Monday, 23 May 2022


Tiga Kampung di Aceh Tamiang jadi Model Konservasi Stok Karbon Tinggi

24 Jan 2022, 11:53 WIBEditor : Gesha

Tutupan hutan Indonesia | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Tamiang --- Tiga kampung di Kabupaten Aceh Tamiang terpilih menjadi Kampung Model dalam Konservasi Area Nilai Konservasi Tinggi  - Stok Karbon Tinggi (NKT - SKT). 

Dalam melindungi kawasan hutan dan lingkungan berkelanjutan, bukan hanya menjadi tugas pemangku kepentingan saja, tapi merupakan tanggungjawab semua pihak.

Hal tersebut disampaikan Bupati Aceh Tamiang Mursil melalui Staf Ahli Bidang SDM dan Kemasyarakatan Drs. Sepriyanto pada workshop Penilaian Areal Bernilai Konservasi Tinggi dan Stok Karbon Tinggi Terintegrasi, yang diselenggarakan oleh PUPL, di Hotel Grand Arya, Karang Baru.

Penilaian pada workshop ini jelas Sepriyanto merupakan pilot project pertama di Indonesia yang melibatkan area yurisdiksi yaitu Kabupaten Aceh Tamiang sebagai kajiannya. Hal tersebut kemudian menjadikan program Konservasi Area Nilai Konservasi Tinggi - Stok Karbon Tinggi (NKT - SKT) yang terintegrasi menjadi indikator berkelanjutan suatu kawasan, khususnya areal perizinan atau konsesi.  

Tiga kampung di Kabupaten Aceh Tamiang terpilih menjadi Kampung Model dalam Konservasi Area Nilai Konservasi Tinggi  - Stok Karbon Tinggi (NKT - SKT). Saat ini tiga kampung yang terpilih, ditunjuk sebagai model, yakni Kampung Sulum, Bengkelang dan Lubuk Damar harapannya bisa mewakili semua bentang alam. 

Penetapan 3 Kampung Model tersebut didasarkan atas hasil observasi dan FGD yang menunjukkan ekosistem areal kampung memiliki spesifikasi yang khas. Dua di antaranya masuk dan menjadi bagian dari Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang merupakan Kawasan Strategis Nasional (KSN) dengan fungsi daya dukung lingkungan hidup. “Pasalnya dari sisi ekologis keberadaan KEL merupakan fakta utama yang menjadi dasar pertimbangan pentingnya penilaian NKT - SKT di Bumi Muda Sedia,” pungkasnya.

Sementara itu, Pimpinan Konsorsium Yayasan Ekosistem Leuser (YEL) M. Yakub Isadami, mengatakan workshop yang disponsori beberapa lembaga melalui Inisiatif Dagang Hijau (IDH) ini masih berfokus membangun komunikasi, koordinasi dan sinergi dengan para pemangku kepentingan serta lembaga dan masyarakat di areal kawasan guna menyusun rencana kerja. 

Pihaknya membuka diri setiap masukan konstruktif yang disampaikan untuk rencana kerja yang akan disusun nantinya. "Harapan kami dengan adanya kegiatan ini peserta dapat memberikan masukan untuk penetapan area lainnya, terutama yang berstatus sangat penting bagi negara," imbuhnya. 

Dalam kesempatan tersebut Yakub turut mengapresiasi partisipasi aktif Pemkab Aceh Tamiang melalui Satgas Pusat Unggulan Perkebunan Lestasi (PUPL), Bappeda dan dinas teknis terkait.  “Kami mengucapkan terima kasih atas pendampingan yang cukup baik, dari Bupati Aceh Tamiang melalui dinas/instansi terkait hingga kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar,” ujarnya.

Pihaknya berharap hendaknya program ini juga didukung oleh semua pelaku industri kelapa sawit di Bumi Muda Sedia. "Semoga semua pelaku industri kelapa sawit dapat berpartisipasi sehingga hasilnya bisa menjadi kontribusi positif bagi daerah,” tandasnya.

Hadir dalam workshop tersebut, para Kepala SKPK terkait, Camat Bandar Pusaka, KPH Wilayah 3, unsur masyarakat dari tiga Kampung yakni Sulum, Bengkelang dan Lubuk Damar, mitra NGO, serta tamu undangan lainnya.

Reporter : AbdA
Sumber : Humas Pemkab Aceh Tamiang
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018