Saturday, 17 October 2026


Harga Jagung dan SBM Naik, Industri-Peternak Putar Otak Hadapi Pakan Mahal

18 Sep 2026, 10:19 WIBEditor : Gesha

Harga jagung dan soybean meal (SBM) naik, menekan biaya pakan. Industri dan peternak pun putar otak menjaga efisiensi dan performa ayam.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta – Harga jagung dan soybean meal (SBM) naik, menekan biaya pakan. Industri dan peternak pun putar otak menjaga efisiensi dan performa ayam.

Ketika harga bahan baku bergerak naik, biaya produksi peternak ikut tertekan.

Industri pakan dan peternak pun harus memutar otak agar usaha tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas pakan dan produktivitas ayam.

Persoalan tersebut mengemuka dalam forum “Sinergi dan Strategi Menghadapi Gejolak Harga Pakan” yang digelar dalam rangkaian ILDEX 2026, Kamis (17/9/2026). 

Forum Ini mempertemukan pemerintah, industri pakan, perusahaan teknologi nutrisi, pelaku usaha, hingga peternak untuk membahas tekanan biaya produksi yang terjadi di sepanjang rantai pasok perunggasan.

Pakan bukan sekadar salah satu komponen biaya. Bagi peternak unggas, pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi. 

Data yang disampaikan Kementerian Pertanian menunjukkan kontribusi biaya pakan mencapai 67,82% pada usaha ayam pedaging dan 74,66% pada usaha ayam petelur. 

Artinya, sedikit saja terjadi perubahan harga bahan baku pakan, dampaknya dapat langsung terasa pada biaya produksi di tingkat kandang.

Kondisi itu membuat gejolak harga jagung, SBM, bahan baku protein, energi, hingga bahan tambahan pakan menjadi perhatian serius. 

Apalagi, kenaikan biaya pakan tidak selalu dapat langsung diteruskan menjadi kenaikan harga ayam atau telur di pasar.

Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) Kusnan mengatakan peternak rakyat berada pada posisi yang sangat rentan ketika biaya input meningkat sementara harga jual ayam hidup bergerak mengikuti pasar.

Menurut dia, peternak tidak memiliki keleluasaan untuk menentukan harga jual. Berbeda dengan biaya produksi yang harus dibayar secara pasti, harga ayam hidup dapat berubah mengikuti keseimbangan pasokan dan permintaan.

Kusnan menggambarkan tekanan tersebut melalui struktur biaya peternak broiler. 

Harga DOC berada di kisaran Rp8.000-Rp8.500 per ekor, sementara harga pakan sekitar Rp9.500-Rp10.000 per kilogram. 

Dengan struktur biaya tersebut, perkiraan harga pokok produksi ayam hidup berada di sekitar Rp23.500-Rp24.000 per kilogram.

Ketika harga ayam hidup berada di sekitar Rp25.000 per kilogram, ruang keuntungan peternak menjadi sangat tipis, hanya sekitar Rp1.000 per kilogram. 

Margin tersebut pun masih harus menghadapi berbagai risiko lain di kandang, mulai dari mortalitas, performa ayam, biaya tenaga kerja, energi, hingga perubahan harga input.

“Kalau harga pakan naik, peternak tidak bisa serta-merta menaikkan harga ayam. Harga ayam ditentukan pasar,” ucap Kusnan membeberkan persoalan utama yang harus dilihat secara utuh.

Karena itu, ia mendorong perubahan pola hubungan antarpelaku usaha. Peternak rakyat, menurut dia, perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem, bukan sekadar pihak yang menanggung risiko ketika terjadi gejolak harga.

Kusnan melihat model kemitraan, koperasi, dan offtaker dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat posisi peternak.

Dengan ekosistem yang lebih terintegrasi, risiko dapat dibagi dan setiap mata rantai memperoleh nilai ekonomi yang lebih proporsional.

Peluang tersebut juga dapat datang dari peningkatan permintaan protein hewani, termasuk melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Namun, peningkatan permintaan harus dibarengi dengan tata kelola rantai pasok yang memberikan kepastian bagi peternak.

Di sisi industri pakan, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Tevi Melviana menjelaskan bahwa persoalan harga pakan tidak sesederhana kenaikan satu bahan baku.

Menurut Tevi, bahan baku menyumbang sekitar 80-85 persen dari biaya produksi pakan.

Namun, perubahan harga pakan di pasar tidak otomatis bergerak secara linear mengikuti kenaikan harga jagung atau SBM.

