
Penyuluh Aceh arat dampingi petani Samatiga
TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Barat --- Bertani padi di kawasan pesisir bukan perkara mudah. Petani tidak hanya berhadapan dengan persoalan air dan kesuburan tanah, tetapi juga ancaman intrusi air laut yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Kondisi inilah yang dihadapi petani di Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat.
Sebagian areal persawahan di wilayah tersebut hanya berjarak sekitar 100–200 meter dari pantai Samudra Hindia. Kedekatan dengan laut membuat petani harus lebih cermat mengatur waktu tanam, mengelola lahan, hingga menentukan teknik budidaya agar tanaman padi tetap tumbuh optimal.
Salah satu tantangan terbesar adalah perubahan pola pasang surut air laut. Petani harus memahami kondisi alam sebelum memulai pengolahan tanah dan penanaman. Sebab, kesalahan menentukan waktu tanam dapat meningkatkan risiko masuknya air asin ke areal persawahan dan mengganggu pertumbuhan tanaman.
Selain memperhatikan pasang surut, petani juga perlu memantau kondisi kimia tanah secara berkala. Secara umum, pH tanah di kawasan tersebut berkisar 5–5,5 atau tergolong agak masam. Sementara kadar garam berdasarkan pengamatan petani berada pada kisaran 0,5–1.
Penyuluh Pertanian Kecamatan Samatiga, Teuku Aidi, mengatakan pemilihan varietas menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi kondisi lahan pesisir. Petani setempat menggunakan sejumlah varietas, antara lain varietas unggul lokal, Ciherang Batu, MR, Inpari, serta beberapa varietas lainnya.

“Pemilihan varietas disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi spesifik lokasi,” ujarnya.
Tidak hanya varietas, pengolahan tanah juga harus dilakukan secara tepat agar lahan siap ditanami dan mampu mendukung perkembangan akar. Pengendalian gulma menjadi perhatian berikutnya untuk mencegah persaingan dalam memperoleh unsur hara, air, dan cahaya matahari.
Menurut Teuku Aidi, pemupukan berimbang juga menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Petani perlu memberikan pupuk sesuai kebutuhan tanaman, bukan sekadar mengejar pertumbuhan daun dan batang.
“Kami mengajak petani untuk benar-benar memperhatikan pemupukan berimbang sesuai kebutuhan tanaman. Kelebihan unsur nitrogen (N) tanpa diimbangi unsur hara lainnya dapat menyebabkan pertumbuhan vegetatif berlebihan dan mengganggu pembentukan serta pengisian gabah. Bahkan, berisiko menyebabkan malai hampa,” jelasnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, pendampingan penyuluh pertanian menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan usaha tani. Penyuluh tidak hanya memberikan informasi teknis, tetapi juga mendampingi petani dalam mengenali kondisi lahan dan mengambil keputusan selama musim tanam.
Jauhari, petani dari Desa Suak Timah, mengaku kehadiran penyuluh memberikan motivasi sekaligus membantu petani menghadapi persoalan di lapangan.

“Kami petani di sini harus tetap berusaha semaksimal mungkin. Walaupun tantangan alam tidak mudah, kami harus tetap semangat. Kami juga senang dengan penyuluh yang selalu bersama kami, menjadi motivasi dan tempat bertukar pendapat,” ungkapnya.
Ia mengatakan, petani bersama penyuluh rutin memeriksa kondisi tanah sebelum penanaman, termasuk mengukur pH dan kadar garam secara berkala. Pemantauan hama dan penyakit tanaman juga dilakukan untuk mengantisipasi gangguan yang dapat menurunkan hasil panen.
“Dengan pendampingan ini, kami merasa tidak sendiri dalam berusaha tani,” tambahnya.
Dukungan pemerintah juga dirasakan petani dalam menjalankan usaha tani. Faisal, petani dari Desa Suak Seuke, menilai berbagai kebijakan dan bantuan pemerintah memberikan kemudahan, terutama dalam menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi usaha tani.
“Kami sudah merasakan manfaatnya. Pemerintah juga sangat serius dalam pembangunan pertanian. Penurunan harga pupuk sebesar 20 persen, HPP gabah Rp6.500 per kilogram, serta bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) sangat membantu dan memudahkan usaha tani kami,” tuturnya.
Di balik tantangan geografisnya, Samatiga menyimpan potensi pertanian yang cukup besar. Kecamatan ini memiliki areal persawahan sekitar 840 hektare dengan produktivitas rata-rata mencapai 5,5 ton per hektare.
Dengan capaian tersebut, potensi produksi gabah dapat mencapai sekitar 4.620 ton dalam satu musim panen apabila seluruh areal menghasilkan sesuai produktivitas rata-rata.