Saturday, 08 August 2026


BRMP: PM-AAS Jadikan Tanam Lebih Rapi, Biaya Lebih Hemat, Hasil Panen Meningkat

05 Aug 2026, 11:08 WIBEditor : Gesha

BRMP mengenalkan PM-AAS sebagai sistem budidaya padi modern yang membuat tanam lebih rapi, biaya produksi lebih hemat, dan hasil panen meningkat.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – BRMP mengenalkan PM-AAS sebagai sistem budidaya padi modern yang membuat tanam lebih rapi, biaya produksi lebih hemat, dan hasil panen meningkat.

Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi) terus mendorong penerapan Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) sebagai model budidaya padi modern untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya usaha tani. 

Sistem ini dirancang agar petani mampu bertanam lebih rapi, memanfaatkan teknologi secara optimal, dan memperoleh hasil panen yang lebih tinggi.

Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi), Amin Nur, mengatakan PM-AAS merupakan penyempurnaan berbagai teknologi budidaya yang selama ini telah diterapkan petani. 

Berbagai inovasi tersebut kemudian dipadukan dengan mekanisasi, digitalisasi, serta pertanian presisi sehingga lebih mudah diterapkan di lapangan.

"Tahun ini PM-AAS ditargetkan diterapkan di lahan seluas sekitar satu juta hektare. Secara bertahap, tahun depan targetnya meningkat menjadi tiga juta hektare. Ini menjadi tantangan bersama karena kita ingin petani benar-benar merasakan manfaat teknologi melalui peningkatan produksi dan efisiensi biaya," ujar Amin dalam Webinar Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS): Revolusi Padi, Rabu (05/08).

Menurut Amin, PM-AAS bukan sekadar memperkenalkan alat atau mesin pertanian. 

Lebih dari itu, sistem ini mengubah cara budidaya menjadi lebih efisien mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, pengairan, pengendalian hama dan penyakit, hingga panen.

Ia menegaskan, tujuan utama PM-AAS adalah meningkatkan hasil panen tanpa membebani petani dengan biaya produksi yang semakin tinggi.

"Harapan kami, produksi meningkat, tetapi biaya usaha tani justru lebih hemat. Dengan begitu keuntungan petani juga ikut bertambah," katanya.

Lebih lanjut Amin menjelaskan, PM-AAS lahir sebagai jawaban atas berbagai tantangan yang kini dihadapi sektor pertanian Indonesia.

Persoalan pertama adalah produktivitas padi nasional yang masih belum mampu mencapai potensi hasil varietas unggul. 

Padahal berbagai varietas padi yang telah dilepas pemerintah memiliki potensi produksi jauh lebih tinggi dibanding rata-rata hasil panen petani saat ini.

"Kita masih punya ruang besar untuk meningkatkan produktivitas. Salah satunya melalui perbaikan sistem budidaya," ujarnya.

Tantangan berikutnya adalah perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi. Intensitas banjir maupun kekeringan semakin sering terjadi sehingga memengaruhi pertumbuhan tanaman padi.

Menurut Amin, kondisi tersebut mengharuskan petani menerapkan teknologi yang lebih adaptif agar tanaman tetap tumbuh optimal meski menghadapi cuaca ekstrem.

Selain itu, sektor pertanian juga menghadapi persoalan regenerasi petani. Saat ini sebagian besar petani berusia di atas 40 tahun, sementara minat generasi muda untuk bertani masih relatif rendah.

Karena itu, BRMP Padi berupaya menghadirkan sistem budidaya yang lebih modern sehingga mampu menarik minat petani milenial.

"Kalau pertanian sudah menggunakan teknologi, alat mesin, digitalisasi, hingga drone, tentu akan lebih menarik bagi generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian," jelasnya.

Amin menilai perkembangan teknologi pertanian di Indonesia sebenarnya cukup pesat. 

Berbagai inovasi telah tersedia, mulai dari alat tanam, drone penyemprot, alat panen modern hingga teknologi digital.

Namun, pemanfaatannya di tingkat petani masih belum optimal.

Melalui PM-AAS, seluruh teknologi tersebut disusun menjadi satu paket budidaya sehingga lebih mudah diterapkan petani.

"Mulai dari tanam sampai panen kita dorong menggunakan teknologi presisi. Tujuannya bukan sekadar modern, tetapi benar-benar membuat pekerjaan petani lebih mudah, lebih cepat, dan lebih hemat biaya," katanya.

Kajian Berbagai Negara

Amin mengungkapkan PM-AAS lahir setelah dilakukan berbagai kajian terhadap teknologi budidaya padi yang berkembang di sejumlah negara.

Salah satunya adalah hasil pembelajaran dari China yang kemudian dipadukan dengan teknologi budidaya di Vietnam dan teknologi yang selama ini telah berkembang di Indonesia.

Amin menambahkan, Indonesia sendiri telah lama mengenal sistem tanam Jajar Legowo, baik Legowo 2:1, 4:1 maupun 6:1.

Seluruh teknologi tersebut kemudian dirakit kembali oleh BRMP Padi menjadi sistem budidaya yang lebih lengkap dan efisien.

"Sejak 2024 kami melakukan berbagai pengkajian dan uji lapang. Penyempurnaan terus dilakukan hingga akhirnya lahir PM-AAS yang saat ini mulai diterapkan lebih luas," kata Amin.

Di lahan percontohan BRMP Padi, sistem ini telah diterapkan di areal pertanaman yang luas dan menjadi laboratorium lapangan bagi petani, penyuluh, mahasiswa maupun pemerintah daerah.

Hampir setiap hari lokasi tersebut dikunjungi berbagai pihak yang ingin melihat secara langsung penerapan PM-AAS di lapangan.

"Kami ingin petani tidak hanya mendengar teorinya, tetapi juga melihat langsung hasilnya di lapangan," ujarnya.

Lantas salah satu keunggulan dari PM-AAS adalah pertanaman menjadi lebih rapi.. klik selanjutnya..

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018