
Webinar PM AAS
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kementerian Pertanian saat ini mendorong teknologi budidaya padi terbaru yakni Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS). Dengan menghadirkan inovasi budidaya padi berbasis mekanisasi dan teknologi modern, teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, menekan biaya modal dan biaya produksi, serta meningkatkan efisiensi usaha tani.
Melalui penerapan teknologi yang tepat, petani juga berpeluang memperoleh hasil panen yang lebih optimal dan keuntungan yang lebih besar. Bagaimana penerapan PM-AAS di lapangan, kebutuhan biaya modal, potensi keuntungan, serta strategi sukses mengadopsi teknologi pertanian modern?
Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi), Amin Nur mengatakan, bukan teknologi baru, bahkan sering diterapkan petani. Namun, ada beberapa input yang dimasukkan agar buddiaya padi petani lebih efsisien dan efektif, serta terjadi peningkatan produksi.
“Tahun ini kami harapkan penyebarannya bisa mencapai 1 juta ha dan secara bertahan tahun depan luasnya menjadi 3 juta ha,” kata Amin Nur saat Webinar: Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS) yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama PT Pupuk Indonesia di Jakarta, Rabu (5/8).
Amin Nur mengakui, saat ini budidaya padi menghadapi tantangan besar. Diantaranya, produtkivitas padi rata-rata lebih rendah dari yang optimal dari varietas unggul yang ada. Perubahan iklim yang terjadi saat ini membuat terjadi peningkatan frekuensi banjir, kekeringan, dan memicu serangan organisme penganggu tumbuhan (OPT).
Tantangan lain yang harus diantisipasi adalah keterbatasan tenaga kerja. Saat ini umumnya petani berusia 40-50 tahun dan belum terjadi regenerasi petani. Petani juga belum memanfaatkan teknolgi secara optimal. ”Esfisien usaha juga masih rendah, biaya produksi tinggi dan manajemen usaha tani belum optimal,” katanya. Karena itu, teknologi PM-AAS diharapkan dapat menjawab persoalan tersebut.
Enam Prinsif PM-AAS
Amin Nur menjelaskan, dalam budidaya PM-AAS ada enam prinsif utama. Pertama, dengan metode tanam benih langsung (tabela) tanaman lebih rapat dalam barisan. Namun dari hasil kajian BRMP, potensi paling bagus selama 2 musim adalah dengan penanaman jajar legowo 6:1. “Meski petani ada yang menerapkan jarwo 4:1 atau 2:1, bahkan di Papua 8:1. tapi intinya dalam barisan tanaman akan lebih rapat,” ujarnya.
Kedua, efisiensi penggunaan air, pupuk dan input dan tepat sasaran. Ketiga, penggunaan mekanisasi pertanian untuk mempercepar dan peningkatan efisiensi kerja. Keempat, implementasi berbasis korporasi. Jadi pengelolaan dilaksanakan secara kolektif dalam satu hamparan.
Prinsif kelima, pengelolan budidaya padi yang intensif untuk mencapai hasil maksimal. Keenam, spesifik lokasi. Penggunaan teknologi nantinya bisa disesuaikan karakteristik lahan dan agroekosistem setempat. ”PM-AAS ini menghadirkan sistem budidaya padi modern berbasis teknologi, presisi dan korporasi. Dengan PM AAS diharapkan akan terjadi peningkatan produksi, tapi biaya tidak terlalu besar,” tegasnya.
Bagaimana peran penyuluh pertanian dalam mendesiminasi teknologi tersebut kepada petani? Kepala Bagian Perencanaan dan Evaluasi Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Saptorini mengatakan, keberhasilan teknologi budidaya padi PM-AAS memang tidak lepas dari peran penyuluh pertanian yang berada di lapangan. Bagaimana penyuluh pertanian menyiapkan CP/CL petani dan mengawal pelaksanaan budidaya padi PM-AAS.
”Jadi peran penyuluh pertanian dari mulai persiapan, pelaksanaan hingga monitoring dan pengawalan kegiatan di lapangan,” katanya. Karena itu, BPPSDMP melakukan rakor pendampingan dan pelatihan PM-AAS bagi penyuluh pertanian. Pihaknya juga telah menerbitkan modul pelatihan dan pendampingan budidaya padi PM-AAS yang mengacu pada juklak dari BRMP.
