
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq optimistis program Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PMAAS) mampu meningkatkan produktivitas padi hingga 10 ton per hektare. Jika berhasil, model pertanian modern tersebut akan diper
TABLOIDSINARTANI.COM, Sukabumi -- Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq optimistis program Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) mampu meningkatkan produktivitas padi hingga 10 ton per hektare. Jika berhasil, model pertanian modern tersebut akan diperluas untuk memperkuat swasembada dan ketahanan pangan nasional.
Optimisme tersebut disampaikan Hanif saat meninjau pembangunan demplot PM-AAS di Kelurahan Situmekar, Kota Sukabumi, Rabu (29/7). Menurutnya,PM-AAS merupakan inovasi budidaya yang dirancang untuk menghasilkan populasi tanaman lebih tinggi dibandingkan metode tanam konvensional sehingga berpotensi meningkatkan hasil panen secara signifikan.
"PM-AAS ini memiliki kelebihan jumlah pohon yang ditanam relatif lebih banyak daripada sistem biasa. Untuk satu hektare bahkan sampai sekitar 80 kilogram benih yang ditabur. Ini artinya suatu metodologi yang terus ditingkatkan," ujar Hanif.
Ia menilai, apabila hasil demplot menunjukkan produktivitas sesuai target, PM-AAS layak dijadikan model pengembangan pertanian modern di berbagai daerah di Indonesia. Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan upaya pemerintah mempercepat pencapaian swasembada pangan nasional.
Menurut Hanif, keberhasilan program tidak hanya diukur dari peningkatan produksi, tetapi juga kemampuannya menciptakan sistem budidaya yang lebih efisien, modern, dan mudah direplikasi oleh petani di berbagai wilayah.
"Demplot-demplot ini berdasarkan penjelasan dari BRMP akan terus dikembangkan dan menjadi model utama apabila tingkat keberhasilannya semakin tinggi. Kita menyambut baik upaya memperkokoh swasembada padi dan beras yang dibangun bersama seluruh jajaran Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, serta didukung para kepala daerah di seluruh Indonesia," katanya.
Selain peningkatan produksi, Hanif juga menekankan pentingnya penguatan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Menurutnya, setiap daerah harus mampu menghitung kebutuhan pangan masyarakat secara detail agar memiliki cadangan yang cukup ketika terjadi kondisi darurat.
"Cadangan Pangan Pemerintah harus dihitung dengan detail, seberapa besar jumlah penduduk, seberapa besar petani menghasilkan padi, sisanya harus disiapkan dalam bentuk Cadangan Pangan Pemerintah. Ini untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan di suatu hari nanti," ujarnya.
Hanif menambahkan, swasembada pangan tidak hanya bertumpu pada komoditas padi, tetapi juga harus didukung pengembangan berbagai komoditas pangan strategis melalui kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, petani, akademisi, hingga dunia usaha.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, mengatakan PM-AAS menjadi salah satu inovasi unggulan pemerintah daerah untuk meningkatkan produktivitas pertanian meski Kota Sukabumi memiliki luas wilayah yang relatif terbatas, yakni sekitar 48 kilometer persegi.
Ia menjelaskan, salah satu keunggulan PMAAS terletak pada penggunaan teknologi dalam proses penebaran benih. Dengan sistem tersebut, sebanyak 85 kilogram benih per hektare dapat ditebar hanya dalam waktu sekitar setengah hari sehingga pekerjaan petani menjadi lebih cepat dan efisien.
"Kota Sukabumi walaupun luasnya kecil, tapi inovasi kami tidak terbatas. Melalui PM-AAS, penebaran benih menggunakan teknologi sehingga satu hektare dengan 85 kilogram benih bisa diselesaikan hanya dalam waktu setengah hari," katanya.
Tidak hanya itu, demplot PM-AAS juga dilengkapi berbagai teknologi pendukung untuk mengurangi risiko serangan hama maupun gangguan burung. Pemerintah Kota Sukabumi menargetkan panen perdana dilakukan pada September 2026 dengan produktivitas mencapai 10 ton per hektare.
Target tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan produktivitas padi Kota Sukabumi saat ini yang telah mencapai sekitar 6,7 ton per hektare, atau berada di atas rata-rata nasional yang berkisar 5,5 ton per hektare.
Bobby berharap keberhasilan PM-AAS dapat memperkuat stok Cadangan Pangan Pemerintah sekaligus menjadi bukti bahwa penerapan teknologi mampu meningkatkan daya saing sektor pertanian nasional.
"Mudah-mudahan harapan Pak Wamen agar stok pangan kita menjadi Cadangan Pangan Pemerintah bisa tercapai. Kami juga berharap sinergi dengan pemerintah pusat terus diperkuat agar semangat berinovasi petani meningkat dan produktivitas terus bertambah sesuai target yang direncanakan," pungkasnya.



