Selasa, 17 September 2019


Begini Cara Pandang Perubahan Iklim Sebagai Peluang

30 Jan 2019, 18:25 WIBEditor : Gesha

Perubahan Iklim bisa menjadi peluang untuk menghasilkan teknologi budidaya adaptif | Sumber Foto:ISTIMEWA

Perubahan iklim ekstrim tidak selalu merugikan, pada lokasi dan kondisi tertentu bahkan bisa menguntungkan,

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Perubahan iklim seringkali dimaknai sebagai ancaman yang cukup nyata dalam kehidupan sehari-hari termasuk di bidang pertanian. Padahal, di beberapa daerah perubahan iklim menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan petani.

Pada pertanian, perubahan iklim yang sangat berpengaruh adalah perubahan curah hujan. Perubahan curah hujan dapat dimaknai jumlah hari hujan (HH) yang bertambah berarti musim hujan yang semakin panjang, atau jumlah hari hujan yang pendek cenderung menyebabkan terjadinya kemarau panjang atau kelangkaan air untuk budidaya tanaman.

Dan perubahan tersebut sangat menentukan hasil produksi padi, jagung dan kedelai yang saat ini menjadi program prioritas pemerintah.

Pada kondisi musim yang normal, sebagain besar wilayah Indonesia dibagi menjadi musim penghujan yang terjadi padi bulan Oktober-Maret dan musim kemarau pada bulan April-September.

Keberaturan iklim tersebut telah menjadikan Musim Tanam (MT) dibagi menjadi musim hujan dan musim kemarau. Para petani telah menyesuaikan waktu melakukan budidaya tanaman pada kedua musim tersebut.

“Dampak perubahan iklim (kekeringan/kebanjiran) dapat  menyebabkan gagal panen serta keterlambatan tanam.  Namun perubahan iklim ekstrim tidak selalu merugikan, pada lokasi dan kondisi tertentu bahkan bisa menguntungkan,” kata Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Edy Purnawan.

Pada daerah tertentu, perubahan iklim ekstrim menyebabkan musim hujan yang panjang sedangkan musim kemarau menjadi lebih pendek dapat menjadi peluang bagi peningkatan produksi tanaman pangan.

Contohnya di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, pada kondisi iklim yang normal umumnya MT I pada November-Desember dan MT II pada akhir Mei-Juni.

Setelah memasuki fase generatif pada MT II curah hujan sudah berkurang sehingga harus dilakukan pompanisasi hingga fase pemasakan. Hal ini menyebabkan produksi padi jauh lebih rendah dari pada MT I, sementara biaya untuk pompanisasi cukup besar.

Namun sejak terjadi perubahan iklim ekstrim  yang menyebabkan musim hujan lebih panjang, areal persawahan di sekitarnya tidak menggunakan lagi pompanisasi akibat musim hujan yang lebih panjang bahkan produksinya sama atau lebih tinggi dari MT I.

Edy menjelaskan, pada musim hujan 2016/2017 lokasi yang potensi untuk padi gogo seperti Bengkulu, Kalimantan tengah mengalami panen yang cukup baik.

Penanaman padi gogo bisa lebih awal, serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) berkurang sehingga keuntungan yang lebih besar bisa diperoleh para petani.

Beberapa sentra padi gogo dan daerah tadah hujan di Riau mendapatkan panen yang baik.

Edy mengatakan, musim kemarau berkepanjangan juga sangat baik untuk daerah dengan drainase yang jelek. Program Dem Area Penanganan DPI di Kabupaten Trenggalek, telah membuktikan hal itu.

Apabila musim hujan tiba, sawah petani selalu tergenang, yang menyebabkan munculnya gejala fisiologis yang disebut dengan asem-aseman.

Kegiatan Dem Area Penanganan Dampak Perubahan Iklim (PDPI) pada lokasi rawan banjir menjadi solusi bagi kelompok tani dengan melakukan budidaya tanaman pangan melalui penggunaan varietas tahan genangan, aplikasi pembenah tanah, pemberian pupuk organik, dan penerapan teknologi adaptif sederhana seperti biopori/sarana pengaliran air.

“Hasilnya menunjukan bahwa asem aseman yang selama tiga tahun selalu menghantui para petani di Durenan Trenggalek, dengan kegiatan Dem Area PDPI menghasilkan panen  rata rata  10,5 ton/ha,” pungkasnya

Reporter : Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018