Ada banyak komponen yang membentuk harga pakan. Selain jagung dan sumber protein, terdapat bahan baku energi, asam amino, premix, biaya produksi, energi, distribusi, nilai tukar rupiah, serta faktor lain yang harus diperhitungkan industri.

“Jadi ketika satu bahan baku naik, bukan berarti harga pakan langsung naik dengan persentase yang sama,” jelasnya.

GPMT sendiri memiliki kapasitas produksi sekitar 30,5 juta ton per tahun, sementara produksi aktual yang disampaikan dalam forum berada di sekitar 20,3 juta ton. Industri tersebut tersebar pada sekitar 110 pabrik di 10 provinsi.

Skala tersebut menunjukkan betapa strategisnya industri pakan terhadap keberlangsungan sektor perunggasan nasional.

Karena itu, ketika harga bahan baku bergejolak, feedmill harus mencari ruang efisiensi tanpa menurunkan kualitas nutrisi.

Salah satu strategi yang dilakukan industri adalah reformulasi.

Komposisi pakan dapat disesuaikan berdasarkan harga dan ketersediaan bahan baku dengan tetap memperhitungkan kebutuhan nutrisi ayam.

Bahan baku alternatif juga mulai mendapat perhatian. Namun, Tevi menegaskan bahwa bahan baku alternatif tidak cukup hanya murah.

Bahan tersebut harus mempunyai kualitas yang stabil, harga kompetitif, pasokan berkelanjutan, serta dapat digunakan secara konsisten dalam formulasi pakan.

“Murah saja tidak cukup. Kalau kualitas tidak stabil atau pasokan tidak berkelanjutan, justru dapat menimbulkan persoalan baru,” ujarnya.

Formulator Cari Cara 

Persoalan kualitas bahan baku inilah yang kemudian menjadi perhatian dari sisi teknologi nutrisi.

Key Account Manager Alltech Andrew Darmawan mengatakan jagung dan SBM saat ini menjadi dua bahan baku yang mendapat perhatian besar industri. Jagung merupakan sumber energi utama, sedangkan SBM menjadi sumber protein penting dalam formulasi pakan unggas.

Dalam paparannya, Andrew menyebut harga jagung lokal berada di sekitar Rp6.800 per kilogram pada periode April-Agustus, sedangkan di tingkat lapangan dapat mencapai Rp7.000-Rp7.500 per kilogram.

Harga SBM juga berada di kisaran Rp9.000 per kilogram atau lebih, tergantung kondisi pasar dan rantai distribusi.

Kondisi tersebut mendorong industri mencari bahan baku substitusi.

Beberapa alternatif yang dapat dipertimbangkan antara lain distillers dried grains with solubles (DDGS), corn gluten meal (CGM), hingga canola meal.

Namun, substitusi bahan baku tidak bisa dilakukan hanya dengan membandingkan harga per kilogram.

Nilai nutrisi harus dihitung secara keseluruhan. Digestibilitas, keseimbangan asam amino, kandungan antinutrisi, kadar serat, hingga risiko mikotoksin harus masuk dalam perhitungan.

Jika bahan baku yang lebih murah ternyata memiliki kecernaan lebih rendah atau membutuhkan tambahan bahan lain untuk menyeimbangkan nutrisi, keuntungan ekonominya bisa menjadi jauh lebih kecil.

Karena itu, teknologi enzim juga menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku.

Enzim seperti fitase, carbohydrase, dan protease dapat digunakan sesuai kebutuhan formulasi untuk membantu meningkatkan pemanfaatan nutrisi.

Andrew juga memperkenalkan pendekatan penggunaan matriks nutrisi yang lebih fleksibel, termasuk pemanfaatan Allzyme SSF.

Konsepnya bukan sekadar mencari bahan baku paling murah, melainkan memperoleh biaya nutrisi yang paling efisien.

Pendekatan serupa disampaikan Technical Director U.S. Soybean Export Council (USSEC) Dr. Basilisa Reas.

Menurut dia, salah satu bahan yang dapat diperhitungkan untuk efisiensi formulasi adalah full-fat soy atau kedelai utuh yang telah diproses.

Berbeda dengan SBM yang terutama digunakan sebagai sumber protein, full-fat soy mengandung protein sekaligus energi dari minyak kedelai.

