Senin, 26 Agustus 2019


Mau Aman dan Sehat Kendalikan OPT? Ini Tips dari Prof Ahsol Hasyim

12 Des 2018, 09:04 WIBEditor : Yulianto

Tanaman cabai sangat mudah terserang hama dan penyakit. Untuk mencegah bisa menggunakan PHT RL | Sumber Foto:julian

PHT RL adalah teknologi pengendalian hama yang dapat menekan dampak negatif pengendalian terhadap lingkungan seminimal mungki

 

 

TABLODISINARTANI.COM, Bogor---Penggunaan pestisida hingga kini masih dianggap petani sebagai salah satu cara paling ampuh mengendalikan pestisida. Padahal penggunaan ‘racun’ hama yang berlebihan berdampak negatif pada lingkungan, bahkan membuat hama menjadi resisten.

Bukan hanya itu, efek lebih lanjut adalah terjadi polusi dan pencemaran lingkungan, matinya serangga non target yang menjadi musuh alami hama dan gangguan terhadap kesehatan. Biaya usaha tani pun menjadi lebih mahal karena untuk membeli sarana produksi tersebut.

“Selama ini dalam pengendalian hama pada tanaman buah dan sayuran umumnya petani masih menggunakan insektisida kimia secara intensif,” kata Ahsol Hasyim saat Orasi Pengukuhan Professor Riset di Bogor, Selasa (11/12).

Karena itu menurutnya, diperlukan teknologi pengendalian hama terpadu ramah lingkungan (PHT RL), baik menggunakan agensi hayati berupa parasitoid, predator, ataupun biopestisida dari ekstrak nabati tumbuhan dan pathogen serangga.

“PHL RL adalah teknologi pengendalian hama yang dapat menekan dampak negatif pengendalian terhadap lingkungan seminimal mungkin,” ujarnya. Jadi PHT RL ini lebih diarahkan pada penggunaan produk hayati dan praktek budidaya yang ramah lingkungan, seperti biopestisida, pemanfaatan musuh alami, varietas yang tahan dan pola tanam tumpang sari.

Pola tumpang sari pada tanaman cabai bisa dengan tanaman tomat dan pengurangan penggunaan pupuk NPK sebesar 25 persen. Cara ini ternyata bisa menekan penggunaan insektisida sebanyak 50%. Sedangna tumpang sari cabai dan kacang buncis tegak dapat menekan serangan OPT pada tanaman cabai hingga 55,2 persen.

Ahsol menjelaskan, dalam menggunakan biopestisida bisa dengan memanfaatkan senyawa kimia alami yang berasal dari tumbuhan atau minyak atsiri. Misalnya, minyak serai wangi yang ternyata efektif mengendalikan berbagai jenis hama. Hasil penelirian dnegan konsentrasi 3.000-5.000 ppm, efektif mengendalikan Helicoverpa armigera pada tanaman cabai.

Bahkan ekstrak tanaman akar tuba dapat digunakan sebagai biopestisida three in one. Sebab dapat mengendalikan hama ulat bawang (bio insektisida), tungai (bio akarisida) dan penyakit moller pada bawang (bio fungsida). "Penggunaan Trichoderma juga mampu menekan perkembangan penyakit antraknose," ujarnya.

Ahsol mencontohkan, teknologi PHT RL ini terbukti ampuh saat diterapkan dalaam budidaya cabai dan bawang merah di Kecamatn Ciledug, Kabupaten Cirebon. Residu pestisida pada umbi bawnag merah dan buah cabai jauh di bawah batas minimum residu. Bahkan meningkatkan keanekaragaman hayati di pertanaman dan dalam tanah. “Populasi musuh alami, baik predator dan antagonis meningkat,” ujarnya.

Sementara di Kabupaten Ciamis, pengendalian PHT RL pada kondisi OPT (organismen pengganggu tumbuhan) ekstrem mampu menekan penggunaan pestisida hingga 73,3 persen dengan hasil panen mencpaai 15,46 ton/ha. Pengendalian hama dengan PHT-RL juga menekan biaya penggunaan pestisida hingga 96,39 persen. “Bahkan keungtungan petani mencapai Rp 292,8 juta per hektar,” ungkapnya.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Momon Rusmono saat memberikan sambutan orasi profesor riset  berharap inovasi tersebut berpotensi menjawab tuntutan peningkatan produksi, persyaratan kualitas, keamanan pangan dan daya saing untuk menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia pada tahun 2045.

Untuk itu, kata Momon, pemerintah memberikan tantangan untuk menyusun strategi dan langkah praktis dalam implementasi dalam skala luas, terutama implementasi PHT-RL pada buah dan sayuran, untuk mewujudkan upaya kita meningkatkan nilai tambah dan daya saing buah serta sayuran dalam kerangka pasar bebas ASEAN. “Ini akan jadi acuan Ditjen Hortikultura dalam memacu pengembangan beragama komoditi hortikultura,” ujarnya.

 

 

Reporter : julian
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018