Saturday, 08 August 2026


Polbangtan dan PEPI Siapkan Generasi Emas Penggerak PM-AAS di Indonesia

05 Aug 2026, 16:14 WIBEditor : Gesha

BPPSDMP melalui Polbangtan dan PEPI menyiapkan generasi emas pertanian yang menguasai teknologi modern untuk menjadi penggerak utama implementasi PM-AAS di Indonesia.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – BPPSDMP melalui Polbangtan dan PEPI menyiapkan generasi emas pertanian yang menguasai teknologi modern untuk menjadi penggerak utama implementasi PM-AAS di Indonesia.

Keberhasilan implementasi Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) tidak hanya bergantung pada kecanggihan alat dan teknologi. 

Di balik transformasi pertanian tersebut, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu memahami, mengoperasikan, hingga mengembangkan inovasi modern di lapangan. 

Karena itulah, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) menempatkan pendidikan vokasi sebagai fondasi utama dalam mencetak generasi penggerak PM-AAS.

Komitmen itu diwujudkan melalui penguatan pendidikan di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI).

Kedua perguruan tinggi vokasi tersebut kini tidak hanya mengajarkan teori pertanian, tetapi juga membentuk mahasiswa agar siap menghadapi era pertanian modern yang sarat teknologi, digitalisasi, dan mekanisasi.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bagian Perencanaan dan Evaluasi BPPSDMP, Saptorini, dalam Webinar Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bekerja sama dengan PT Pupuk Indonesia di Jakarta, Rabu (5/8).

Menurut Saptorini, keberhasilan PM-AAS sangat bergantung pada kesiapan SDM. 

Oleh sebab itu, proses regenerasi petani modern harus dimulai dari dunia pendidikan agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pertanian masa depan.

"Dari sisi pendidikan, baik pusat pendidikan, Polbangtan maupun PEPI menyiapkan talenta pertanian modern untuk PM-AAS. Kami menyiapkan SDM vokasi yang siap mendukung implementasi pertanian modern," ujar Saptorini.

Ia menjelaskan, BPPSDMP mengembangkan sistem pendidikan vokasi yang mengedepankan konsep link and match antara dunia pendidikan dan kebutuhan lapangan.

Artinya, materi yang dipelajari mahasiswa disusun berdasarkan perkembangan teknologi sekaligus menjawab tantangan yang dihadapi sektor pertanian saat ini.

Pendekatan tersebut membuat proses pembelajaran tidak lagi berpusat pada teori di ruang kelas. 

Sebaliknya, mahasiswa lebih banyak ditempa melalui pengalaman praktik sehingga memiliki keterampilan yang benar-benar dibutuhkan ketika memasuki dunia kerja.

Karena itu, berbagai fasilitas pembelajaran terus diperkuat.

Mulai dari laboratorium, teaching factory, hingga praktik lapangan menggunakan alat dan mesin pertanian modern menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.

Yang menarik, konsep PM-AAS juga telah diterapkan di lahan praktik kampus. .

Dengan cara itu, mahasiswa dapat mempelajari secara langsung bagaimana sistem pertanian modern dijalankan, mulai dari pengolahan lahan, penggunaan mekanisasi, hingga penerapan teknologi budidaya yang lebih efisien.

Menurut Saptorini, pengalaman tersebut menjadi bekal penting agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep PM-AAS, tetapi juga terbiasa menerapkannya sejak masih duduk di bangku kuliah.

"Supaya generasi muda dikenalkan sejak awal dengan metode PM-AAS. Ketika lulus nanti mereka sudah akrab dengan sistem tersebut dan siap menjadi bagian dari pertanian modern," katanya.

Tidak berhenti pada praktik lapangan, BPPSDMP juga memperkuat kompetensi digital mahasiswa.

Sebab, pertanian modern saat ini semakin mengandalkan teknologi berbasis data untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Mahasiswa dibekali kemampuan mengoperasikan alat dan mesin pertanian modern, termasuk drone seeder, memahami pengolahan data dan analitik, serta menguasai konsep precision agriculture yang menjadi salah satu karakter utama PM-AAS.

Dengan penguasaan kompetensi tersebut, lulusan diharapkan mampu mengambil keputusan budidaya secara lebih tepat, mulai dari menentukan waktu tanam, kebutuhan pupuk, pengelolaan air, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman berbasis data.

Saptorini menegaskan, pendidikan vokasi tidak hanya bertujuan menghasilkan lulusan yang siap bekerja. 

Lebih dari itu, pendidikan menjadi instrumen untuk melahirkan agen perubahan yang mampu membawa transformasi pertanian ke tingkat petani.

Karena itu, lulusan Polbangtan dan PEPI dipersiapkan memiliki berbagai pilihan karier. 

Mereka dapat menjadi penyuluh pertanian, operator alat mesin pertanian modern, supervisor lapangan, pendamping petani, maupun wirausahawan muda yang bergerak di bidang agribisnis.

Keberadaan SDM yang menguasai teknologi tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat implementasi PM-AAS di berbagai daerah. 

Pasalnya, modernisasi pertanian tidak cukup hanya menghadirkan inovasi, tetapi juga membutuhkan orang-orang yang mampu menerjemahkan teknologi menjadi solusi nyata bagi petani.

Di sisi lain, penguatan pendidikan vokasi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menjawab tantangan regenerasi petani. Selama ini, sektor pertanian masih menghadapi persoalan minimnya minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian.

Melalui pendekatan pendidikan berbasis teknologi, Kementan ingin mengubah paradigma tersebut.

Pertanian kini diperkenalkan sebagai sektor yang modern, memanfaatkan teknologi digital, mekanisasi, dan inovasi sehingga lebih menarik bagi generasi muda.

Menurut Saptorini, langkah tersebut sekaligus mendukung arah pembangunan nasional yang menempatkan modernisasi pertanian sebagai salah satu prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Karena itu, BPPSDMP terus memperkuat sinergi antara pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan agar lahir SDM pertanian yang benar-benar siap menghadapi perubahan zaman.

Ia optimistis, investasi pada pendidikan vokasi akan menjadi modal besar dalam membangun ekosistem pertanian modern Indonesia. 

Ketika lulusan telah menguasai teknologi sejak di bangku kuliah, proses adopsi PM-AAS di tingkat petani akan berlangsung lebih cepat karena didukung tenaga-tenaga profesional yang memahami kebutuhan lapangan.

"Harapannya, lulusan Polbangtan dan PEPI menjadi penyuluh, pendamping, operator, maupun wirausahawan muda yang mampu menjadi penggerak implementasi PM-AAS di Indonesia," ujarnya.

Pada akhirnya, pendidikan vokasi tidak lagi sekadar menghasilkan lulusan dengan ijazah. Lebih dari itu, pendidikan menjadi pintu masuk untuk mencetak generasi emas pertanian Indonesia yang siap memimpin transformasi menuju pertanian modern. 

Dengan SDM yang unggul, adaptif terhadap teknologi, dan dekat dengan kebutuhan petani, implementasi PM-AAS diyakini akan berjalan lebih cepat sekaligus menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan produktivitas yang lebih tinggi, kesejahteraan petani, dan swasembada pangan yang berkelanjutan.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018