Bahan tersebut dapat diproses melalui metode seperti ekstrusi, ekspansi, maupun pemanggangan untuk meningkatkan kualitas dan menurunkan faktor antinutrisi.

Dalam kondisi tertentu, penggunaan full-fat soy dapat mencapai sekitar 30 persen dalam formulasi pakan unggas.

Namun, angka tersebut bukan angka baku untuk semua jenis ayam karena penggunaannya sangat bergantung pada umur ayam, kualitas bahan, komposisi nutrisi, metode pengolahan, serta hasil analisis bahan baku.

Basilisa menekankan bahwa pelaku usaha tidak seharusnya hanya membandingkan harga bahan baku per kilogram.

Yang perlu dibandingkan adalah nilai ekonomi dan nutrisi yang dihasilkan bahan tersebut setelah masuk ke formulasi.

Dengan kata lain, bahan yang terlihat lebih mahal belum tentu menghasilkan biaya pakan yang lebih tinggi apabila mampu memberikan protein, energi, dan nutrisi secara lebih efisien.

Kualitas bahan juga menjadi faktor krusial. Kadar air, proses pemanasan, keberadaan antinutrisi, serta potensi kontaminasi mikotoksin harus dikendalikan karena dapat memengaruhi performa ayam.

Basilisa menambahkan bahwa strategi menghadapi kenaikan harga bahan baku membutuhkan pendekatan precision nutrition.

Formulasi harus semakin presisi sehingga setiap kilogram pakan mampu menghasilkan performa ternak yang optimal.

Solusi Pemerintah 

Di tingkat pemerintah, persoalan tersebut juga menjadi perhatian serius.

Direktur Pakan pada Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Tri Melasari, S.Pt., M.Si., mengatakan pemerintah mendorong industri dan peternak menjaga kualitas pakan sekaligus melakukan efisiensi.

Kementan mengingatkan bahwa efisiensi tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan mutu pakan.

“Pakan merupakan komponen terbesar di dalam struktur biaya produksi yang langsung mempengaruhi HPP peternakan,” kata Tri.

Kementan juga mendorong feedmill memperkuat riset dan pengembangan untuk memanfaatkan bahan pakan alternatif yang lebih murah dan kompetitif.

Langkah tersebut menjadi penting karena bahan baku pakan masih memiliki ketergantungan terhadap pasokan global.

Pada Agustus 2026, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda menyebut sekitar 30 persen bahan baku pakan masih berasal dari impor.

Kondisi tersebut membuat biaya produksi dapat dipengaruhi perubahan nilai tukar, biaya distribusi, dan harga komoditas dunia.

Karena itu, pemerintah juga mengambil langkah untuk menjaga pasokan jagung lokal bagi peternak.

Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan menjadi salah satu instrumen yang digunakan.

Hingga 23 Agustus 2026, penyaluran SPHP jagung telah mencapai 127,43 ribu ton kepada peternak di 28 provinsi, melibatkan 100 koperasi dan asosiasi serta 5.543 peternak.

Dalam skema tersebut, jagung dapat diperoleh dengan harga Rp5.000 per kilogram di gudang Bulog dan maksimal Rp5.500 per kilogram di tingkat peternak.

Bahkan pada September 2026, pemerintah menyepakati tambahan alokasi SPHP jagung pakan sebanyak 150 ribu ton.

Sebelumnya, total kuota tahap pertama mencapai 213,2 ribu ton. Hingga 7 September, realisasi penyaluran tercatat 143,5 ribu ton dan telah diakses peternak di 33 provinsi.

Data tersebut menunjukkan pemerintah tidak hanya melihat persoalan harga pakan dari sisi industri, tetapi juga mencoba memperkuat akses bahan baku bagi peternak mikro dan kecil.

Di sisi lain, Tri juga mendorong penggunaan bahan baku lokal lainnya.

Potensi bahan seperti bungkil kelapa, canola, indigofera, serta berbagai sumber bahan pakan lokal perlu terus dipetakan dan dikembangkan melalui riset terapan.

Namun, diversifikasi bahan baku membutuhkan dukungan data yang kuat. Industri membutuhkan kepastian mengenai volume, kualitas, kontinuitas pasokan, serta harga agar bahan lokal benar-benar dapat menjadi alternatif komersial.

Masalah data juga menjadi perhatian dalam forum. Ketika pemerintah, industri, dan peternak menggunakan angka yang berbeda, kebijakan berisiko tidak menjawab persoalan yang sama.

