
Anak muda kini punya peran besar dalam mendorong pertanian Indonesia naik level. Dengan menguasai teknologi pertanian presisi, mekanisasi, dan digitalisasi, generasi muda disiapkan menjadi penggerak pertanian modern sekaligus mempercepat swasembada pangan
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Anak muda kini punya peran besar dalam mendorong pertanian Indonesia naik level. Dengan menguasai teknologi pertanian presisi, mekanisasi, dan digitalisasi, generasi muda disiapkan menjadi penggerak pertanian modern sekaligus mempercepat swasembada pangan nasional.
Wajah pertanian Indonesia mulai berubah. Anak muda kini tak hanya didorong untuk turun ke sawah dan lahan pertanian, tetapi juga dituntut menguasai teknologi. Mulai dari mekanisasi, digitalisasi hingga precision agriculture, teknologi menjadi senjata baru untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Perubahan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Millennial Agriculture Forum (MAF) Vol. 7 Edisi 31 yang digelar Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, Sabtu (1/8/2026).
Mengangkat tema “Precision Agriculture: Transformasi Mekanisasi Pertanian Menuju Swasembada Pangan”, forum tersebut membahas bagaimana teknologi pertanian presisi dan mekanisasi bisa diterapkan untuk menghadapi tantangan pertanian masa depan.
Bukan tanpa alasan. Tantangan pertanian semakin kompleks. Petani dituntut menghasilkan lebih banyak produksi, tetapi di sisi lain harus bekerja lebih efisien, menghemat biaya, menggunakan sumber daya secara tepat dan menghadapi perubahan kondisi di lapangan.
Di sinilah pertanian presisi mulai memainkan peran penting.
Teknologi presisi memungkinkan kegiatan budidaya dilakukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan lahan. Dengan dukungan data, sensor, perangkat digital, mesin pertanian dan teknologi navigasi, pekerjaan di lahan dapat dilakukan dengan tingkat ketepatan yang lebih tinggi.
Sementara mekanisasi membantu mengurangi ketergantungan terhadap tenaga kerja manual sekaligus mempercepat proses budidaya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan teknologi terapan menjadi salah satu kunci untuk mendorong kemajuan pertanian Indonesia.
“Teknologi terapan adalah kunci kebangkitan pertanian Indonesia. Brigade Pangan menjadi ujung tombak di lapangan, dan generasi milenial harus berada di depan dalam menguasai inovasi,” ujar Amran.
Menurutnya, pemerintah terus mendorong pengembangan alat, mekanisasi dan teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Pesannya jelas: anak muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus memahami cara kerja dan mampu menerapkannya di lapangan.
Sebab, secanggih apa pun mesin atau perangkat digital yang digunakan, hasil akhirnya tetap bergantung pada orang yang mengoperasikan dan mengambil keputusan berdasarkan teknologi tersebut.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan hal serupa. Menurutnya, ketahanan pangan bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga kualitas manusia yang menggunakannya.
“Ketahanan pangan tidak hanya bertumpu pada teknologi, tetapi pada manusia yang mengoperasikan dan memanfaatkannya,” kata Idha.
Karena itu, SDM pertanian harus terus belajar dan beradaptasi. Apalagi perkembangan teknologi berjalan sangat cepat. Teknologi yang hari ini masih dianggap baru bisa saja menjadi kebutuhan standar dalam beberapa tahun ke depan.
Idha mengatakan SDM pertanian harus adaptif, kreatif dan mampu menerapkan teknologi secara efektif.
Melalui pendidikan vokasi, Polbangtan Kementan didorong menjadi salah satu tempat untuk menyiapkan generasi muda yang tidak gagap teknologi. Lulusan pertanian diharapkan mampu menghubungkan teknologi dengan kebutuhan nyata petani di lapangan.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan), Muhammad Amin, juga mengingatkan generasi muda pertanian agar tidak berhenti belajar.
“Mari kita manfaatkan sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan. Kita harus terus belajar tanpa batas, terus mencari dan menggali berbagai informasi yang dapat menjadi referensi bagi petani, kelompok tani, maupun Brigade Pangan,” ungkap Amin.
Menurutnya, teknologi pertanian akan memberi manfaat lebih besar jika pengetahuan tersebut bisa diterjemahkan menjadi solusi yang benar-benar dibutuhkan petani.
Artinya, anak muda pertanian bukan hanya dituntut mampu mengoperasikan mesin atau aplikasi. Mereka juga harus memahami persoalan usaha tani, mulai dari pengolahan lahan, tanam, pemupukan, pengendalian organisme pengganggu tanaman, panen hingga pengelolaan usaha.
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto, mengatakan penguatan SDM menjadi fondasi penting dalam transformasi pertanian berbasis teknologi.
Menurutnya, MAF bukan sekadar forum diskusi. Kegiatan tersebut menjadi ruang bertemunya akademisi, pelaku industri dan praktisi pertanian untuk bertukar pengalaman mengenai penerapan teknologi di lapangan.
Kolaborasi semacam ini penting karena teknologi pertanian tidak bisa berjalan sendiri. Dunia pendidikan perlu memahami kebutuhan industri dan petani, sementara industri juga perlu mendapatkan masukan dari pengguna teknologi di lapangan.
