
PM-AAS hadir membongkar pakem lama budidaya padi lewat teknologi modern, mekanisasi, dan digitalisasi untuk menarik minat petani muda sekaligus mendongkrak produktivitas.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – PM-AAS hadir membongkar pakem lama budidaya padi lewat teknologi modern, mekanisasi, dan digitalisasi untuk menarik minat petani muda sekaligus mendongkrak produktivitas.
Budidaya padi di Indonesia tengah memasuki babak baru.
Jika selama ini sebagian besar petani masih mengandalkan cara-cara konvensional yang menguras tenaga, memerlukan biaya tinggi, dan belum memanfaatkan teknologi secara optimal, kini Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi) menghadirkan pendekatan baru melalui Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS).
Sistem budidaya ini bukan sekadar memperkenalkan alat dan mesin pertanian modern.
PM-AAS hadir sebagai paket budidaya padi yang mengintegrasikan mekanisasi, pertanian presisi, digitalisasi, penggunaan benih unggul, pengelolaan air, hingga panen dalam satu sistem yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengubah pola pikir petani sekaligus menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi), Dr. Amin Nur, S.P., M.Si., mengatakan PM-AAS dikembangkan sebagai jawaban atas berbagai persoalan yang saat ini dihadapi sektor pertanian nasional.
Program ini bahkan ditargetkan diterapkan di sekitar 1 juta hektare pada 2026 dan meningkat secara bertahap menjadi 3 juta hektare pada tahun berikutnya.
"Target penyebaran tahun ini sekitar satu juta hektare dan secara bertahap tahun depan menjadi tiga juta hektare. Ini menjadi tantangan bersama karena sebenarnya teknologi ini bukan sesuatu yang benar-benar baru. Sebagian sudah sering diterapkan petani, tetapi kami menambahkan berbagai input teknologi agar usaha tani menjadi lebih modern, lebih efisien, lebih efektif, dan mampu meningkatkan produksi yang manfaatnya langsung dirasakan petani," ujar Amin dalam webinar PM-AAS, Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, PM-AAS lahir bukan tanpa alasan, karena selama bertahun-tahun produktivitas padi nasional masih belum mampu menyamai potensi hasil varietas unggul yang telah dihasilkan para peneliti.
Artinya, masih terdapat kesenjangan cukup besar antara potensi produksi dengan hasil yang dicapai di tingkat petani.
"Kita masih menghadapi produktivitas yang belum optimal. Produksi padi nasional masih tertinggal dibandingkan potensi hasil varietas unggul yang sebenarnya sudah tersedia," katanya.
Persoalan tersebut semakin kompleks dengan hadirnya perubahan iklim.
Curah hujan yang tidak menentu, banjir yang lebih sering terjadi, kekeringan berkepanjangan, hingga meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) menjadi tantangan yang semakin sulit dihadapi jika budidaya masih dilakukan dengan pola lama.
Amin menyebut kondisi tersebut menuntut perubahan cara bertani.
Menurutnya, teknologi menjadi salah satu solusi agar petani mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim yang semakin ekstrem.
"Perubahan iklim menyebabkan frekuensi banjir dan kekeringan meningkat. Dampaknya tentu terhadap produksi. Karena itu kita membutuhkan sistem budidaya yang lebih adaptif dan berbasis teknologi," ujarnya.
Tak hanya persoalan iklim, sektor pertanian juga menghadapi tantangan regenerasi petani.
Saat ini mayoritas petani Indonesia sudah berusia di atas 40 hingga 50 tahun, sementara minat generasi muda untuk menggeluti usaha tani masih tergolong rendah.
Kondisi tersebut, kata Amin, tidak bisa dibiarkan karena modernisasi pertanian justru harus menjadi pintu masuk untuk mengubah citra pertanian menjadi sektor yang modern, menguntungkan, dan dekat dengan teknologi digital.
"Petani kita banyak yang sudah berusia 40 sampai 50 tahun ke atas. Belum terjadi regenerasi yang cukup. Melalui PM-AAS kami berharap akan muncul petani-petani milenial dan petani muda yang tertarik berbisnis di sektor pertanian," katanya.
Menurut Amin, salah satu penyebab generasi muda kurang tertarik bertani adalah karena sektor ini masih identik dengan pekerjaan berat yang seluruhnya dilakukan secara manual.
Padahal, perkembangan teknologi saat ini telah menghadirkan berbagai inovasi yang mampu mengurangi beban kerja petani.
Melalui PM-AAS, hampir seluruh tahapan budidaya dapat dilakukan menggunakan mekanisasi dan teknologi digital.
Mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, penyemprotan, hingga panen diarahkan menggunakan alat dan mesin pertanian modern yang dipadukan dengan sistem pertanian presisi.
"Mulai dari tanam sampai panen kita dorong menggunakan teknologi presisi berbasis digital. Dengan begitu produktivitas meningkat, tetapi biaya yang dikeluarkan petani justru menjadi lebih efisien," ujarnya.