Karena itu, harmonisasi data harga, produksi, kebutuhan, stok, impor, dan distribusi menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas pakan.

Pemerintah sendiri telah mengembangkan SIJAGUNG untuk memantau pembelian, harga, stok, dan kecukupan produksi jagung. Sistem tersebut dikembangkan Ditjen PKH sejak 2019.

Peternakan Terintegrasi

Sementara itu, PT Berdikari (Persero) melihat persoalan pakan dari sisi yang lebih luas, yakni pembangunan ekosistem peternakan yang terintegrasi.

General Manager Corporate Secretary & Social Responsibility PT Berdikari A.S. Hasbi Al-Islahi mengatakan pengembangan peternakan tidak dapat hanya berfokus pada industri besar. Peternak rakyat harus menjadi bagian utama dari ekosistem.

Berdikari mengembangkan ekosistem perunggasan di sejumlah wilayah di luar Jawa, antara lain Malang, Lampung, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan Timur.

Salah satu investasi yang disiapkan berada di Bone, Sulawesi Selatan, dengan nilai sekitar Rp627 miliar. 

Fasilitas tersebut mencakup parent stock farm dengan kapasitas sekitar 168 ribu ekor, feedmill sekitar 10 ribu ton per bulan, serta hatchery dengan kapasitas hingga 500 ribu DOC per minggu.

Pengembangan tersebut diarahkan untuk membangun rantai pasok yang lebih terintegrasi. Berdikari juga menyiapkan pengembangan hingga sekitar 30 klaster.

Bagi peternak rakyat, integrasi tersebut diharapkan bukan berarti menggantikan posisi mereka, melainkan menciptakan akses yang lebih kuat terhadap input produksi, teknologi, pasar, dan pembiayaan.

Berdikari juga mendorong pemanfaatan koperasi dalam pengadaan bahan baku. Distribusi bahan baku dapat dilakukan melalui koperasi dengan proses verifikasi bersama Ditjen PKH.

Dengan begitu, persoalan pakan tidak berhenti pada bagaimana menurunkan harga satu bahan baku. Tantangannya jauh lebih besar, yakni bagaimana membangun sistem produksi yang efisien dari hulu hingga hilir.

Gejolak harga jagung dan SBM pada akhirnya memperlihatkan bahwa industri perunggasan Indonesia menghadapi persoalan yang saling berkaitan. 

Harga bahan baku global, nilai tukar, produksi jagung domestik, biaya logistik, kualitas bahan, formulasi, harga ayam dan telur, hingga daya serap pasar semuanya saling memengaruhi.

Bagi industri pakan, jawabannya adalah reformulasi, diversifikasi bahan baku, efisiensi proses, teknologi nutrisi, serta pengelolaan stok yang lebih presisi.

Bagi peternak, efisiensi kandang, penguatan koperasi, akses langsung terhadap bahan baku, dan kepastian pasar menjadi semakin penting.

Sementara bagi pemerintah, tantangannya adalah memastikan pasokan bahan baku tetap tersedia dengan harga yang wajar, menjaga kualitas pakan, memperkuat produksi bahan baku lokal, sekaligus menciptakan keseimbangan antara kepentingan petani jagung, industri pakan, dan peternak unggas.

Sebab, ketika harga pakan melonjak, dampaknya tidak berhenti di gudang feedmill. Tekanan tersebut bergerak ke kandang, memengaruhi biaya produksi ayam dan telur, kemudian berpotensi sampai ke harga pangan yang dibayar konsumen.

Karena itu, menghadapi gejolak harga pakan membutuhkan lebih dari sekadar menahan kenaikan harga.

Yang diperlukan adalah sinergi seluruh rantai pasok, mulai dari bahan baku, industri pakan, teknologi nutrisi, peternak, pemerintah, hingga pasar.

Dengan ekosistem yang lebih terintegrasi, kenaikan harga bahan baku tidak otomatis berubah menjadi pukulan besar bagi peternak.

Sebaliknya, setiap mata rantai memiliki ruang untuk melakukan efisiensi, berbagi risiko, dan tetap menjaga produktivitas.

Di tengah tekanan harga jagung dan SBM, satu hal menjadi semakin jelas dimana masa depan industri perunggasan tidak hanya ditentukan oleh seberapa murah harga pakan, tetapi seberapa efisien seluruh sistem mampu mengubah bahan baku menjadi protein hewani dengan biaya yang kompetitif dan kualitas yang tetap terjaga.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018