Sesuai perintah Menteri Pertanian, Rini mengungkapkan, penyuluh pertanian mendapatkan target pendampingan lahan budidaya PM-AAS. Di Jawa, setiap penyuluh pertanian mendapat target pendampingan 100 ha dan di luar Jawa seluas 50 ha. ”Peran BPPSDMP adalah memastikan implementasi PM-AAS berjalan lebih terarah, berkelanjutan dan berdampak,” katanya.
Ketersediaan Pupuk dan Benih
Sementara itu, SVP Indonesia Agrichemical Research Instutue PT Pupuk Indonesia, Gita Bina Nugraha mengatakan, PM-AAS bisa berhasil dengan dukungan berbagai pihak, termasuk ketersediaan pupuk. Elemen pupuk mennjadi faktor penting dalam budidaya padi. ”Selama ini kita ketahui banyak petani yang berlebihan dalam penggunaan pupuk,” katanya.
Gita menegaskan, secara volume pupuk cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan petani dalam negeri. Totalnya produksi urea 9,4 juta ton, NPK 4,6 juta ton, pupuk lainnya sekita 0,8 juta ton. ”Secara kapasitas produksi dan infrastruktur kami siap mendukung program pemerintah, swasembada pangan,” ujarnya.
Stok pupuk bersubsidi per 3 Agustus sebanyak 1,076 juta ton yang trsebar di gudang dan distributor. Dengan volume tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 36 hari dengan rata-rata penebusan harian sebanyak 30 ribu ton. “Kami juga menyiapkan pupuk yang non subsidi dengan stok sebanyak 405 ribu ton,” tambah Gita.
Untuk pengawasan pupuk subsidi, Gita mengatakan, Pupuk Indonesia telah mempunyai sistem yang sudah terintegrasi. Dengan demikian resiko keterlambatan bisa terdeteksi dengan cepat dan tepat. “Kami telah mempunyai aplikasi iPubers untuk memantau realisasi penyaluran pupuk bersubsidi ke petani dan kelompok tani,” katanya.
Gita berharap dalam program PM-AAS ini ada koordinasi dengan baik, dari mulai data petani yang melaksanakan budidaya tersebut, khususnya CP/CL-nya dan lokasi pelaksanaan. Kemudian, adanya sinkronisasi jadwal tanam bulanan dengan rencana produksi, stok, dan pasokan pupuk.
Selain itu, kesiapan jaringan PPTS serta pemantauan penebusan bulanan berbasis NIK per jenis produk. ”Dengan kebutuhan pupuk organik yang bertambah, harus ada pengawalan pemakaian organik yang penggunaannya oleh petani masih jauh di bawah pupuk Urea/NPK,” ujarnya.
Dengan kebutuhan benih yang lebih banyak dalam budidaya padi PM-AAS yakni 70-80 kg/ha, VP Supply Chain Manangement PT. Sang Hyang Seri (SHS), Dias Agriana mengatakan, SHS memiliki unit produksi benih padi yang tersebar di 17 provinsi dan didukung areal produksi Sukamandi seluas 3.162 ha.
Dias memperkirakan, jika kebutuhan benih sebanyak 70-80 kg/ha untuk budidaya padi PM-AAS, maka pada tahun 2026-2027 diperkirakan benih sebanyak 50.066 ton. Sementara itu, estimasi ketersediaan benih PT SHS pada semester 2 tahun 2026 hanya 14.063 ton.
Dengan varietas yang sudah direkomendasikan dalam budidaya PM AAS, pihaknya perlu dukungan ketersediaan benih sumber dari pemerintah, khususnya BRMP Padi. Selama ini SHS memproduksi benih disesuai kebiasaan petani menanam.
”Kami berharap ada data CP/CL petani dalam program tersebut, sehingga ada kepastian alokasi, wilayah distribusi dan jadwal kebutuhan, karena benih tidak bisa diproduksi dalam waktu singkat,” katanya.
Bagi Sahabat Sinar Tani yang telah mengikuti webinar, bisa mendapatkan materi dan sertifikatnya. Bisa di unduh di link bawah ini.
Esertifikat : Klik Disini
Materi : Klik Disini
Esertifikat Berdasarkan Nomor : Klik Disini