memang mendorong populasi tanaman lebih tinggi sehingga potensi hasil meningkat. Namun, seluruh komponen budidaya harus diterapkan secara lengkap agar tanaman tetap kuat dan tidak mudah rebah," kata Amin Nur.

Ia menjelaskan, tanaman rebah tidak hanya menyebabkan kehilangan hasil saat panen, tetapi juga menurunkan kualitas gabah, menyulitkan proses panen, hingga meningkatkan risiko serangan penyakit.

Karena itu, penerapan teknologi budidaya yang tepat menjadi bagian penting dalam paket teknologi PM-AAS.

Langkah pertama untuk mencegah tanaman rebah adalah menggunakan Varietas Unggul Baru (VUB) yang memiliki karakter batang kokoh dan sistem perakaran kuat.

Berdasarkan materi BRMP Padi, varietas yang digunakan sebaiknya memiliki ketahanan terhadap penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB).

Tanaman dengan batang yang kokoh mampu menopang malai yang berisi penuh saat memasuki fase pengisian bulir hingga panen. Sementara perakaran yang kuat membantu tanaman tetap tegak meski diterpa angin maupun hujan.

Amin mengatakan pemilihan varietas menjadi fondasi penting sebelum petani menerapkan teknologi lainnya.

"Kalau varietasnya sudah memiliki batang kuat dan akar yang baik, potensi rebah bisa ditekan sejak awal. Jadi bukan hanya mengejar hasil tinggi, tetapi juga memastikan tanaman mampu menopang hasil tersebut," ujarnya.

Selain varietas unggul, BRMP Padi juga merekomendasikan penggunaan pupuk silika cair secara berkala.

Aplikasi pupuk silika dilakukan pada umur tanaman 15 Hari Setelah Sebar (HSS), 25 HSS, 35 HSS, 45 HSS, dan 55 HSS sesuai rekomendasi PM-AAS.

Silika berperan memperkuat dinding sel tanaman sehingga batang menjadi lebih kokoh. Unsur tersebut juga membantu tanaman lebih tahan terhadap tekanan lingkungan.

Menurut Amin, pemberian silika menjadi salah satu pembeda dalam budidaya modern karena mampu meningkatkan kekuatan mekanis tanaman.

Dengan batang yang lebih kuat, risiko rebah akibat hujan deras maupun angin kencang dapat ditekan.

BRMP Padi juga mengingatkan pentingnya mengembalikan jerami ke lahan setelah panen.

Panen dianjurkan dilakukan saat tanaman telah mencapai masak fisiologis, yaitu ketika bulir padi menguning sekitar 85–90 persen.

Setelah panen, jerami sebaiknya tidak dibakar, melainkan dikembalikan ke lahan dan didekomposisikan secara in situ.

Jerami diketahui mengandung silika yang cukup tinggi sehingga dapat menjadi sumber hara bagi tanaman berikutnya.

Menurut Amin, pengembalian jerami bukan hanya meningkatkan kandungan bahan organik tanah, tetapi juga membantu mempertahankan ketersediaan silika secara alami.

"Jerami sebenarnya memiliki nilai yang sangat besar. Selain memperbaiki kesuburan tanah, kandungan silikanya juga membantu memperkuat tanaman pada musim tanam berikutnya," jelasnya.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah pengelolaan air.

Dalam PM-AAS, BRMP Padi merekomendasikan penggunaan sistem irigasi Alternate Wetting and Drying (AWD) atau pengairan berselang.

Melalui sistem ini, lahan tidak terus-menerus digenangi air, melainkan mengikuti jadwal pengairan intermiten.

Metode AWD dinilai mampu memperkuat perkembangan akar sehingga tanaman menjadi lebih kokoh.

Selain itu, sistem perakaran yang berkembang optimal membuat tanaman lebih efisien menyerap air dan unsur hara.

Amin mengatakan pengelolaan air yang tepat akan mendukung pembentukan batang yang kuat sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan air.

"AWD bukan sekadar menghemat air, tetapi juga membantu pembentukan akar yang lebih sehat. Ketika akar berkembang baik, tanaman akan lebih kuat menopang pertumbuhannya," katanya.

Menurut Amin, peningkatan populasi tanaman dalam PM-AAS memang menjadi salah satu strategi meningkatkan produktivitas.

Namun, seluruh komponen teknologi harus diterapkan secara bersamaan, mulai dari penggunaan varietas unggul, pemupukan, pengelolaan jerami, hingga manajemen air.

Apabila salah satu komponen diabaikan, potensi tanaman rebah akan meningkat dan dapat mengurangi hasil panen.

Ia menegaskan PM-AAS bukan hanya mengubah pola tanam, melainkan merupakan sistem budidaya terpadu yang saling mendukung.

"Teknologi ini merupakan satu paket. Semua komponennya saling berkaitan. Kalau diterapkan secara utuh, populasi tinggi justru bisa menghasilkan produksi yang tinggi tanpa meningkatkan risiko rebah," ujarnya.

BRMP Padi menilai pencegahan tanaman rebah menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung keberhasilan PM-AAS di berbagai daerah.

Tanaman yang tetap tegak hingga panen akan menghasilkan gabah dengan kualitas lebih baik, memudahkan proses panen mekanis, serta mengurangi kehilangan hasil di lapangan.

Melalui kombinasi penggunaan varietas unggul berbatang kokoh, aplikasi pupuk silika sesuai fase pertumbuhan, pengembalian jerami ke lahan, serta penerapan sistem irigasi AWD, BRMP Padi optimistis produktivitas padi dapat terus ditingkatkan tanpa mengorbankan stabilitas tanaman.

Amin berharap petani tidak hanya mengadopsi sebagian teknologi PM-AAS, tetapi menerapkan seluruh rekomendasi budidaya secara konsisten agar tujuan meningkatkan produksi nasional dapat tercapai.

"Target utama PM-AAS adalah menghasilkan tanaman yang produktif, sehat, dan kokoh sampai panen. Dengan penerapan teknologi yang tepat, populasi padi yang lebih padat justru menjadi peluang untuk meningkatkan produksi sekaligus menjaga kualitas hasil panen," tutup Amin Nur.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018