Saturday, 05 September 2026


Dulu Dibuang, Kini Jadi Cuan! Mekanisasi Sulap Sisa Jagung Petani Tangerang

01 Sep 2026, 12:21 WIBEditor : Gesha

Sisa panen jagung yang dulu terbuang kini menghasilkan nilai tambah. Mekanisasi membantu petani Tangerang mengolahnya menjadi pakan dan pupuk.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Sisa panen jagung yang dulu terbuang kini menghasilkan nilai tambah. Mekanisasi membantu petani Tangerang mengolahnya menjadi pakan dan pupuk.

Sisa tanaman jagung yang sebelumnya kerap dianggap tak bernilai kini berubah menjadi sumber cuan bagi petani di Kabupaten Tangerang. 

Batang jagung hingga limbah peternakan kini diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi berkat dukungan mekanisasi pertanian.

Perubahan tersebut dirasakan langsung oleh Abdas Maulana, petani jagung asal Kecamatan Cisauk, Kabupaten Tangerang. 

Sebagai salah satu pelaku utama dalam proyek pengembangan mekanisasi pertanian berkelanjutan, ia kini menerapkan sistem pertanian terintegrasi atau integrated farming.

Melalui proyek Centre for Sustainable Agricultural Mechanization (CSAM) bersama Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan), sisa hasil panen yang sebelumnya berpotensi terbuang mulai diarahkan menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

Abdas mengatakan kelompok taninya menghubungkan kegiatan budidaya jagung dengan peternakan dan pengolahan limbah. 

Dengan pola tersebut, hampir seluruh hasil samping dari kegiatan pertanian dapat dimanfaatkan kembali.

“Di kelompok kami itu terintegrasi antara budidaya dan pengolahan. Limbah jagung kami olah, kemudian ada juga pengolahan limbah peternakan. Jadi istilahnya integrated farming,” ujar Abdas.

Salah satu perubahan terbesar terjadi pada pemanfaatan batang dan sisa tanaman jagung. Limbah tersebut kini tidak lagi dibiarkan membusuk atau dibuang begitu saja.

Dengan bantuan mesin pencacah atau chopper, sisa tanaman jagung dapat diproses menjadi bahan baku silase untuk kebutuhan pakan ternak.

Di sisi lain, limbah dari peternakan juga kembali dimanfaatkan. Kotoran ternak diolah dan difermentasi menjadi pupuk organik yang kemudian digunakan untuk mendukung budidaya jagung.

“Limbah jagung dibikin silase untuk pakan ternak. Sementara limbah ternak kami olah menjadi pupuk untuk budidaya jagung,” katanya.

Siklus tersebut membuat kegiatan pertanian dan peternakan saling terhubung. Hasil samping dari satu kegiatan menjadi bahan baku bagi kegiatan lainnya.

Mekanisasi juga membawa perubahan besar terhadap proses produksi di lapangan. Sebelumnya, Abdas mengandalkan tenaga kerja manual dalam berbagai tahapan kegiatan pertanian.

Namun, ketersediaan tenaga kerja kini menjadi tantangan tersendiri bagi petani. Kehadiran mesin pun membantu mempercepat pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak orang.

Melalui proyek tersebut, kelompok tani Abdas mendapatkan sejumlah peralatan mekanisasi.

Di antaranya hammer mill untuk memecah jagung, chopper untuk mencacah batang jagung, mesin pemotong tanaman, mixer untuk mencampur bahan, hingga alat penyaring atau pengayak.

Menurut Abdas, penggunaan mesin membuat proses panen dan pengolahan menjadi jauh lebih efisien.

“Kalau menggunakan mesin, cukup dua orang tenaga kerja. Kalau manual bisa sampai 10 orang dan waktunya lebih lama,” ujarnya.

Ia mengatakan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tenaga dan waktu cukup besar kini dapat diselesaikan lebih cepat. 

Dengan dukungan mesin, proses pekerjaan di lapangan bahkan dapat dirampungkan dalam waktu sekitar dua hari.

Apalagi luas tanaman jagung yang dikelola di wilayah Cisauk mencapai sekitar 15 hektare.

Manfaat mekanisasi juga dirasakan dalam pengolahan limbah peternakan. Abdas sebenarnya telah menjalankan unit pengolahan pupuk organik sejak 2001.

Namun, kehadiran peralatan baru membuat proses produksi menjadi lebih baik. Mesin pencacah dan alat penyaring membantu menghasilkan pupuk dengan kualitas yang lebih seragam.

Produk pupuk organik tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh kelompok tani sendiri. Abdas juga memasok kebutuhan pupuk ke sejumlah wilayah di Kabupaten Tangerang.

“Selain untuk kebutuhan kelompok, kami juga menyuplai ke wilayah sekitar Kabupaten Tangerang,” katanya.

Ia menambahkan, pupuk hasil olahan kelompoknya juga kerap digunakan dalam berbagai program pertanian di tingkat daerah.

Bagi Abdas, manfaat terbesar dari penerapan mekanisasi bukan hanya soal kecepatan kerja. Teknologi tersebut membantu petani membangun sistem pertanian yang lebih efisien dan minim limbah.

Sisa tanaman jagung yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kini menjadi pakan ternak. Sementara limbah peternakan kembali ke lahan dalam bentuk pupuk organik.

“Semua limbah kami olah. Limbah peternakan kami olah, limbah pertanian juga kami olah,” tegasnya.

Menurutnya, pola ekonomi sirkular seperti ini membuat petani memiliki peluang untuk memperoleh nilai tambah dari sumber daya yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.

Ke depan, Abdas berharap pemanfaatan mekanisasi pertanian dan sistem pertanian terintegrasi tidak hanya berhenti di kelompok taninya.

Ia ingin semakin banyak kelompok tani yang mendapatkan kesempatan menerapkan teknologi serupa agar limbah pertanian dapat memberikan manfaat ekonomi.

“Harapannya program seperti ini bisa bergulir ke kelompok-kelompok lain, supaya limbah pertanian tidak terbuang sia-sia,” pungkasnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018