
BPPSDMP menegaskan enam prinsip PM-AAS menjadi pedoman penyuluh pertanian untuk mendongkrak produktivitas padi hingga target 10 ton per hektare melalui pendampingan intensif di lapangan.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – BPPSDMP menegaskan enam prinsip PM-AAS menjadi pedoman penyuluh pertanian untuk mendongkrak produktivitas padi hingga target 10 ton per hektare melalui pendampingan intensif di lapangan.
Enam prinsip utama dalam Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS) menjadi pedoman bagi penyuluh pertanian dalam mendampingi petani menerapkan budidaya padi modern.
Melalui penerapan prinsip tersebut, Kementerian Pertanian menargetkan produktivitas padi dapat meningkat hingga 10 ton per hektare sekaligus mendukung program PM-AAS seluas 1 juta hektare.
Hal itu disampaikan Kepala Bagian Perencanaan dan Evaluasi BPPSDMP, Saptorini, dalam Webinar Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS) yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama PT Pupuk Indonesia di Jakarta, Rabu (5/8).
Saptorini menjelaskan, keberhasilan PM-AAS tidak hanya ditentukan oleh penggunaan teknologi modern, tetapi juga bergantung pada pendampingan penyuluh yang memastikan seluruh tahapan budidaya berjalan sesuai standar.
"Transformasi budidaya ini bertujuan meningkatkan produktivitas sekaligus mendukung pembangunan pangan yang berkelanjutan. Karena itu seluruh jajaran BPPSDMP, UPT, hingga penyuluh pertanian di lapangan harus bersinergi agar implementasi PM-AAS berjalan optimal," ujarnya.
Ia mengatakan, enam prinsip utama PM-AAS meliputi tanam rapat dalam baris, efisiensi sumber daya, mekanisasi pertanian, implementasi berbasis korporasi, intensifikasi produksi, serta penerapan teknologi yang spesifik sesuai lokasi.
Keenam prinsip tersebut saling melengkapi untuk menciptakan sistem budidaya yang lebih produktif, efisien, dan adaptif terhadap kondisi di lapangan.
Salah satu perubahan yang diterapkan dalam PM-AAS adalah peningkatan populasi tanaman.
Jika pola budidaya konvensional hanya berkisar 200 ribu hingga 300 ribu rumpun per hektare, PM-AAS mampu meningkatkan populasi menjadi 800 ribu hingga 1,2 juta rumpun per hektare melalui pengaturan jarak tanam dan penerapan teknologi budidaya yang tepat.
Menurut Saptorini, penyuluh memiliki peran penting agar seluruh inovasi tersebut benar-benar diterapkan oleh petani. Pendampingan dilakukan sejak tahap persiapan hingga evaluasi setelah panen.
Pada tahap persiapan, penyuluh memastikan petani telah mengikuti pelatihan PM-AAS, memverifikasi calon petani dan calon lokasi (CPCL), serta mengecek kesiapan lahan, sumber air, dan sarana produksi.
Untuk memperkuat kapasitas penyuluh, BPPSDMP juga telah melaksanakan Training of Trainers (ToT) di berbagai daerah yang menjadi lokasi pengembangan PM-AAS.
"Seluruh penyuluh sudah dibekali melalui pelatihan agar memiliki pemahaman yang sama dalam mendampingi petani menerapkan teknologi PM-AAS di lapangan," kata Saptorini.
Saat memasuki masa tanam, penyuluh bertugas mengawal penerapan budidaya agar sesuai standar PM-AAS.
Mereka memastikan bantuan alsintan dimanfaatkan secara optimal serta mendorong petani melakukan tanam tepat waktu dan serempak sehingga produktivitas dapat meningkat.
Pendampingan kemudian berlanjut pada fase pertumbuhan tanaman.
Penyuluh memantau perkembangan tanaman, mengidentifikasi serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), mengantisipasi risiko gagal panen, serta menyampaikan laporan perkembangan secara berkala sebagai bahan evaluasi program.
Tak berhenti di budidaya, penyuluh juga memperkuat kelembagaan petani dengan mendorong pembentukan dan penguatan Brigade Pangan, memperluas kerja sama dengan offtaker, serta menghubungkan petani dengan akses pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan asuransi pertanian.
Tahap terakhir adalah evaluasi dan perbaikan. Penyuluh bersama petani mengevaluasi hasil panen, mengidentifikasi berbagai kendala selama budidaya, sekaligus menyebarluaskan praktik-praktik terbaik agar dapat diterapkan di wilayah lain.
BPPSDMP mencatat saat ini terdapat 37.558 penyuluh pertanian yang menjadi ujung tombak pendampingan PM-AAS.
Setiap penyuluh mengawal pelaksanaan program di wilayah masing-masing, baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa, untuk mendukung target nasional PM-AAS seluas 1 juta hektare dengan sasaran produktivitas mencapai 10 ton gabah per hektare.
Saptorini menegaskan, keberhasilan PM-AAS bukan hanya soal penggunaan alat dan teknologi modern, tetapi juga konsistensi dalam menerapkan enam prinsip utama budidaya serta pendampingan penyuluh yang dilakukan secara berkelanjutan.
"Kalau teknologi diterapkan sesuai standar dan penyuluh terus mendampingi petani dari awal sampai akhir, maka target peningkatan produksi bukan sesuatu yang sulit untuk dicapai," pungkasnya.