
Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) Sri Nelty Ovisa, SP, memberikan praktik langsung cara memilih benih padi berkualitas kepada anggota Kelompok Tani Aurifanta, Desa Sefoyan, Kecamatan Simeulue Timur
TABLOIDSINARTANI.COM, SIMEULUE – Keberhasilan budidaya padi tidak hanya ditentukan oleh pengolahan lahan, pemupukan, dan perawatan tanaman. Pemilihan benih yang bermutu juga menjadi faktor penting untuk memperoleh hasil panen yang optimal.
Sayangnya, masih banyak petani yang belum memahami cara sederhana untuk membedakan benih padi bernas dengan benih hampa.
Untuk meningkatkan pengetahuan petani, Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) Sri Nelty Ovisa, SP, memberikan praktik langsung cara memilih benih padi berkualitas kepada anggota Kelompok Tani Aurifanta, Desa Sefoyan, Kecamatan Simeulue Timur, Jumat (6/11).
Bertempat di salah satu rumah petani, kegiatan penyuluhan tersebut mendapat sambutan antusias dari para petani. Mereka diajak mengenali kualitas benih menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah diperoleh, yakni air, garam, telur, dan fungisida Topsin.
Melalui praktik tersebut, petani diperkenalkan dengan teknik seleksi benih menggunakan larutan air garam. Cara ini dapat diterapkan baik terhadap benih bantuan yang diterima petani maupun benih hasil panen musim sebelumnya yang akan digunakan kembali untuk musim tanam berikutnya.
Sri Nelty menjelaskan, pemilihan benih bernas merupakan salah satu langkah awal yang perlu diperhatikan sebelum memulai budidaya padi. Benih yang sehat dan berkualitas diharapkan memiliki daya kecambah yang baik sehingga mendukung pertumbuhan tanaman.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin petani Kelompok Tani Aurifanta mengetahui bagaimana memilih benih yang baik, baik ketika memperoleh benih bantuan maupun benih yang akan digunakan kembali dari hasil panen musim sebelumnya," ujarnya.
Ia menambahkan, praktik pemilihan benih dilakukan secara langsung agar petani lebih mudah memahami setiap tahapan perlakuannya.
"Kita praktikkan bagaimana memilih benih padi yang berkualitas dan bernas menggunakan indikator telur, garam, serta fungisida Topsin. Tujuannya untuk mempersiapkan benih yang sehat dan berkualitas, sehingga memiliki daya kecambah yang baik," jelasnya.
Menurut Sri Nelty, teknik tersebut dapat mendukung persiapan benih untuk berbagai metode penanaman, baik melalui persemaian maupun tanam benih langsung (tabela).
Dalam praktiknya, petani terlebih dahulu menyiapkan wadah seperti ember, air, garam, sebutir telur, benih padi, dan fungisida Topsin.
Tahap pertama, air dimasukkan ke dalam wadah yang telah disiapkan. Selanjutnya, telur dimasukkan ke dalam air untuk menguji kondisi awal. Pada tahap ini, telur umumnya akan tenggelam karena berat jenisnya lebih besar dibandingkan air biasa.
Setelah itu, garam ditambahkan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga larut. Penambahan garam bertujuan meningkatkan berat jenis air sehingga telur yang dimasukkan perlahan akan terapung.
Apabila telur sudah mengapung di permukaan air, penambahan garam dihentikan. Selanjutnya, telur dikeluarkan dan larutan siap digunakan untuk proses seleksi benih.
Benih padi kemudian dimasukkan ke dalam larutan tersebut. Benih yang bernas dan berisi akan tenggelam, sedangkan benih hampa, ringan, atau rusak cenderung mengapung.
Benih yang mengapung dibuang, sementara benih yang tenggelam dipilih untuk digunakan. Setelah proses seleksi selesai, benih tersebut harus dicuci hingga bersih dari sisa garam, kemudian ditiriskan.
Dengan cara sederhana ini, petani dapat memisahkan benih bernas dari benih hampa sebelum melanjutkan ke tahapan persiapan penanaman.
Sri Nelty berharap, melalui praktik langsung tersebut, petani semakin memahami pentingnya seleksi benih sebagai bagian dari persiapan budidaya padi.