PM-AAS sendiri merupakan sistem budidaya padi modern yang dibangun di atas lima fondasi utama, yakni teknologi tinggi, efisiensi, mekanisasi, pertanian presisi, dan implementasi berbasis korporasi.
Kelima unsur tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam enam prinsip utama penerapan di lapangan.
Prinsip pertama adalah tanam rapat dalam baris sehingga populasi tanaman menjadi optimal dan produktivitas meningkat.
Kedua, efisiensi sumber daya, yakni penggunaan air, pupuk, serta berbagai input produksi secara tepat sasaran.
Prinsip ketiga ialah mekanisasi pertanian untuk mempercepat pekerjaan sekaligus menekan biaya tenaga kerja.
Selanjutnya adalah implementasi berbasis korporasi, di mana pengelolaan dilakukan secara kolektif dalam satu hamparan agar lebih efisien.
Prinsip kelima berupa intensifikasi produksi melalui pengelolaan budidaya secara lebih intensif, sedangkan prinsip terakhir adalah spesifik lokasi, yaitu penerapan teknologi disesuaikan dengan karakteristik lahan dan agroekosistem setempat.
"Enam prinsip tersebut menjadi dasar penerapan PM-AAS pada setiap tahapan budidaya padi sehingga teknologi yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan," jelas Amin.
Dalam praktiknya, PM-AAS diterapkan secara menyeluruh mulai dari persiapan lahan hingga panen.
Tahapan pertama adalah menyiapkan lahan yang baik dan siap tanam. Setelah itu petani memilih varietas unggul yang sesuai dengan kondisi lahan dan target hasil.
Tahapan berikutnya menggunakan sistem tanam benih langsung (Tabela) dengan pengaturan jarak tanam yang lebih presisi.
Pemupukan dilakukan sesuai jumlah, dosis, dan waktu yang tepat sehingga penggunaan pupuk menjadi lebih efisien.
Sementara pengelolaan air dilakukan menggunakan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) atau pengairan berselang.
Sistem ini mengatur kondisi sawah secara bergantian antara tergenang dan kering sehingga penggunaan air menjadi lebih hemat tanpa mengurangi produktivitas tanaman.
Untuk pengendalian hama dan penyakit, PM-AAS menerapkan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) melalui monitoring rutin sehingga penggunaan pestisida dapat dilakukan lebih tepat sasaran.
Tahapan terakhir adalah panen pada fase fisiologis sekitar 80–85 persen agar kualitas gabah tetap terjaga dan kehilangan hasil dapat ditekan.
Amin menjelaskan PM-AAS bukan hasil meniru satu negara tertentu, melainkan hasil adaptasi berbagai teknologi budidaya padi dari sejumlah negara yang telah disesuaikan dengan kondisi Indonesia.
Ia mencontohkan sistem direct seeding dari Amerika Serikat, broadcasting seeding dari China, serta wet direct seeding dari Vietnam dipelajari dan dipadukan dengan teknologi lokal Indonesia seperti sistem Jajar Legowo.
"Setelah Bapak Menteri melakukan kunjungan ke beberapa negara, kami diminta melakukan kajian sejak 2024. Teknologi dari Amerika, China, Vietnam kemudian dipadukan dengan teknologi yang sudah dimiliki Indonesia seperti Jajar Legowo. Setelah melalui proses penelitian dan penyempurnaan pada 2024 hingga 2025, lahirlah PM-AAS yang sesuai dengan kondisi Indonesia," ungkapnya.
Sebagai pusat pengembangan teknologi, BRMP Padi kini telah memiliki kawasan demonstrasi PM-AAS seluas hampir 300 hektare.
Kawasan tersebut menjadi laboratorium lapang bagi penyuluh pertanian, petani, pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga pelaku usaha yang ingin melihat langsung penerapan budidaya padi modern.
"Setiap hari kami menerima sekitar 100 orang yang datang berkunjung. Tempat ini menjadi laboratorium lapang untuk belajar PM-AAS sehingga teknologi bisa semakin cepat diadopsi di berbagai daerah," kata Amin.
Melalui penerapan teknologi secara terintegrasi, BRMP Padi optimistis PM-AAS mampu meningkatkan produktivitas padi hingga sekitar 10,2 ton gabah per hektare, sekaligus menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi usaha tani.
Lebih dari sekadar mengejar peningkatan hasil panen, PM-AAS juga diharapkan menjadi wajah baru pertanian Indonesia.
Dengan mekanisasi, digitalisasi, dan pertanian presisi yang semakin berkembang, sektor pertanian tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan yang berat dan tradisional, melainkan sebagai bidang usaha modern yang menjanjikan bagi generasi muda.
Jika transformasi ini berjalan sesuai target, PM-AAS bukan hanya mengubah cara bertani, tetapi juga membuka jalan lahirnya petani-petani muda yang siap membawa pertanian Indonesia ke level yang lebih maju.