Dalam forum tersebut, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember, Bayu Taruna Widjaja Putra, menjelaskan perkembangan precision agriculture sebagai pendekatan yang dapat membantu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani.
Pertanian presisi pada dasarnya mendorong petani mengambil keputusan berdasarkan data dan kondisi nyata di lahan. Dengan begitu, penggunaan input pertanian dapat diarahkan agar lebih tepat sesuai kebutuhan.
Pendekatan ini menjadi penting karena biaya produksi merupakan salah satu tantangan utama usaha tani. Penggunaan pupuk, air, bahan bakar, tenaga kerja maupun pestisida yang tidak tepat dapat meningkatkan biaya tanpa selalu memberikan hasil yang sebanding.
Dengan teknologi presisi, penggunaan berbagai input tersebut diharapkan dapat dilakukan secara lebih terukur.
Sementara itu, SEA Area Manager FJ Dynamics, Agung Pratikto, memperkenalkan sejumlah inovasi mekanisasi pertanian modern yang mendukung penerapan pertanian presisi.
Teknologi mekanisasi tidak hanya berbicara mengenai mengganti tenaga manusia dengan mesin. Lebih jauh, mesin modern dapat membantu pekerjaan pertanian menjadi lebih cepat, tepat dan terukur.
Contohnya pada kegiatan pengolahan lahan dan penanaman. Ketepatan kerja mesin dapat membantu menjaga pola kerja di lahan sekaligus menghemat waktu dan tenaga.
Dari sisi praktik, Direktur UPJA Taju Jawa, Klaten, Jawa Tengah, Didik Purwadi Nugroho, membagikan pengalaman pengelolaan mekanisasi melalui kelembagaan Usaha Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA).
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penggunaan alat dan mesin pertanian tidak harus selalu dilakukan secara individu. Kelembagaan UPJA dapat menjadi salah satu cara agar alat dan mesin pertanian bisa dimanfaatkan bersama dan dikelola secara lebih optimal.
Model seperti ini penting terutama bagi petani yang belum mampu membeli mesin pertanian sendiri.
Dengan adanya kelembagaan jasa alsintan, petani dapat memperoleh akses terhadap alat yang dibutuhkan tanpa harus menanggung seluruh biaya investasi mesin.
Pada akhirnya, mekanisasi dan pertanian presisi bukan hanya soal teknologi canggih. Ada persoalan biaya, kemampuan operator, pemeliharaan mesin, akses petani dan kesiapan kelembagaan yang harus ikut diperhatikan.
Karena itu, SDM menjadi faktor penentu.
Anak muda memiliki peluang besar untuk mengisi kebutuhan tersebut. Mereka relatif lebih dekat dengan teknologi digital dan dapat menjadi penghubung antara inovasi teknologi dengan kebutuhan petani.
Mereka bisa berperan sebagai operator alsintan, teknisi, penyuluh, pengelola UPJA, pendamping Brigade Pangan, pelaku agribisnis hingga technopreneur pertanian.
Kehadiran generasi muda juga diharapkan membuat sektor pertanian semakin menarik bagi generasi berikutnya. Pertanian tidak lagi identik dengan pekerjaan manual yang mengandalkan tenaga fisik semata.
Dengan mekanisasi dan teknologi digital, pertanian bisa menjadi pekerjaan yang membutuhkan kemampuan mengoperasikan mesin, membaca data, membuat perencanaan, mengelola bisnis dan mengambil keputusan.
Antusiasme peserta MAF menunjukkan bahwa isu tersebut semakin mendapat perhatian. Kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting dan YouTube Polbangtan Bogor Official itu diikuti oleh berbagai kalangan yang tertarik terhadap perkembangan teknologi pertanian.
Forum ini sekaligus menunjukkan bahwa transformasi pertanian membutuhkan ekosistem yang kuat. Pemerintah menyiapkan kebijakan dan program, kampus menyiapkan SDM, industri menghadirkan teknologi, sedangkan petani dan pelaku usaha menjadi pengguna sekaligus pemberi masukan dari lapangan.
Jika semua unsur tersebut bisa berjalan bersama, penggunaan mekanisasi pertanian dan precision agriculture berpeluang memberikan dampak lebih besar terhadap produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Pada akhirnya, targetnya bukan sekadar membuat pertanian terlihat modern. Teknologi harus benar-benar membantu petani bekerja lebih cepat, menekan biaya, meningkatkan produktivitas dan memperkuat pendapatan.
Di tengah dorongan menuju swasembada pangan, kebutuhan terhadap SDM pertanian yang menguasai teknologi pun semakin besar.
Kini, anak muda punya peran penting. Bukan hanya sebagai generasi penerus petani, tetapi sebagai penggerak pertanian modern.
Dengan anak muda yang menguasai teknologi, mesin yang semakin presisi dan petani yang semakin terbuka terhadap inovasi, pertanian Indonesia punya peluang besar untuk naik level: dari sekadar mengandalkan tenaga dan pengalaman, menuju pertanian yang lebih modern, efisien, produktif dan berbasis teknologi.



